Melihat Indonesia kini
dari berbagai aspek, tak dapat dikatakan bahwa Indonesia telah dalam keadaan
damai, berbagai masalah yang terus-menerus muncul seakan tak ada hentinya
menggeruskan dinding pertahanan ideologi bangsa yang hari demi hari kian
menipis. Memang benar perkataan Soekarno bahwa musuh terberat adalah negeri
sendiri, musuh tak nampak tertutupi selimut jabatan bagai rayap putih mungil
yang menggerogoti fondasi bangsa. Pancasila yang kini tidak lagi berpanca
karena ternodai praktik-praktik tak berketuhanan.
Ketuhanan Yang
Maha Esa, mungkin hanya sila yang dibaca tanpa pemahaman filosofi, kita
sendiri mungkin mengiranya hanya sebatas perihal keagamaan semata, pada
kenyataannya, agama sering kali dibawa-bawa ke ranah politik sebagai alat
menarik pendukung. Tuhan yang biasanya terpenjara di tempat ibadah atau mimbar
penceramah kini dipaksa ikut berkampanye. Istilah-istilah agama digunakan bukan
lagi untuk mengajak umat mendekat diri ke rumah-Nya untuk berserah diri, tapi
umat diajak ke rumah-Nya untuk berserah suara memilih politikus berkepentingan
partai.
Dimana esensi
ketuhanan sekarang?, dikala berbagai kasus penggelapan uang rakyat, tindakan
pelicin yang merusak keadilan, ditambah lagi kelakuan generasi muda yang
individual nan hedonis, menjadi bukti bahwa posisi tuhan sekarang bukan lagi di
dada Sang Garuda (Pancasila). Bangsa ini sudah lama kehilangan tuhan, bukan
tuhan yang pergi tapi rakyat ini yang tidak menganggap-Nya saja.
Agama memang
satu-satunya harapan yang mengarahkan kembali bangsa ini kepada kodisi semula,
kondisi pasca kemerdekaan. Dimana semua kalangan masyarakat kala itu bahu
membahu menguatkan fondasi negara dengan tujuan sama. Istilah islam populer
yang digunakan pada saat itu adalah baldatu tayyibatun warabbun ghofur. Sebuah
negara yang damai dengan prospek keridlaan Tuhan.
Kembali lagi kepada
kenyataan bahwa bangsa ini jatuh dalam lubang materialisme, meraih kekayaan dan
kemakmuran semata tanpa berupaya menjadikan masyarakat berketuhanan. Tugas
ketuhanan hanya diemban oleh segelintir orang saja, penceramah, ulama’, guru
ngaji dan pemuka agama lainnya. Sedangkan penjabat hanya berpikir tentang
undang-undang –yang menguntungkan kalangan mereka-, sekalipun ada yang
benar-benar berhati mulia mensejahterakan rakyat, tetap tidak menjadikan mereka
sendiri bertuhan.
Tugas kemanusiaan memang salah satu tugas yang
diamanahkan tuhan, dan tidak semua orang benar-benar mendalami disiplin ilmu
ketuhanan. Hanya tujuan utama kemanusiaan adalah menjadikan manusia hidup damai
dalam keberserahan diri kepada tuhan. Baik penjabat ataupun penceramah,
keduanya bergerak di medan mereka masing-masing, tapi tetaplah selayaknya
sebagai pemimpin dan wakil rakyat, integrasi negara dan agama adalah penting,
karena agama dan Indonesia sebuah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
Kebijakan negara yang terpisah dari agama, bukan berarti
menjadikan negara ini sebagai negara
tidak bertuhan. Hanya istilah-istilah agama yang dihindari ataupun hukum agama
sekalipun. Tuhan tetaplah pada
posisinya, yaitu sebagai tujuan utama bangsa ini bersatu bersejahtera. Jangan lagi
memenjara tuhan di tempat ibadah atau mimbar penceramah, juga tidak menjadikan
tuhan sebagai kedok kampanye politik. Sudah seharusnya kita menempatkan-Nya di
segala aspek kehidupan, sebagai kesaksian bahwa bangsa ini adalah bangsa yang
bertuhan dan mengesakan-Nya.
Fadhiil Achmad Agus Bahari
Mahasiswa Fakultas Syariah
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Terkait masalah pejabat memang panjang ceritanya. Mengubah kebudayaan masyarakat yg sedikit peka akan masalah negara membuat segalanya menjadi terlihat biasa. Berbagai macam peraturan di buat berbagai macam pula pelanggaran yg dibuat oleh si pembuat praturan itu sendiri. Menanamkan kpribadian insan pada masyrakat banyak memang cukup sulit.
BalasHapusHarus mulai dari diri sendiri
Hapus