Setiap
teladan yang tercermin dari sosok Nabi Muhammad Saw selalu menjadi inspirasi
setiap generasi setelahnya, menjadi motivasi penyemangat manusia untuk
melakukan perubahan. Bukan hanya terkenang dibenak umat islam sendiri, akan
tetapi terekam dalam hati umat non-muslim. Hal itulah yang menginspirasi
pemimpin pasukan islam ketika berhasil menaklukkan Yerussalem.
Perang
Salib menjadi satu bab besar yang menentukan arah dunia saat ini, perang yang
tiada henti itu –berabad-abad lamanya- mengisahkan kisah pilu ketika kota suci
Yerusslem berhasil diinvasi oleh pasukan salib. Menyisakan coretan tinta di
atas kertas sejarah tentang bagaimana kejamnya pasukan salib, setiap manusia
yang masih berkepala mereka penggal, setiap bayi yang menangis mereka bungkam
dengan tajamnya pedang, setiap wanita yang berlari mereka jegal dengan tusukan
tombak, hingga manusia yang bersembunyi ataupun memanjat tingginya atap kuil
sulaiman jatuh lantaran tertancap lontaran anak panah. Di balik tembok itu
tersisa kisah memilukan saat darah manusia membanjiri kota suci.
100
tahun setelah pembantaian di kota suci, sejarah tak hilang begitu saja, kisah
yang membuat bulu kuduk merinding tersebut tentunya terbekas di hati umat
islam. Bagaimana tidak, ratusan ribu nyawa terkorbankan lantaran keganasan
pasukan salib kala itu. Namun ada seorang pemimpin yang tak hanya diam
berpangku tangan, dia adalah Shalahuddin Al-Ayyubi. Kala itu beliau mencoba
menyatukan umat islam yang sedang berpecah belah, mengajak umat untuk
menjadikan visi pembebasan Yerussalem sebagai visi utama mereka dan mengabaikan
kepentingan duniawi.
Tibalah
hari di mana penaklukkan kota suci dari tangan penjajah, ketika dua pasukan
telah berhadapan dan pemimpin masing-masing pasukan, Shalahuddin Al-Ayyubi dan King Baldwin memulai negoisasi terakhirnya. Tidak mendapat hasil selain mengangkat
senjata dan saling menodongkan ujung tombak ke muka, maka perang pun dimulai.
Sejarah
tidak bisa dipungkiri kebenarannya, Yerussalem berhasil dibebaskan dari tangan
pasukan salib dan mengusir mereka dari tanah suci itu. Namun tinta yang
tergores di atas kertas sejarah mengisahkan sikap heroik penuh nilai
kemanusiaan. Tidak ada darah penduduk –kristen- tertetas dari hunusan pedang
pasukan muslim, mereka aman di bawah perisai besi dan tentram di balik tembok
kota suci. Kisah itulah yang menginspirasi banyak penduduk kristen masuk agama
Islam.
Richard
The Lion Heart sebagai raja Inggris kala itu pun berkata bahwa kota suci
Yerussalem dirasanya akan lebih baik ketika di bawah kekuasaan orang islam,
karena ketika Yerussalem berada di bawah kekuasaan Kristen, kota suci akan
cenderung menjadi komoditas ekonomi. Berbeda dengan umat islam yang murni
menjadikan kota ini sebagai kota yang memiliki nilai historis yang perlu
dilindungi dan nilai keagamaan yang tinggi.
Alih-alih ingin menatuhkan kota suci kembali, pasukan
salib tak kuasa melawan presepsi kaumnya sendiri yang telah jatuh hati dengan
perlakuan umat muslim. Maka sejarah tetap mencatat kota suci Yerussalem
senantiasa dalam kedamaian hingga abad 20. Meskipun Yerussalem berpindah-pindah
kekuasaannya, dari dinasti ke dinasti, kota ini tetap eksis membawahi tiga
penduduk agama yang berbeda. Islam, Kristen, maupun Yahudi saling berkomunikasi
tanpa ada ancaman.
Abad 20 menjadi saksi ketika orang-orang yahudi yang
terusir diterima oleh umat islam kembali di kota suci. Dianggap sebagai
saudara, orang-orang yahudi disambut dengan tangan terbuka oleh umat islam.
Atas nama kemanusiaan dan persaudaraan, umat islam rela membantu saudara
mereka. Akan tetapi sejalannya waktu, umat islam harus menerima sikap
semena-mena lagi dari orang non-muslim. Sampai saat ini pun umat islam masih
dalam jajahan tamu mereka sendiri.
Masih teringat kisah Khalifah Umar ra ketika berkunjung
ke kota suci Yerussalem. Sebagai pemimpin umat islam, para rahib dan pembesar
Yerussalem berpikir tentang besarnya kekuatan islam pada saat itu, terbayang
dalam benak mereka semua seorang raja berbaju mewah berhiaskan sutra. Namun apa
yang mereka saksikan malah sebaliknya, baju yang penuh dengan tambalan itu
dipakai seorang pemimpin besar umat islam. Apa hal ini tidak mempermalukan
islam?, tanya pengawalnya, namun bagi Khalifah Umar ra kemuliaan itu bukan
dipakaian, akan tetapi di hati.
Khalifah Umar versi lawas adalah seorang parlente dengan
segenggam prestasi jahiliyahnya. Terkenal sebagai pegulat tak terkalahkan dan
ditakuti oleh semua orang pada masa itu, namun ia harus tersungkur nan
tertunduk di bawah indahnya kalam ilahi. Bagaimana pun hal itu tak lepas dari
betapa Nabi Muhammad Saw berdoa kepada Allah meminta agar salah satu dari dua
orang yang paling memusuhinya mendapat hidayah.
Nilai-nilai yang tercemin dari sejarah
tersebut telah memberikan satu bukti konkret bahwa peletak batu pertama agama
ini adalah manusia yang luar biasa. Nabi Muhammad Saw bukanlah sosok yang berang-angan
tinggi, tapi beliau adalah sosok yang berbuat dengan langkah pasti. Memberi
contoh teladan yang baik, dan juga mencetak generasi emas yang kelak akan
menyebarkan nilai kedamaian yang dimiliki agama Islam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar