Kamis, 16 November 2017

Generasi Millennial Generasi Multi-Talenta





Abad 21 adalah masa pancaroba kebudayaan dunia, silih bergantinya budaya satu ke budaya lain. Macam-macam budaya yang saling berganti inilah nantinya akan saling mengasimilasi nan memberi warna baru terhadap perjalanan sebuah generasi. Metamorfosis budaya dunia ini tidak bisa terlepas dari pelbagai macam inovasi penemuan teknologi. Hingga mana teknologi juga akan memfasilitasi budaya untuk berkelana ke belahan dunia lain.
            Secara massal, kemajuan teknologi –informasi khususnya- telah merambat ke penjuru dunia -walau pada hakikatnya ada beberapa peradaban dengan sengaja menghindar dari inovasi ini-, sehingga manusia dimudahkan dengan berbagai kemudahan yang ditawarkannya. Jarak jauh yang memisahkan benua, samudra yang luas penghalang komunikasi, atau bentangan gurun pasir bukan lagi masalah manusia abad 21 untuk saling bercengkrama.
            Generasi Millennial akrabnya, sebutan techno-generation juga disematkan oleh pemikir abad ini untuk mengekspresikan karakternya. Kedekatan mereka dengan teknologi menjadi corak khusus sekaligus pembeda dengan generasi sebelumnya. Baby boomerssebegai kakekpara Millennial juga Generasi Xtelah berjasa mewariskan kekayaan inovasi teknologi informasi kepada generasi setelahnya, yaitu Generasi Y atau Generasi Millennial. Hanya ternyata dalam perjalanan generasi ini, banyak sekali memberikan nuansa buruk yang kembali lagi dinilai nan dikritisi oleh Generasi X maupun baby boomers. Apa kemudian ini menjadi kesalahan baby boomers dan Generasi X karena telah mewarisi inovasi, atau kesalahan ini dikembalikan kepada sang pewaris?.
            Dalam menengarahi masalah ini, tak bisa kemudian melepas diri dari apakah makna Generasi Y atau Generasi Millennial, juga tidak layak kemudian hanya melihat perbuatan generasi ini dan menghujatnya tanpa memahami karakter atau sifat mereka. Mengingat perkataan seorang bijak “Bilamana seorang bisa mengetahui apa yang orang lain pikirkan, niscaya tidak akan ada kebencian di dunia ini”. Maka mari memunculkan pertanyaan tentang hal ini, apakah Generasi Millennial?, bagaimana karakter yang dimilikinya beserta sebab-sebab yang melatarbelakangi munculnya karakter tersebut?, dan apakah baik buruknya karakter mereka terhadap kehidupan mereka sendiri serta generasi lainnya?.
            Dalam kamus Oxford edisi keempat, Millennial diambil dari kata Millennium yang berarti periode 1000 tahun atau masa ketika satu periode 1000 tahun berakhir dan masa lainnya bermulai. Sedangkan Millennial itu sendiri lebih kepada orang-orang yang hidup pada masa tersebut, oleh karena itu arti dari Generasi Millennial adalah manusia yang lahir pada akhir periode 1000 tahun. Bila disandingkan dengan masa periode abad 20, Generasi Millennial lahir pada tahun-tahun antara 1980-an sampai 2000-an. Maka didapatkan bahwa generasi ini kini hidup pada umur 17-37 tahun, dan pada umur iniliah masa-masa kejayaan manusia dimulai.
            Secara singkat generasi ini terlahir dari baby boomers(terlahir antara 1940-1960-an, pasca perang dunia ke-2) dan Generasi X(terlahir antara 1960-1980-anpada masa ledakan industri musik dan film “MTV Gen”), pendahuluX tersebut menjalani masa-masa ketika dunia terlahir dari periode panjang perang dunia, lebih tepatnya, baby boomers  -sebagaimana disebut adalah generasi yang hidup pada saat terjadi ledakan populasi pasca perang dunia kedua-  menjalani hari-hari di saat dunia tengah memperbaiki diri dari kerusakan yang ditimbulkan akibat perang dunia ke 2. Tentu saja adalah masa-masa sulit yang membuat mereka terlatih dan menjadi manusia yang merasa harus memiliki kredibilitas keaktifan dalam pembenahan dunia. Mewarisi sisa-sisa masa kemunduran ekonomi akibat biaya peperangan, baby boomers terpaksa mendorong diri mereka untuk menciptakan unsur baru dalam bidang perekonomian, dan tentu saja sebagai bentuk hiburan bagi mereka. Dari baby boomers-lah kemunculan industri musik dimulai, dan diwariskan ke generasi X.
MTV sebagai salah satu industri hiburan populer pada tahun 1960-an, yaitu pada masa kelahiran Generasi X. Pengaruh ke dalam generasi ini menjadikan mereka kenal dengan budaya buruk dunia, hedonisme. Bukan tiba-tiba mereka kenal budaya ini, selain diwarisi generasi sebelumnya, Generasi X adalah generasi yang hidup pada saat tingkat perceraian meninggi. Hal ini adalah salah satu akibat dari tendensi manusia yang terlalu berpandangan materialistik dan menjadikan IQ (Intellegence Quotient) dan EQ (Emotional Quotient) sebagai tolak ukur kesuksesan mereka, sehingga akibatnya adalah timbulnya kebobrokan rohani. Mewarisi masa-masa buruk ini, Generasi X lari dari zona broken home ke zona nyaman baru di dunia irama dan drama. Walaupun pada masa ini, dunia dalam kondisi stabil, mereka para Generasi X, mulai menunjukkan tanda-tanda kemerosotan moral, ditandai budaya hedonisme yang kelak diwariskan ke generasi setelahnya, Generasi Millennial.
            Telah kita ketahui bersama, bahwa pada masa akhir abad 20, yaitu pada tahun 90-an. Terjadi suatu bencana besar yang menerpa hampir seluruh negara-negara di dunia, salah satunya Indonesia. Krisis moneter pada masa akhir orde baru, setidaknya adalah bukti bagaimana klimaksnya akibat yang timbul karena kebobrokan karakter generasi pada saat itu. Setelah bangkit dari masa kelam perang dunia ke-2, juga masa bermunculan teknologi-teknlogi baru, bukan jaminan begusnya generasi penerus, bilamana hedonisme terlahir dari segala kemudahan itu. Maka pada masa ini, terlahir pulalah generasi yang kelak diharapkan andilnya dalam memimpin dunia sebagaimana pendahulu mereka telah mewarisi dunia dengan segala penemuan mereka.
            Generasi Millennial, telah dipahami lahir pada saat teknologi informasi tengah menyebar ke penjuru dunia. Mereka merasakan mudahnya berkomunikasi jarak jauh, juga informasi luar negara bahkan benua sudah mereka rasakan. Kemudahan tersebut kembali lagi diusik dengan krisis moneter akibat terjadinya berbagai inflasi dan ketidakstabilan ekonomi barat –sebagai kiblat ekonomi- pada saat itu.  Hidup di antara kesenangan dan kesusahan, terombang-ambing antara lari dari kesulitan atau kenikmatan. Memang periode krisis moneter tidak lama, dengan hitungan tahun saja perekonomian dunia stabil kembali dengan menyisihkan negara-negara berkembang seperti Indonesia.
            TV berwarna mengenalkan budaya dari berbagai penjuru dunia, termasuk pada saat itu adalah budaya hedonisme barat masuk ke negara-negara Timur, salah satunya Indonesia. Industri musik yang telah lama lahir, perfilman serta fashion telah membludak meramaikan seisi kota, hingar bingar dunia pada saat itu mewarnai porak poranda krisis moneter.Setidaknya dari hal itulah kemudian melahirkan dua jenis manusia, yang condong kepada kesenangan dan yang cenderung untuk berjuang.
            Menjadi bahan diskusi para pemikir seluruh generasi, Generasi Millennial telah menarik perhatian mereka dengan tingkah laku yang kian mengkhawatirkan. Tahun-tahun ini pun, tingkat perhatian Millennial terhadap fenomena di dunia teralihkan, mereka saat ini lebih asik dengan dunia maya yang menawarkan berbagai kemudahan. Benar adanya mereka disebut sebagai techno-generation yang menguasai medsos, komunikasi, hiburan dan informasi, namun ketidaknyataan dunia mereka adalah sebuah kekhawatiran akan kemerosotan sosial. Di sinilah akan dibahas tentang positif dan negatif karakter Generaasi Millennial.
            Tentu berbeda dengan generasi sebelumnya, pada generasi awal –yang telah disebutkan- adalah masa kebangkitan manusia dan idealisme materialistik muncul, memengaruhi Generasi X yang kelak juga menemukan inovasi teknologi berbasis kemudahan dan kesenangan, sedangakan Generasi Y mendapat semua fasilitas kemudahan dan budaya hedonisme. Apa andil Generasi Y pun masih dipertanyakan, ataukah kita akan berpangku tangan menunggu performa mereka nanti atau mendiskusikannya dengan membaca karakter mereka?.
            Berbicara karakter, tentu tidak akan lepas dari istilah batin. BerdasarkanKamusBesarBahasa Indonesia kondisi batin akan memengaruhi segenap pikiran, perilaku budi pekerti, dan tabiat yang dimiliki manusia. Kondisi batin ini mudah dipengaruhi oleh apa yang secara konsisten dilihat atau didengar manusia. Lingkungan masyarakat, informasi, atau juga kondisi keluarga adalah pengaru-pengaruh yang pasti berdampak terhadap kereaktifan batin terhadap output yang berwujud pikiran, perilaku dan lain sebagainya.
            Kehidupan yang dicerminkan mereka melalui media sosial, adalah sebuah tanda bahwa kekuasaan mereka terhadap teknologi informasi tidak perlu dipertanyakan. Sayangnya penggunaan teknologi informasi yang melampaui batas membuat para Millennial buta terhadap realita dunia. Karakter mereka menjadi taruhannya, batin yang seharusnya menjadi nahkoda dalam menjelajahi samudra kehidupan telah terkontaminasi dengan kenikmatan sementara teknologi informasi. Kemudahan dalam berkomunikasi secara tidak langsung telah menyingkirkan mereka dari tanah sosial, tersingkir nan tenggelam ke dalamnya samudra medsos.
Akibat buruknya batin Millennial, berpengaruh kepada karakter kepedulian mereka. Kepekaan terhadap sosial kian menurut, perhatian kepada fenomena masyarakat bukan lagi menjadi prioritas. Bagi mereka kemudahan dan kesenangan yang ditawarkan teknologi adalah jaminan kebahagiaan hidup mereka kelak,  walau sebenarnya mereka hampir tidak pernah memikirkan masa depan mereka sendiri. Toh, siapa yang saat ini membahas masa depan mereka?. Ini adalah bukti bahwa Generasi Millennial tidak biasa dengan kehidupan realita sosial.
Realitanya, saat ini makanan mudah sekali didatangkan tanpa beranjak dari kediaman, karena sistem pesanan sudah merambat ke seluruh aplikasi dalam handphone pintar mereka. Tidak perlu lagi jauh-jauh menulurusi jalan atau menuggu lama kendaraan umum menjemut mereka. Tidak ada lagi perpustakaan yang ramai dikunjungi karena internet selalu terhubung ke perangkat keras, akan tetapi apakah mereka menggunakan jaringan internetuntuk mencari ilmu atau malah menggunakannya ke arah yang keliru?. Sehingga malaslah yang akhirnya tibul dan menjadi karakter mereka, laziness generation (generasi pemalas).
Berbagai aplikasi yang menterengkan berbagai fasilitas kemudahan atau juga permainan yang menawarkan tombol-tombol kesenangan setidaknya membuat Generasi Millennal mudah tergiur untuk gonta-ganti fitur di smartphone mereka, hal itu tentu saja akibat dari meledaknya iklan-iklan menggiurkan –kadang menjadikan perempuan sebagai ikon penarik pelanggan-. Walau menjadi salah satu lapangan bisnis dan lowongan pekerjaan, persebaran iklan membuat anak-anak kecil khususnya terbiasa untuk tidak konsisten terhadap apa yang seharusnya ia dalamai. Lalu apalagi yang tidak akan timbul sebagai karakter kurang baik mereka kecuali tidak konsisten, saya sebut saja karakter mereka dengan jumper generation (generasi tukang loncat).
Pada awal kemumculan medsos, fitur yang ditawarkan hanya jasa pengiriman pesan singkat nan kilat. Namun dalam perjalanannya, muncullah generasi terbaru media sosial yang menawarkan fitur terbaru, yaitu foto. Maka Millennial berbondong-bondong membuat foto yang bagus, kece, juga keren. Berkembang dan berkembanglah media sosial bersamaan dengan semakin besarnya gairah Millennial untuk memamerkan foto-foto mereka. Rasa ingin dilihat dan diperhatikan menjadi karakter baru yang generasi sebelumnya tidak separah ini, mereka terjangkit penyakit narsisme, maka sebut saja dengan narciss generation (generasi narsis).
Terlalu lama dalam dunia maya, para Millennial larut dalam kesenangan mereka dengan ketidaknyataan. Saking mudahnya berkomunikasi dengan dia yang jauh di sana, hingga menjauhkan yang dekat di sini. Apa adanya bibir untuk bicara bila ada jari yang terus-menerus menekan tombol qwerty di handphone mereka. Sayang sekali, kemudahan itu malah menyulitkan mereka terhadap realita sosial yang sebenarnya membutuhkan kehadiran generasi baru. Terjadilah degradasi sosial yang akhirnya membuat saya menyebut mereka dengan dissensitive generation (generasi tidak peka).
Egosentris mungkin pas disematkan kepada generasi ini sebagai bentuk ekspresi keegoisan mereka terhadap dunia. Ketidakpekaan, keinginan untuk selalu diperhatikan, ketidakkonsistenan terhadap suatu bidang, dan rasa malas mereka secara berangsur-angsur menjadikan mereka terlalu idealis dengan hanya berpatokan kepada kebenaran menurut mereka sendiri, itulah egois. Subjektivitas ini tentu menyulitkan dunia bila terus menerus orang-orang merasa benar dengan apa yang ia perspektifkan. Hanya dirikulah yang benar dan kamulah yang salah.
Sifat-sifat tersebut, sekali lagi, timbul karena ketidakdekatan mereka engan nilai-nilai spiritual. Kekeringan batin yang melanda Generasi Millenniummenghasilkan kekosongan peran diri mereka dengan ketidakpekaan diri terhadap fenomena di dunia. Tentu ini mengkhawatirkan para pemikir dengan kenyataan bahwa hanya merekalah, Generasi Millennial, yang bisa membawa dunia menjadi dunia penuh kebaikan dan dekat dengan tuhan, pada kalanya orang muslim menyebutnya baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.
Bukti bahwa buruknya karakter mereka bisa dilihat dari aktifnya mereka dalam meramaikan program atau acara di ranah pendidikan. Di beberapa perguruan tinggi, acara-acara yang digalakkan oleh organisasi tertentu, hanya dihadiri segelintir mahasiswa yang tentu saja memiliki kepentingan individu terhadap diadakannya acara tersebut. Harapan kehadiran mereka adalah berbentuk material, entah  pengakuan eksistensi mereka atau juga kursi-kusri mewah berkejabatan tinggi. Jelas ini sangat jauh dari nilai hakiki akan dilahirkannya Generasi Millennial, yaitu, sebagai pemimpin di masa mereka. Penebar kebaikan dan kasih sayang.
Bukti lain yang menunjukkan kebobrokan karakter mereka, adalah kisah percintaan antara laki-laki dan perempuan. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2010, menunjukkan bahwasanya jumlah kelahiran di Indonesia adalah sebesar 5 juta jiwa pertahun dengan dibarengai angka aborsi, 2,5 juta pertahun.  Jumlah 2,5 juta tersebut diambil dari hasil penelitian independen oleh pribadi atau LSM berdasarkan hitungan rata-rata aborsi yang dilakukan di klinik-klinik kota besar seluruh Indonesia. Apakah jeritan 2,5 juta janin itu adalah hasil hubungan yang sah?, tentu anda dan saya setuju bahwa jeritan-jeritan tak berdosa itu adalah hasil hubungan di luar nikah. Apa yang menyebabkan hal ini terjadi kecuali sebab sarapan siang malam para Millennial dari koneksi bebas internet mereka. Telah disebutkan di atas bahwa pertukaran budaya terfasilitasi dengan adanya teknologi informasi, dan diketahui bersama bahwa beberapa negara telah melegalkan pornografi sebagai salah satu pekerjaan disana.
Itulah serentetan karakter-karakter negatif Generasi Millennial yang dinilai mengkhawatirkan sekaligus menjadi bahan diskusi para pemikir abad ini. Apa kemudian Generasi Millennial hanya memiliki karaker buruk?, tentu tidak!. Saya dan anda adalah Generasi Millennium, dengan memerhatikan Generasi ini adalah salah satu bukti bahwa tidak semua manusia kelarihan 1980-2000-an adalah berkarakter buruk. Memang hedonisme telah menjamur dan membudaya pada saat itu hingga kini, akan tetapi realitanya, akibat dari kesulitan hidup pada masa krisis moneter melahirkan bibit unggul mau berjuang dan berubah. Tidak selalu kehidupan penuh kemudahan menjadikan manusianya hidup dalam kesulitan. Hal ini sangat relatif, tergantung bagaimana manusia tersebut mau memfasilitasi diri mereka dalam menjelajahi kehidupan.
Fitrah dari eksistensi hitam adalah putih, sesuatu yang terang pasti juga menimbulkan kegelapan. Cahaya mentari tidak akan bisa menerangi tempat yang tertutup. Tidak bisa disebut terang bila tidak ada yang diterangi (gelap). Begitulah fasilitas, dibalik kemudahan pasti ada kesulitan dibelakangnya. Seperti halnya cahaya yang menerangi tempat terbuka, manusia yang mau menggunakan fasilitas dengan baik akan diterangi dengan kemudahan-kemudahan, sebaliknya pengunaan fasilitas dengan sembrono akan mengarahkan pelakunya kepada kesulitan-kesulitan.
Generasi Millennial yang memiliki karakter-karakter baik adalah mereka yang mampu menggunakan teknologi dengan baik dan bertujuan nyata. Berbeda dengan para penyalahguna yang malas, bagi mereka yang mampu menggunakan teknologi dengan baik, akan merasakan nikmatnya mengeksplorasi berbagai macam informasi. Mereka menjadikan teknologi tersebut secara efisien, yang baik diambil dan yang buruk dihindari. Kebiasaan seperti ini akan melatih Generasi Millennial menjadi manusia berkarakter rajin, bekerja keras, dan cerdas. Mereka pandai memilih dan memilah informasi mana yang perlu diketahui. Sebuah hikmah yang memiliki korelasi dengan realita teknologi informasi, dikatakan “Dahulu ilmu sulit dicari karena manusia semangat mencari, kini ilmu mudah didapat karena manusia kurang semangat”. Maka beruntunglah Generasi Millennial bila bersemangat mencari ilmu di kala mudahnya ilmu itu didapat.
Generasi Millennial disebutkan di atas sebagai generasi tidak konsisten karena terbiasa gonta-ganti fasilitas. Ada kalanya karakter ini beresiko akan ketidakdalaman seseorang menguasai suatu bidang, akan tetapi dari gonta-gantinya mereka terhadap sebuah bidang, akan membuat mereka kreatif dalam menghubungkan bidang-bidang yang berbeda tersebut. Contohnya, Agung Hapsah, ia adalah seorang englishdebater, video maker, dan juga seorang  public speaker. Di umurnya yang tergolong muda, ia telah bisa menghasilkan pundi-pundi uangnya sendiri. Kemampuan yang bermacam-macam itu menjadikan dia seorang youtuber dengan ratusan ribu subscriber. Dari sinilah dapat diambil poin bahwa, semakin banyak seseorang menguasai berbagai bidang maka semakin terbuka bagi mereka untuk menghasilkan lowongan pekerjaan. Walau hakikatnya seseorang tidak akan bisa mengusai dua atau lebih kemampuan secara mendalam, pasti akan ada tendensi kepada salah satu kemampuan. Setidaknya bisa disebut mereka sebagai multi-talents generation (generasi multi-talenta).
Bisa dibilang seorang Agung Hapsah adalah seorang yang narsis, boleh dikatakan dia adalah orang yang suka mencari perhatian. Dia seperti sebagian besar youtubers yang ingin diperhatikan dan menjadi perhatian publik. Tidak selamanya karakter seperti itu dikatakan buruk, relatif bagaimana seseorang mengarahkan narsisme mereka. Banyak pula dari sikap seperti itu menjadi langkah syi’ar dakwah beberapa medsoser muslim mendakwahkan islam, khususnya ke kalangan muda-mudi. Narsisme tidak melulu bertujuan mencari perhatian orang kepada pelakunya, malah narsisme ini diarahkan untuk menunjukkan kepada publik sesuatu yang dipromosikan, seperti promosi wisata, produk, atau lain sebagainya.
Dissensitive atau ketidakpekaan menjadi salah satu masalah karakter Generasi Millennial, disebabkan ketidaknyataan dunia yang dijalani mereka. Mengurangi kepekaan mereka terhadap realita sosial, dan kecanggungan terhadap kehidupan sosial.  Hal itu adalah karakter pengguna teknologi yang berlebihan, tidak bisa meletakkan sesuatu pada tempatnya, tidak bisa mengerti kadar sesuatu yang harus diberikan. Namun hal ini tentu tidak berlaku bagi para pengguna teknologi yang bisa menempatkan dan mengetahui kadar teknologi tersebut. Dengan teknologi informasi khususnya, mereka gunakan sebagai fasilitas untuk menjalin hubungan dengan seorang yang jauh dari tempatnya, memudahkan koordinasi sebuah organisasi tanpa harus melangsungkan pertemuan. Dan pada saat bersua dengan seseorang, dicampakanlah device mereka dan fokus dengan apa yang mereka tangah hadapi. Hal yang sesederhana itu yang nantinya menjadikan Generasi Millennial sebagai effective and efficient generation (generasi yang efisien).
Di era saat ini, pribadi-pribadi yang aktif di jejaring sosial umumnya adalah mereka yang memiliki karakter sosial tinggi. Hal ini dibuktikan dengan logika bahwa orang yang memiliki jiwa sosial tinggi juga memiliki kepekaan terhadap realita zaman.  Keikutsertaan mereka untuk aktif di jejaring sosial adalah bentuk kepekaan mereka, dan pada saat berkumpul dengan sesama pun mereka mampu memilih mana yang pada saat itu menjadi prioritas. Malah bagi pribadi-pribasi yang sulit untuk aktif di jejaring sosial dengan alasan apapun, mereka akan menjadi sosok yang asing di mata sosial, hal ini karena jarangnya mereka muncul di media sosial. Walau nantinya dia cakap bercengkrama pada saat bersua, akan terasa asing ketika dia menyadari bahwa dirinya telah tertinggal berbagai informasi yang talah disampaikan melalui media sosial.
Maka bagi para Generasi Millennial, teknologi informasi bisa menjadi musuh juga partner. Relatifitas penggunaannya tergantung pribadi masing-masing, ketergantungan adalah sebuah konsekuensi dari kenikmatan. Namun jangan sampai ketergantungan tersebut menjadi kronis karena tidak ada langkah preventif maupun solutif guna menghadapi realita zaman techno.Gunakan teknologi tersebut sesuai pada kadarnya dan tempatnya, menjadi pribadi yang berkaraker kreatif adalah buah dari penggunaan teknologi ini secara baik.
Fadhil Achmad Agus Bahari
Mahasiswa UIN MALIKI Malang
Fakultas Syariah
           
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar