Minggu, 10 September 2017

Kontrol Diri Kunci Keberhasilan Pribadi

                Menjamah lebih dalam sanubari hati insan, kontrol diri menjadi kunci keberhasilan pribadi, dalam lini pribadi atau sosial, akademik maupun artistik. Sebagai titik tolak keberhasilan, kematangan pribadi menempati posisi terpenting dalam menahkodai arah perjalanan hidup. Tentu dalam hal ini, pencapaian kematangan diri memerlukan pendalaman terhadap proses perjalanan, pelatihan, serta kontinuitas dalam pengembangan diri.
                Setiap insan mewarisi karunia tuhan (potensi dari orang tua), kelebihan-kelebihan yang ternyata menjadi patokan bagaimana mereka menentukan tujuan hidup dalam bermasyarakat. Misalnya, Aurel memiliki suara yang bagus, sehingga tidak heran pada saat dia menginjak umur belasan, suaranya telah didengar pecinta musik se-Indonesia. Tentu saja semua orang akan berpresepsi bahwa suatu saat dia akan menjadi seperti ayahnya, Anang Hermansyah. Potensi-potensi inilah yang menjadi tonggak arah masa depan bagaimana seorang akan menjadi.
                Apapun potensinya, bilamana pemiliknya tetap mengembangkan dan melatihnya tiap waktu, tentu potensi itu akan menjadi kemampuan, mengganti istilah pemilik menjadi ahli. Jatuh bangun dalam proses pelatihan nantinya menjadi bahan pelajaran berguna bagi dirinya dan orang lain yang memiliki keinginan serupa. Dan adalah hal yang tidak mungkin ditemui insan yang enggan mengembangkan potensinya, hanya terpaku dengan hal itu, dan tidak merasa bahwa potensi masihlah potensi, dan belum menjadi kemampuan. Maka gelar ahli tidak akan dimilikinya, kecuali hanya sekedar pemilik potensi.
                Tetap dalam proses pengembangan diri, insan yang hanya fokus terhadap hasil, tanpa memerdulikan hikmah proses, akan menjadikan dia sebagai manusia arogan dengan kemampuannya, baik dari luar dan buruk dari dalam. Karena ia tidak memiliki bekal terpenting dalam bermasyarakat, yaitu hikmah kehidupan. Walau sebenarnya kemampuannya cukup memberikan sumbangsih kepada masyarakat. Akan tetapi cara  mengekspresikan kemampuan itulah yang nantinya dilihat dan dipertimbangkan. Cara berekspresi ini kadang disebut dengan sikap (attitude).
                Kini beranjak bagaimana seorang ahli –dalam bidang tertentu- dapat mengontrol diri, dapat membaca diri kapan harus menunjukkan atau menahan kemampuannya. Tanpa menafikan realita bahwa seorang ahli cenderung spontanitas –tanpa melalui pertimbangan yang matang-  mengeluarkan kemampuannya ketika menghadapi suasana tertentu.  Akan tetapi tetap bahwa kontrol –kemampuan diri- menjadi hal yang tidak bisa diacuhkan. Sebab tidak di segala situasi kita dapat menunjukkan kemampuan kita, ada kalanya kita harus mengetahui bahwa orang lain pada saat itu tidak dalam kondisi baik (dalam menerima suatu hal). Tidak hanya bagaimana kita bisa melihat kondisi orang lain, tentu saja dari dalam diri, kita harus mengerti kondisi emosional, apakah dalam keadaan baik atau buruk.
                Seorang ahli –dalam bidang tertentu- paham dengan pasti, bahwa pandangan yang baik dari masyarakat adalah salah satu pintu keberhasilan. Bilamana masyarakat terlanjur berpandangan negatif –melihat kita sebagai orang yang arogan-, boleh jadi mereka mengakui kemampuan dan keahlian kita, akan tetapi mereka sulit untuk menghargai kita sebagai manusia sosial. Lebih jauh lagi pengkuan terhadap keahlian kita hanya akan berhenti sampai pengakuan, tidak akan pernah mereka bersepakat untuk menjadikan kita sebagai duta mereka.
                Oleh karenanya, kerendahan diri adalah kunci untuk mengatasi masalah ini, merasa lemah –bukan berarti tidak mengakui kemampuan diri- akan kekurangan. Setidaknya ia memiliki sikap yang baik dalam besosial masyarakat. Dan hal ini akan menjadikan seseorang bisa menahan dirinya untuk tidak sembrono menunjukkan kemampuannya. Maka, pada intinya rasa rendah diri menetukan keberhasilan pribadi.

              Fadhil Achmad Agus Bahari
Mahasiswa Fakultas Syariah
UIN MALIKI MALANG

Tidak ada komentar:

Posting Komentar