Pertanyaan itu selalu
terdengar telingaku, terlontar dari mulut-mulut penuh rasa ingin tahu juga rasa
ingin bisa. Di tiap-tiap selesai berbicara di depan audience (pendengar), sebagian kawan, hadirin, ataupun lawan debat
–sewaktu perlombaan debat- juga menanyakan tentang hal yang sama, “bagaimana kamu bisa berbicara seperti itu?,
bagaimana caranya?”. Kadang jawabku tidak terlalu atau tidak tertuju
langsung ke jawaban, sering kali jawabku lebih ke bagaimana mereka menjadi diri
mereka sendiri. Lalu apa korelasi antara berbicara di depan para pendengar dan
menjadi diri sendiri.
Jawaban menjadi diri
sendiri memang terdengar tidak relevan dengar konteks pertanyaan, hanya
sebenarnya jawaban tidak selalu memerlukan embel-embel “cara berbicara itu.....”. Mengapa harus menjadi diri sendiri –agar
bisa berbicara di depan umum-?, sebab
dari diri itulah seseorang dapat menemukan alur cara hidupnya, menemukan flow (aliran) atau ciri khas bagaimana
ia mengekspresikan segala sesuatu yang ia pikirkan. Tak perlu meniru atau
berusaha menjadi seperti orang lain, ketika seseorang telah menemukan jati
diri, dengan mudahnya dia pasti bisa menirukan orang lain dan tentu saja
memiliki ciri identik dalam menyampaikan sesuatu dengan kata-kata.
Memulai segala hal
semestinya berawal dari titik nol (zero
mind prosses), memahami dan menerima diri sebagaimana apa adanya. Tidak merendahkan
diri pun juga tidak menganggap diri hebat. Hanya memahami bahwa “Inilah aku
dengan segala karunia pemberian Tuhan”. Pemahaman diri inilah yang disebut
dengan bersyukur. Merasakan nikmat kemampuan dan kelebihan diri, memahami
setiap hikmah dari kelemahan serta kekurangan.
Pertanyaanpun mulai
berkembang, dari bagaimana cara berbicara?, menjadi bagaimana cara berbicara
kepada banyak orang?, sedangkan kita tidak mungkin bisa mengetahui isi otak
tiap-tiap orang. Seperti halnya jawabku sebelumnya –tidak langsung menuju
pertanyaan-, “berbicaralah seakan kamu
melihat dirimu sebagai mereka dan melihat mereka sebagai dirimu!”. Mengetahui
setiap pikiran orang memang sangat mustahil, maka setidaknya memahami karakter dari cara berpikir orang
banyak di kala itu, menemukan titik-titik kesamaan dan juga dapat melihat
perbedaan terhadap cara berpikir mainstream
banyak orang.
Bagian di atas memang
menjadi salah satu bagian terumit bagi seorang pembicara, selain merepotkan,
seorang pembicara harus terlebih dahulu mempelajari culture (budaya) dan custom (kebiasaan)
objek bicaranya. Tentu tidak bisa kemudian seseorang datang dan bicara dengan
bahasa akademik di depan masyaakat biasa, juga sebaliknya sangat tidak etis
berbicara dengan bahasa slank (gaul)
di depan peserta seminar keilmuan.
Di saat menemukan persamaan
antara pembicara dan pedengar, sebaiknya mengangkat hal itu sebagai bahan utama
untuk membuat para pendengar tertarik dan terhibur dengan materinya. Dari hal
itu, setidaknya materi yang disampaikan dapat diterima dan langsung menjadi
landasan berpikir pendengar kala itu. Tentu hal ini tidak terlepas dari
bagaimana toleransi pembicara ketika menghadapi perbedaan pemikiran dengan
objek bicaranya. Walau sebenarnya mengangkat unsur pembeda ini adalah harus
dihindari, akan tetapi tetap hal tersebut menjadi unsur pendukung dalam
mengekspresikan pemikiran seorang pembicara.
Sebuah pelajaran
penting juga bekal bagi mereka yang berharap untuk bisa berbicara dengan baik
di depan masyarakat. Ketika berbicara, seseorang harus memahami kode etik
orator, yaitu bagaimana pembicara bukan hanya mentransfer pemikirannya, akan
tetapi ia juga harus bisa membuat pendengar berpikir hal yang serupa. Karena dalam
proses belajar, hal yang belum diketahui dan membuat bertanya-tanya akan lebih
mudah diingat, dipahami, sekaligus lebih cepat diimplementasikan. Oleh karenanya
mulai setiap hal sebaiknya dengan pertanyaan.
Bila memahami hukum kausalitas
(sebab akibat), sorang pembicara yang baik tentu tidak akan pernah ada bila ia
tidak memulai dirinya dengar mendengar, duduk di bangku pendengar dan menyimak
dengan baik. Mereka yang bisa memahami kondisi pendengar adalah pendengar itu
sendiri atau pendengar yang kini menjadi pembicara. Tentu dari situlah ia bisa
mengetahui dengan baik apa-apa saja hal yang dapat mudah diterima dan sekaligus
menyenangkan.
Terakhir, apa-apa saja
yang perlu dilakukan pembicara sebelum memulai transfer ilmu adalah persiapan,
yang dalam hal ini para akademisi edukasi menyebutnya sebagai bahan atau materi
(dalam bhs. Arab maaddah). Mempersiapkan
diri dari segi mental dan bekal sangat diwajibkan kepada setiap pembicara,
mental yang yakin bisa berbicara dengan baik, dan bekal pemahaman pendengar
serta materi. Maka bila semua hal yang saling berkaitan itu telah dimiliki
pembicara, pasti yang terjadi adalah leburan suasana antara pembicara dan
pendengar.
Fadhil Achmad Agus Bahari
Mahasiswa Fakultas Syariah
UIN MALIKI Malang
Mahasiswa Fakultas Syariah
UIN MALIKI Malang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar