Pendekatan
Pancasila melalui tiga kecerdasan manusia –Emosional, Spiritual, dan Intlektual-
dapat menemukan titik temu permasalahan yang tengah terjadi di NKRI. Kasus korupsi
yang kini semakin gencar diberitakan, aksi tidak bermoral pelajar tingkat
tinggi yang tidak mencerminkan sikap seorang berpendidikan, dan juga pengusaha
yang hanya mementingkan isi tebal dompet. Carut marut tiada henti dari era
sosialis hingga neo-liberalis, berbagai tragedi kemanusiaan yang terus terjadi
karena lunturnya ke-Pancasilaan di hati rakyat Indonesia.
ESIQ
Pancasila mengajarkan bagaimana hidup berbhineka, hidup berdampingan dalam
perbedaan, hidup harmonis dengan latar belakang berbeda. Dengan memahami makna
butir per butir kelima sila, aplikasi dan pendalaman filosofi kebangsaan yang
sejatinya telah tertuang dalam kelima butir sila. ESIQ Pancasila tidak hanya
berkenaan dengan pengetahuan semata, lebih dari pada itu, ESIQ Pancasila
memberikan solusi dasar mengenai seluruh permasalahan sosial di tengah rakyat.
Ketuhanan Yang Maha Esa, adalah penopang terpenting eksistensi Indonesia sebagai
negara beragama –bukan negara agama, keberagaman beragama di negeri ini
disatukan dengan kalimat pada sila pertama. Nilai-nilai religius nan spiritual
dituangankan melalui kegiatan-kegiatan keruhanian masing-masing agama. Penopang
ruhani ini menjamin bangsa melangkah mulus menuju sila-sila selanjutnya.
Kemanusiaan yang adil dan
beradab, adalah identitas rakyat Indonesia sebagai masyarakat timur
yang beradab. Hal ini bisa dijumpai di kehidupan bermasyarakat Indonesia. Adab
sopan santun yang dijunjung tinggi dan menjadi nilai utama seseorang dinilai
baik secara sosial oleh masyarakat. Adapun keadilan sendiri adalah tercermin
dalam aplikasi keberadaban masyarakat Indonesia, dimana antara satu sama lain
saling menghormati. Nilai-nilai kemanusiaan tidak dipandang melalui status
sosial belaka, akan tetapi juga dinilai dari adab sopan santun.
Persatuan Indonesia,
berbhineka berarti berpancasila, berbeda-beda tapi tetap satu tujuan, yaitu
persatuan. Latar belakang budaya yang berbeda, bahasa, etnis, dan agama, dapat
bersatu padu. Dengan satu Ideologi –yang relevan dengan masing-masing latar
belakang- rakyat Indonesia bersatu di atas nama ibu pertiwi, Nusantara. Tentu
kesuksesan persatuan ini tidak akan terwujud bila tidak melalui kedua butir
Pancasila sebelumnya.
Kerakyatan yang dipimpin
oleh hikmat kebijaksanaan, tak akan terwujud bila aplikasinya tidak
melalui permusyawaratan perwakilan. Segala bentuk kepentingan
bangsa yang muaranya adalah kesejahteraan rakyat harus melalui musyawarah.
Kesepakatan bersama yang nantinya disetujui seluruh ataupun sebagian besar
masyarakat, adalah salah satu bentuk keadilan. Tentu nilai kebijaksanaan muncul
berdasarkan pemahaman akan kepentingan bersama –dalam berbangsa-.
Keadilan sosial bagi
seluruh rakyat Indonesia, menjadi nyata setelah mengaplikasikan empat
butir Pancasila. Sekte atau dikotomi sosial luntur sebab segenap masyarakat
NKRI meraih kepentingan pribadi berdasarkan cita-cita bangsa, yaitu persatuan.
Bagaimana nantinya bangsa dapat bersatu bila tiap orang hanya mementingkan diri
tanpa peduli dengan nilai kemanusiaan. Rasa sosial bukan lagi hal penting jika
pandangan masyarakat sempit dengan kepentingan pribadi.
Tantangan demi tantangan yang kini dihadapi bangsa
Indonesia, menghadirkan spekulasi akan keretakan rakyat dalam berideologi,
khususnya para pemuda. Hidup dalam budaya hedon dan individual membutakan mata
kesadaran mereka akan pentingnya hidup ber-Pancasila. Hal ini tentu menjadi
salah satu bentuk kekhawatiran pemerhati bangsa. Para pakar bangsa bersatu padu
memikirkan degradasi moral, yang ternyata tidak hanya dialami pemuda, aparatur
sipir negara pun tak kalah gencarnya menggerogoti kekayaan rakyat.
Tentu semua masalah tersebut
banyak menimbulkan kecacatan sosial, anarkisme, premanisme, kriminalisme, dan
masih setumpuk cucian kotor masyarakat. Kondisi ini semakin diperkeruh dengan
hadirnya sekelompok masa yang mengatasnamakan dirinya dengan pembaharu. Misi
mereka untuk me-reset ulang tatanan bangsa, bahkan sampai merubah
Pancasila sebagai ideologi.
Para pemerhati tak ada hentinya
menggali masalah ini dari berbagai aspek, ekonomi, moral, politik, hingga
agama. Bilamana membahas segala hal yang ada, dengan sekian banyak masalah yang
timbul, tentu akan tiada ujungnya. Oleh karenanya, dalam menyelesaikan hal ini
perlu menemukan pola masalah, menemukan hakikat Pancasila melalui pendalaman
butir per butir Pancasila.
Melihat bagaimana banyaknya
tragedi kelam aparatur negara yang melumat habis kekayaan rakyat dengan praktik
korupsinya, pengusaha menggunakan statusnya untuk merampas habis kekayaan alam
Indonesia tanpa mau turut memberi rasa kepada orang lain, juga pendidik dan
pelajar pun ikut-ikutan hanyut dalam hedonisme, menggambarkan bagaimana
kurangnya nilai keruhanian dalam diri mereka. Bukankah mereka adalah orang
berpendidikan, bukankah mereka juga orang sosial –dengan bukti kesuksesan
mereka dalam menjalin banyak relasi-. Namun mereka tengah mengalami kekosongan
batin, ruhani kering tidak ada kesegaran di dalamnya.
Nilai keruhanian yang hilang di
antara masyarakat Indonesia ini bukan semerta-merta karena kerakusan terhadap
kesenangan hidup, kecerdasan spiritual yang seharusnya tertuang melalui
aplikasi sila pertama sudah tidak tenar lagi. Nilai spiritual kerohanian memang
tidak nampak, tidak seperti nominal uang yang membutakan penjabat bahwa itu
adalah hak rakyat, pula tidak seperti emas freeport yang bertonton
menyilaukan mata pengusaha kapitalis. Nilai spiritual ini sebenarnya adalah
bahan bakar jiwa yang dengannya dapat mengarahkan intelektual dan emosi ke arah
yang tepat, yaitu kemaslahatan.
Agama pada kenyataannya memiliki
tempat penting dalam mereleksikan filosofi kehidupan bernegara, hanya mirisnya
sekuralisasi sudah terlanjur masuk ke dalam tubuh pemerintah. Terpisahnya agama
dengan negara menimbulkan potensi over free will antar sesama pelaku
politik, agama yang mengajarkan pentingnya berbagi dan hidup dalam kecukupan
tidak lagi dipopulerkan aparatur negara. Dan pada akhirnya korupse mereja-lela,
suap menyuap bukan lagi sebuah aib, sebab suap adalah bentuk terima kasih di
mata masyarakat. Pengusahapun demikian, kapitalisme yang dianut mereka
menjauhkan mereka dari rasa peduli kepada sesama, terlanjur terperosok ke dalam
kebutaan.
Menyikapi hal ini, pendekatan
pancasila melalui pemahamam tiga kecerdasan, dapat mewujudkan hasil nyata.
Pemahaman (IQ) terhadap materi kenegaraan dan implementasi (EQ) dari pemahaman
tidak lagi bisa menampung hasrat membabi buta manusia. Ruhani (SQ) sebagai
wadah dan kompas dua kecerdasan lainnya (IQ & EQ) terlanjur dipisahkan
dalam kehidupan bernegara. Dan inilah letak permasalahan sosial di Indonesia,
hilangnya sila pertama dalam aplikasi kehidupan masyarakat berpancasila.
Tidak usah kembali menyatukan
agama dengan negara, kini hanya tinggal bagaimana rakyat kembali lagi ke titik pemahaman,
dimana bangsa ini tidak akan pernah ada tanpa campur tangan agama di dalamnya.
Selayaknya rakyat kini kembali lagi menundukkan kepala setelah lama melihat
kibaran bendara terhembus angin, tolah-toleh memandangi mewah kehidupan.
Baik penjabat, pengusaha, politikus, pengajar juga pelajar hendaknya kembali
memahami nilai-nilai filosofi bernegara, bahwa Indonesia tanpa agama akan
hancur dengan sendirinya.
Fadhil Achmad Agus Bahari
Mahasiswa Fakultas Syariah
UIN MALIKI Malang

Tidak ada komentar:
Posting Komentar