Jumat, 08 September 2017

Bagaimana Caramu Berbicara?


                Pertanyaan itu selalu terdengar telingaku, terlontar dari mulut-mulut penuh rasa ingin tahu juga rasa ingin bisa. Di tiap-tiap selesai berbicara di depan audience (pendengar), sebagian kawan, hadirin, ataupun lawan debat –sewaktu perlombaan debat- juga menanyakan tentang hal yang sama, “bagaimana kamu bisa berbicara seperti itu?, bagaimana caranya?”. Kadang jawabku tidak terlalu atau tidak tertuju langsung ke jawaban, sering kali jawabku lebih ke bagaimana mereka menjadi diri mereka sendiri. Lalu apa korelasi antara berbicara di depan para pendengar dan menjadi diri sendiri.
                Jawaban menjadi diri sendiri memang terdengar tidak relevan dengar konteks pertanyaan, hanya sebenarnya jawaban tidak selalu memerlukan embel-embel “cara berbicara itu.....”. Mengapa harus menjadi diri sendiri –agar bisa berbicara di depan umum-?,  sebab dari diri itulah seseorang dapat menemukan alur cara hidupnya, menemukan flow (aliran) atau ciri khas bagaimana ia mengekspresikan segala sesuatu yang ia pikirkan. Tak perlu meniru atau berusaha menjadi seperti orang lain, ketika seseorang telah menemukan jati diri, dengan mudahnya dia pasti bisa menirukan orang lain dan tentu saja memiliki ciri identik dalam menyampaikan sesuatu dengan kata-kata.
                Memulai segala hal semestinya berawal dari titik nol (zero mind prosses), memahami dan menerima diri sebagaimana apa adanya. Tidak merendahkan diri pun juga tidak menganggap diri hebat. Hanya memahami bahwa “Inilah aku dengan segala karunia pemberian Tuhan”. Pemahaman diri inilah yang disebut dengan bersyukur. Merasakan nikmat kemampuan dan kelebihan diri, memahami setiap hikmah dari kelemahan serta kekurangan.
                Pertanyaanpun mulai berkembang, dari bagaimana cara berbicara?, menjadi bagaimana cara berbicara kepada banyak orang?, sedangkan kita tidak mungkin bisa mengetahui isi otak tiap-tiap orang. Seperti halnya jawabku sebelumnya –tidak langsung menuju pertanyaan-, “berbicaralah seakan kamu melihat dirimu sebagai mereka dan melihat mereka sebagai dirimu!”. Mengetahui setiap pikiran orang memang sangat mustahil, maka setidaknya  memahami karakter dari cara berpikir orang banyak di kala itu, menemukan titik-titik kesamaan dan juga dapat melihat perbedaan terhadap cara berpikir mainstream banyak orang.
                Bagian di atas memang menjadi salah satu bagian terumit bagi seorang pembicara, selain merepotkan, seorang pembicara harus terlebih dahulu mempelajari culture (budaya) dan custom (kebiasaan) objek bicaranya. Tentu tidak bisa kemudian seseorang datang dan bicara dengan bahasa akademik di depan masyaakat biasa, juga sebaliknya sangat tidak etis berbicara dengan bahasa slank (gaul) di depan peserta seminar keilmuan.
                Di saat menemukan persamaan antara pembicara dan pedengar, sebaiknya mengangkat hal itu sebagai bahan utama untuk membuat para pendengar tertarik dan terhibur dengan materinya. Dari hal itu, setidaknya materi yang disampaikan dapat diterima dan langsung menjadi landasan berpikir pendengar kala itu. Tentu hal ini tidak terlepas dari bagaimana toleransi pembicara ketika menghadapi perbedaan pemikiran dengan objek bicaranya. Walau sebenarnya mengangkat unsur pembeda ini adalah harus dihindari, akan tetapi tetap hal tersebut menjadi unsur pendukung dalam mengekspresikan pemikiran seorang pembicara.
                Sebuah pelajaran penting juga bekal bagi mereka yang berharap untuk bisa berbicara dengan baik di depan masyarakat. Ketika berbicara, seseorang harus memahami kode etik orator, yaitu bagaimana pembicara bukan hanya mentransfer pemikirannya, akan tetapi ia juga harus bisa membuat pendengar berpikir hal yang serupa. Karena dalam proses belajar, hal yang belum diketahui dan membuat bertanya-tanya akan lebih mudah diingat, dipahami, sekaligus lebih cepat diimplementasikan. Oleh karenanya mulai setiap hal sebaiknya dengan pertanyaan.
                Bila memahami hukum kausalitas (sebab akibat), sorang pembicara yang baik tentu tidak akan pernah ada bila ia tidak memulai dirinya dengar mendengar, duduk di bangku pendengar dan menyimak dengan baik. Mereka yang bisa memahami kondisi pendengar adalah pendengar itu sendiri atau pendengar yang kini menjadi pembicara. Tentu dari situlah ia bisa mengetahui dengan baik apa-apa saja hal yang dapat mudah diterima dan sekaligus menyenangkan.
                Terakhir, apa-apa saja yang perlu dilakukan pembicara sebelum memulai transfer ilmu adalah persiapan, yang dalam hal ini para akademisi edukasi menyebutnya sebagai bahan atau materi (dalam bhs. Arab maaddah). Mempersiapkan diri dari segi mental dan bekal sangat diwajibkan kepada setiap pembicara, mental yang yakin bisa berbicara dengan baik, dan bekal pemahaman pendengar serta materi. Maka bila semua hal yang saling berkaitan itu telah dimiliki pembicara, pasti yang terjadi adalah leburan suasana antara pembicara dan pendengar.
Fadhil Achmad Agus Bahari
Mahasiswa Fakultas Syariah
UIN MALIKI Malang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar