Rabu, 11 Desember 2019

Shalahuddin Al-Ayyubi



            Setiap teladan yang tercermin dari sosok Nabi Muhammad Saw selalu menjadi inspirasi setiap generasi setelahnya, menjadi motivasi penyemangat manusia untuk melakukan perubahan. Bukan hanya terkenang dibenak umat islam sendiri, akan tetapi terekam dalam hati umat non-muslim. Hal itulah yang menginspirasi pemimpin pasukan islam ketika berhasil menaklukkan Yerussalem.
            Perang Salib menjadi satu bab besar yang menentukan arah dunia saat ini, perang yang tiada henti itu –berabad-abad lamanya- mengisahkan kisah pilu ketika kota suci Yerusslem berhasil diinvasi oleh pasukan salib. Menyisakan coretan tinta di atas kertas sejarah tentang bagaimana kejamnya pasukan salib, setiap manusia yang masih berkepala mereka penggal, setiap bayi yang menangis mereka bungkam dengan tajamnya pedang, setiap wanita yang berlari mereka jegal dengan tusukan tombak, hingga manusia yang bersembunyi ataupun memanjat tingginya atap kuil sulaiman jatuh lantaran tertancap lontaran anak panah. Di balik tembok itu tersisa kisah memilukan saat darah manusia membanjiri kota suci.
            100 tahun setelah pembantaian di kota suci, sejarah tak hilang begitu saja, kisah yang membuat bulu kuduk merinding tersebut tentunya terbekas di hati umat islam. Bagaimana tidak, ratusan ribu nyawa terkorbankan lantaran keganasan pasukan salib kala itu. Namun ada seorang pemimpin yang tak hanya diam berpangku tangan, dia adalah Shalahuddin Al-Ayyubi. Kala itu beliau mencoba menyatukan umat islam yang sedang berpecah belah, mengajak umat untuk menjadikan visi pembebasan Yerussalem sebagai visi utama mereka dan mengabaikan kepentingan duniawi.
            Tibalah hari di mana penaklukkan kota suci dari tangan penjajah, ketika dua pasukan telah berhadapan dan pemimpin masing-masing pasukan, Shalahuddin Al-Ayyubi dan King Baldwin memulai negoisasi terakhirnya. Tidak mendapat hasil selain mengangkat senjata dan saling menodongkan ujung tombak ke muka, maka perang pun dimulai.
            Sejarah tidak bisa dipungkiri kebenarannya, Yerussalem berhasil dibebaskan dari tangan pasukan salib dan mengusir mereka dari tanah suci itu. Namun tinta yang tergores di atas kertas sejarah mengisahkan sikap heroik penuh nilai kemanusiaan. Tidak ada darah penduduk –kristen- tertetas dari hunusan pedang pasukan muslim, mereka aman di bawah perisai besi dan tentram di balik tembok kota suci. Kisah itulah yang menginspirasi banyak penduduk kristen masuk agama Islam.
            Richard The Lion Heart sebagai raja Inggris kala itu pun berkata bahwa kota suci Yerussalem dirasanya akan lebih baik ketika di bawah kekuasaan orang islam, karena ketika Yerussalem berada di bawah kekuasaan Kristen, kota suci akan cenderung menjadi komoditas ekonomi. Berbeda dengan umat islam yang murni menjadikan kota ini sebagai kota yang memiliki nilai historis yang perlu dilindungi dan nilai keagamaan yang tinggi.
Alih-alih ingin menatuhkan kota suci kembali, pasukan salib tak kuasa melawan presepsi kaumnya sendiri yang telah jatuh hati dengan perlakuan umat muslim. Maka sejarah tetap mencatat kota suci Yerussalem senantiasa dalam kedamaian hingga abad 20. Meskipun Yerussalem berpindah-pindah kekuasaannya, dari dinasti ke dinasti, kota ini tetap eksis membawahi tiga penduduk agama yang berbeda. Islam, Kristen, maupun Yahudi saling berkomunikasi tanpa ada ancaman.
Abad 20 menjadi saksi ketika orang-orang yahudi yang terusir diterima oleh umat islam kembali di kota suci. Dianggap sebagai saudara, orang-orang yahudi disambut dengan tangan terbuka oleh umat islam. Atas nama kemanusiaan dan persaudaraan, umat islam rela membantu saudara mereka. Akan tetapi sejalannya waktu, umat islam harus menerima sikap semena-mena lagi dari orang non-muslim. Sampai saat ini pun umat islam masih dalam jajahan tamu mereka sendiri.
Masih teringat kisah Khalifah Umar ra ketika berkunjung ke kota suci Yerussalem. Sebagai pemimpin umat islam, para rahib dan pembesar Yerussalem berpikir tentang besarnya kekuatan islam pada saat itu, terbayang dalam benak mereka semua seorang raja berbaju mewah berhiaskan sutra. Namun apa yang mereka saksikan malah sebaliknya, baju yang penuh dengan tambalan itu dipakai seorang pemimpin besar umat islam. Apa hal ini tidak mempermalukan islam?, tanya pengawalnya, namun bagi Khalifah Umar ra kemuliaan itu bukan dipakaian, akan tetapi di hati.
Khalifah Umar versi lawas adalah seorang parlente dengan segenggam prestasi jahiliyahnya. Terkenal sebagai pegulat tak terkalahkan dan ditakuti oleh semua orang pada masa itu, namun ia harus tersungkur nan tertunduk di bawah indahnya kalam ilahi. Bagaimana pun hal itu tak lepas dari betapa Nabi Muhammad Saw berdoa kepada Allah meminta agar salah satu dari dua orang yang paling memusuhinya mendapat hidayah.
            Nilai-nilai yang tercemin dari sejarah tersebut telah memberikan satu bukti konkret bahwa peletak batu pertama agama ini adalah manusia yang luar biasa. Nabi Muhammad Saw bukanlah sosok yang berang-angan tinggi, tapi beliau adalah sosok yang berbuat dengan langkah pasti. Memberi contoh teladan yang baik, dan juga mencetak generasi emas yang kelak akan menyebarkan nilai kedamaian yang dimiliki agama Islam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar