Menjamah lebih dalam
sanubari hati insan, kontrol diri menjadi kunci keberhasilan pribadi, dalam
lini pribadi atau sosial, akademik maupun artistik. Sebagai titik tolak
keberhasilan, kematangan pribadi menempati posisi terpenting dalam menahkodai
arah perjalanan hidup. Tentu dalam hal ini, pencapaian kematangan diri
memerlukan pendalaman terhadap proses perjalanan, pelatihan, serta kontinuitas dalam
pengembangan diri.
Setiap insan mewarisi
karunia tuhan (potensi dari orang tua), kelebihan-kelebihan yang ternyata
menjadi patokan bagaimana mereka menentukan tujuan hidup dalam bermasyarakat.
Misalnya, Aurel memiliki suara yang bagus, sehingga tidak heran pada saat dia
menginjak umur belasan, suaranya telah didengar pecinta musik se-Indonesia.
Tentu saja semua orang akan berpresepsi bahwa suatu saat dia akan menjadi
seperti ayahnya, Anang Hermansyah. Potensi-potensi inilah yang menjadi tonggak
arah masa depan bagaimana seorang akan menjadi.
Apapun potensinya,
bilamana pemiliknya tetap mengembangkan dan melatihnya tiap waktu, tentu
potensi itu akan menjadi kemampuan, mengganti istilah pemilik menjadi ahli.
Jatuh bangun dalam proses pelatihan nantinya menjadi bahan pelajaran berguna bagi dirinya dan
orang lain yang memiliki keinginan serupa. Dan adalah hal yang tidak mungkin
ditemui insan yang enggan mengembangkan potensinya, hanya terpaku dengan hal itu, dan tidak merasa bahwa potensi masihlah potensi, dan
belum menjadi kemampuan. Maka gelar ahli tidak akan dimilikinya, kecuali hanya
sekedar pemilik potensi.
Tetap dalam proses
pengembangan diri, insan yang hanya fokus terhadap hasil, tanpa memerdulikan
hikmah proses, akan menjadikan dia sebagai manusia arogan dengan kemampuannya,
baik dari luar dan buruk dari dalam. Karena ia tidak memiliki bekal terpenting dalam
bermasyarakat, yaitu hikmah kehidupan. Walau sebenarnya
kemampuannya cukup memberikan sumbangsih kepada masyarakat. Akan tetapi
cara mengekspresikan kemampuan itulah
yang nantinya dilihat dan dipertimbangkan. Cara berekspresi ini kadang disebut
dengan sikap (attitude).
Kini beranjak bagaimana seorang ahli –dalam bidang
tertentu- dapat mengontrol diri, dapat membaca diri kapan harus menunjukkan
atau menahan kemampuannya. Tanpa menafikan realita bahwa seorang ahli cenderung
spontanitas –tanpa melalui pertimbangan yang matang-
mengeluarkan kemampuannya ketika menghadapi suasana tertentu. Akan tetapi tetap bahwa kontrol –kemampuan
diri- menjadi
hal yang tidak bisa diacuhkan. Sebab tidak di segala situasi kita dapat
menunjukkan kemampuan kita, ada kalanya kita harus mengetahui bahwa orang lain
pada saat itu tidak dalam kondisi baik (dalam menerima suatu hal). Tidak hanya
bagaimana kita bisa melihat kondisi orang lain, tentu saja dari dalam diri,
kita harus mengerti kondisi emosional, apakah dalam keadaan baik atau buruk.
Seorang ahli –dalam
bidang tertentu- paham dengan pasti, bahwa pandangan yang baik dari masyarakat adalah
salah satu pintu keberhasilan. Bilamana masyarakat terlanjur berpandangan
negatif –melihat kita sebagai orang yang arogan-, boleh jadi mereka mengakui
kemampuan dan keahlian kita, akan tetapi mereka sulit untuk menghargai kita
sebagai manusia sosial. Lebih jauh lagi pengkuan terhadap keahlian kita hanya
akan berhenti sampai pengakuan, tidak akan pernah mereka bersepakat untuk
menjadikan kita sebagai duta mereka.
Oleh karenanya,
kerendahan diri adalah kunci untuk mengatasi masalah ini, merasa lemah –bukan
berarti tidak mengakui kemampuan diri- akan kekurangan. Setidaknya ia memiliki
sikap yang baik dalam besosial masyarakat. Dan hal ini akan menjadikan seseorang bisa menahan dirinya
untuk tidak sembrono menunjukkan kemampuannya. Maka, pada intinya rasa rendah diri menetukan keberhasilan pribadi.
Fadhil Achmad Agus Bahari
Mahasiswa Fakultas Syariah
UIN MALIKI MALANG
UIN MALIKI MALANG

Tidak ada komentar:
Posting Komentar