Mendengar bukan untuk menjawab, tapi untuk memahami!
![]() |
| check this picture on @fadhilachmadfaab |
Judul ini aku ambil sebatas ingin mengingatkan
kepada semua calon orang tua, kalian semua kawan, belajarlah menjadi kawan
pendengar yang baik, menemani setiap langkah kehidupan putra-putrinya, sehingga
kita dapat mendampingi setiap detik kehidupan mereka.
Tentu tidak semudah digaungkan,
ajakan untuk belajar menjadi pendengar yang baik tidak semudah isapan jempol,
berbeda dengan mendengar lagu atau menyimak film, mendengarkan orang bercerita,
kadang membuat kita merasa gemes untuk menanggapinya, betulkan!?. Untuk
beberapa orang yang sudah punya kemampuan ini, berbahagialah, kalian tinggal
mengembangkannya dan melengkapinya dengan kemampuan memberi solusi.
Sejauh yang pernah aku rasakan,
faktor terbesar yang buat kita gak bisa menahan untuk menanggapi itu adalah
saat kita merasa tau kondisi seeorang, merasa tau solusi terbaik untuk dia dan
parahnya merasa bahwa dia dalam kondisi yang salah, padahal merasa-merasa itu
sejatinya adalah subjektif kita dalam menilai, tentu tidak selamanya memiliki
kepastian dan tidak selamanya benar.
Mari kita merenungi masa pertumbuhan
manusia, mulai dari perut hingga besar seperti sekarang. Pernahkah teman-teman
memahami mengapa di awal masa kecil kita bibir tak bisa berbicara, mata bahkan
tak melihat, hanya gelapnya dunia rahim dan suara dari luar yang kita rekam.
Saat kita beranjak menjadi bayi, dalam bopongan orang tua, yang banyak aktif
adalah pendengaran kita, bibir masih bersuara tapi tak dapat dipahami, bisanya
hanya menangis dan meronta-ronta.
Kedua masa tadi setidaknya
memberikan kita satu pelajaran bahwa, manusia pun ketika hendak memulai
kehidupan sebenarnya, harus melewati masa-masa mendengar, harus banyak menyimak,
harus menggunakan pendengarannya untuk memulai memahami, bukan sekedar
mendengar lantas berbicara. Bayi mendengar dalam rangka untuk memahami apa yang
orang lain katakan, lantas kemudian bisa berbicara.
Sama halnya dengan bayi, kita
sebagai calon orang tua, harus bisa memahami apa yang disampaikan atau
ceritakan sama anak kita, tidak sekedar kita menilai dan memberi nasehat, akan
tetapi memahami kondisi dan apa yang tengah dirasakannya. Intinya adalah mendengar
itu bukan untuk menanggapi, tetapi mendengar untuk memahami.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar