Selasa, 03 Desember 2019

The Series #1 How To Be a Good Parent


Mendengar bukan untuk menjawab, tapi untuk memahami!
check this picture on @fadhilachmadfaab

             Judul ini aku ambil sebatas ingin mengingatkan kepada semua calon orang tua, kalian semua kawan, belajarlah menjadi kawan pendengar yang baik, menemani setiap langkah kehidupan putra-putrinya, sehingga kita dapat mendampingi setiap detik kehidupan mereka.
            Tentu tidak semudah digaungkan, ajakan untuk belajar menjadi pendengar yang baik tidak semudah isapan jempol, berbeda dengan mendengar lagu atau menyimak film, mendengarkan orang bercerita, kadang membuat kita merasa gemes untuk menanggapinya, betulkan!?. Untuk beberapa orang yang sudah punya kemampuan ini, berbahagialah, kalian tinggal mengembangkannya dan melengkapinya dengan kemampuan memberi solusi.
            Sejauh yang pernah aku rasakan, faktor terbesar yang buat kita gak bisa menahan untuk menanggapi itu adalah saat kita merasa tau kondisi seeorang, merasa tau solusi terbaik untuk dia dan parahnya merasa bahwa dia dalam kondisi yang salah, padahal merasa-merasa itu sejatinya adalah subjektif kita dalam menilai, tentu tidak selamanya memiliki kepastian dan tidak selamanya benar.
            Mari kita merenungi masa pertumbuhan manusia, mulai dari perut hingga besar seperti sekarang. Pernahkah teman-teman memahami mengapa di awal masa kecil kita bibir tak bisa berbicara, mata bahkan tak melihat, hanya gelapnya dunia rahim dan suara dari luar yang kita rekam. Saat kita beranjak menjadi bayi, dalam bopongan orang tua, yang banyak aktif adalah pendengaran kita, bibir masih bersuara tapi tak dapat dipahami, bisanya hanya menangis dan meronta-ronta.
            Kedua masa tadi setidaknya memberikan kita satu pelajaran bahwa, manusia pun ketika hendak memulai kehidupan sebenarnya, harus melewati masa-masa mendengar, harus banyak menyimak, harus menggunakan pendengarannya untuk memulai memahami, bukan sekedar mendengar lantas berbicara. Bayi mendengar dalam rangka untuk memahami apa yang orang lain katakan, lantas kemudian bisa berbicara.
            Sama halnya dengan bayi, kita sebagai calon orang tua, harus bisa memahami apa yang disampaikan atau ceritakan sama anak kita, tidak sekedar kita menilai dan memberi nasehat, akan tetapi memahami kondisi dan apa yang tengah dirasakannya. Intinya adalah mendengar itu bukan untuk menanggapi, tetapi mendengar untuk memahami.
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar