Abad 21 adalah masa pancaroba kebudayaan dunia, silih bergantinya budaya satu ke budaya lain. Macam-macam budaya yang saling berganti inilah nantinya akan saling mengasimilasi nan memberi warna baru terhadap perjalanan sebuah generasi. Metamorfosis budaya dunia ini tidak bisa terlepas dari pelbagai macam inovasi penemuan teknologi. Hingga mana teknologi juga akan memfasilitasi budaya untuk berkelana ke belahan dunia lain.
Secara massal,
kemajuan teknologi –informasi khususnya- telah merambat ke penjuru dunia -walau
pada hakikatnya ada beberapa peradaban dengan sengaja menghindar dari inovasi
ini-, sehingga manusia dimudahkan dengan berbagai kemudahan yang ditawarkannya.
Jarak jauh yang memisahkan benua, samudra yang luas penghalang komunikasi, atau
bentangan gurun pasir bukan lagi masalah manusia abad 21 untuk saling
bercengkrama.
Generasi
Millennial akrabnya, sebutan techno-generation juga disematkan oleh
pemikir abad ini untuk mengekspresikan karakternya. Kedekatan mereka dengan
teknologi menjadi corak khusus sekaligus pembeda dengan generasi sebelumnya. Baby
boomerssebegai kakekpara Millennial juga Generasi Xtelah berjasa mewariskan
kekayaan inovasi teknologi informasi kepada generasi setelahnya, yaitu Generasi
Y atau Generasi Millennial. Hanya ternyata dalam perjalanan generasi ini,
banyak sekali memberikan nuansa buruk yang kembali lagi dinilai nan dikritisi
oleh Generasi X maupun baby boomers. Apa kemudian ini menjadi kesalahan baby
boomers dan Generasi X karena telah mewarisi inovasi, atau kesalahan ini
dikembalikan kepada sang pewaris?.
Dalam menengarahi
masalah ini, tak bisa kemudian melepas diri dari apakah makna Generasi Y atau
Generasi Millennial, juga tidak layak kemudian hanya melihat perbuatan generasi
ini dan menghujatnya tanpa memahami karakter atau sifat mereka. Mengingat
perkataan seorang bijak “Bilamana seorang bisa mengetahui apa yang orang lain
pikirkan, niscaya tidak akan ada kebencian di dunia ini”. Maka mari memunculkan
pertanyaan tentang hal ini, apakah Generasi Millennial?, bagaimana karakter
yang dimilikinya beserta sebab-sebab yang melatarbelakangi munculnya karakter
tersebut?, dan apakah baik buruknya karakter mereka terhadap kehidupan mereka
sendiri serta generasi lainnya?.
Dalam kamus Oxford
edisi keempat, Millennial diambil dari kata Millennium yang berarti
periode 1000 tahun atau masa ketika satu periode 1000 tahun berakhir dan masa
lainnya bermulai. Sedangkan Millennial itu sendiri lebih kepada orang-orang
yang hidup pada masa tersebut, oleh karena itu arti dari Generasi Millennial
adalah manusia yang lahir pada akhir periode 1000 tahun. Bila disandingkan
dengan masa periode abad 20, Generasi Millennial lahir pada tahun-tahun antara
1980-an sampai 2000-an. Maka didapatkan bahwa generasi ini kini hidup pada umur
17-37 tahun, dan pada umur iniliah masa-masa kejayaan manusia dimulai.
Secara singkat
generasi ini terlahir dari baby boomers(terlahir antara 1940-1960-an, pasca
perang dunia ke-2) dan Generasi X(terlahir antara 1960-1980-anpada masa
ledakan industri musik dan film “MTV Gen”), pendahuluX tersebut menjalani
masa-masa ketika dunia terlahir dari periode panjang perang dunia, lebih
tepatnya, baby boomers
-sebagaimana disebut adalah generasi yang hidup pada saat terjadi
ledakan populasi pasca perang dunia kedua-
menjalani hari-hari di saat dunia tengah memperbaiki diri dari kerusakan
yang ditimbulkan akibat perang dunia ke 2. Tentu saja adalah masa-masa sulit
yang membuat mereka terlatih dan menjadi manusia yang merasa harus memiliki
kredibilitas keaktifan dalam pembenahan dunia. Mewarisi sisa-sisa masa
kemunduran ekonomi akibat biaya peperangan, baby boomers terpaksa
mendorong diri mereka untuk menciptakan unsur baru dalam bidang perekonomian,
dan tentu saja sebagai bentuk hiburan bagi mereka. Dari baby boomers-lah
kemunculan industri musik dimulai, dan diwariskan ke generasi X.
MTV sebagai salah satu industri hiburan populer pada tahun 1960-an,
yaitu pada masa kelahiran Generasi X. Pengaruh ke dalam generasi ini menjadikan
mereka kenal dengan budaya buruk dunia, hedonisme. Bukan tiba-tiba mereka kenal
budaya ini, selain diwarisi generasi sebelumnya, Generasi X adalah generasi
yang hidup pada saat tingkat perceraian meninggi. Hal ini adalah salah satu
akibat dari tendensi manusia yang terlalu berpandangan materialistik dan
menjadikan IQ (Intellegence Quotient) dan EQ (Emotional Quotient)
sebagai tolak ukur kesuksesan mereka, sehingga akibatnya adalah timbulnya
kebobrokan rohani. Mewarisi masa-masa buruk ini, Generasi X lari dari zona broken
home ke zona nyaman baru di dunia irama dan drama. Walaupun pada masa ini,
dunia dalam kondisi stabil, mereka para Generasi X, mulai menunjukkan
tanda-tanda kemerosotan moral, ditandai budaya hedonisme yang kelak diwariskan
ke generasi setelahnya, Generasi Millennial.
Telah kita ketahui
bersama, bahwa pada masa akhir abad 20, yaitu pada tahun 90-an. Terjadi suatu
bencana besar yang menerpa hampir seluruh negara-negara di dunia, salah satunya
Indonesia. Krisis moneter pada masa akhir orde baru, setidaknya adalah bukti
bagaimana klimaksnya akibat yang timbul karena kebobrokan karakter generasi
pada saat itu. Setelah bangkit dari masa kelam perang dunia ke-2, juga masa
bermunculan teknologi-teknlogi baru, bukan jaminan begusnya generasi penerus,
bilamana hedonisme terlahir dari segala kemudahan itu. Maka pada masa ini,
terlahir pulalah generasi yang kelak diharapkan andilnya dalam memimpin dunia
sebagaimana pendahulu mereka telah mewarisi dunia dengan segala penemuan
mereka.
Generasi
Millennial, telah dipahami lahir pada saat teknologi informasi tengah menyebar
ke penjuru dunia. Mereka merasakan mudahnya berkomunikasi jarak jauh, juga
informasi luar negara bahkan benua sudah mereka rasakan. Kemudahan tersebut
kembali lagi diusik dengan krisis moneter akibat terjadinya berbagai inflasi
dan ketidakstabilan ekonomi barat –sebagai kiblat ekonomi- pada saat itu. Hidup di antara kesenangan dan kesusahan,
terombang-ambing antara lari dari kesulitan atau kenikmatan. Memang periode krisis
moneter tidak lama, dengan hitungan tahun saja perekonomian dunia stabil
kembali dengan menyisihkan negara-negara berkembang seperti Indonesia.
TV berwarna
mengenalkan budaya dari berbagai penjuru dunia, termasuk pada saat itu adalah
budaya hedonisme barat masuk ke negara-negara Timur, salah satunya Indonesia. Industri
musik yang telah lama lahir, perfilman serta fashion telah membludak meramaikan
seisi kota, hingar bingar dunia pada saat itu mewarnai porak poranda krisis
moneter.Setidaknya dari hal itulah kemudian melahirkan dua jenis manusia, yang
condong kepada kesenangan dan yang cenderung untuk berjuang.
Menjadi bahan
diskusi para pemikir seluruh generasi, Generasi Millennial telah menarik
perhatian mereka dengan tingkah laku yang kian mengkhawatirkan. Tahun-tahun ini
pun, tingkat perhatian Millennial terhadap fenomena di dunia teralihkan, mereka
saat ini lebih asik dengan dunia maya yang menawarkan berbagai kemudahan. Benar
adanya mereka disebut sebagai techno-generation yang menguasai medsos,
komunikasi, hiburan dan informasi, namun ketidaknyataan dunia mereka adalah
sebuah kekhawatiran akan kemerosotan sosial. Di sinilah akan dibahas tentang
positif dan negatif karakter Generaasi Millennial.
Tentu berbeda
dengan generasi sebelumnya, pada generasi awal –yang telah disebutkan- adalah masa
kebangkitan manusia dan idealisme materialistik muncul, memengaruhi Generasi X
yang kelak juga menemukan inovasi teknologi berbasis kemudahan dan kesenangan,
sedangakan Generasi Y mendapat semua fasilitas kemudahan dan budaya hedonisme.
Apa andil Generasi Y pun masih dipertanyakan, ataukah kita akan berpangku
tangan menunggu performa mereka nanti atau mendiskusikannya dengan membaca
karakter mereka?.
Berbicara
karakter, tentu tidak akan lepas dari istilah batin. BerdasarkanKamusBesarBahasa Indonesia kondisi batin akan memengaruhi segenap pikiran, perilaku budi
pekerti, dan tabiat yang dimiliki manusia. Kondisi batin ini mudah dipengaruhi
oleh apa yang secara konsisten dilihat atau didengar manusia. Lingkungan
masyarakat, informasi, atau juga kondisi keluarga adalah pengaru-pengaruh yang
pasti berdampak terhadap kereaktifan batin terhadap output yang berwujud
pikiran, perilaku dan lain sebagainya.
Kehidupan yang
dicerminkan mereka melalui media sosial, adalah sebuah tanda bahwa kekuasaan
mereka terhadap teknologi informasi tidak perlu dipertanyakan. Sayangnya penggunaan
teknologi informasi yang melampaui batas membuat para Millennial buta terhadap
realita dunia. Karakter mereka menjadi taruhannya, batin yang seharusnya
menjadi nahkoda dalam menjelajahi samudra kehidupan telah terkontaminasi dengan
kenikmatan sementara teknologi informasi. Kemudahan dalam berkomunikasi secara
tidak langsung telah menyingkirkan mereka dari tanah sosial, tersingkir nan tenggelam
ke dalamnya samudra medsos.
Akibat buruknya batin Millennial, berpengaruh kepada karakter
kepedulian mereka. Kepekaan terhadap sosial kian menurut, perhatian kepada
fenomena masyarakat bukan lagi menjadi prioritas. Bagi mereka kemudahan dan
kesenangan yang ditawarkan teknologi adalah jaminan kebahagiaan hidup mereka
kelak, walau sebenarnya mereka hampir
tidak pernah memikirkan masa depan mereka sendiri. Toh, siapa yang saat ini
membahas masa depan mereka?. Ini adalah bukti bahwa Generasi Millennial tidak
biasa dengan kehidupan realita sosial.
Realitanya, saat ini makanan mudah sekali didatangkan tanpa
beranjak dari kediaman, karena sistem pesanan sudah merambat ke seluruh
aplikasi dalam handphone pintar mereka. Tidak perlu lagi jauh-jauh menulurusi
jalan atau menuggu lama kendaraan umum menjemut mereka. Tidak ada lagi
perpustakaan yang ramai dikunjungi karena internet selalu terhubung ke
perangkat keras, akan tetapi apakah mereka menggunakan jaringan internetuntuk
mencari ilmu atau malah menggunakannya ke arah yang keliru?. Sehingga malaslah
yang akhirnya tibul dan menjadi karakter mereka, laziness generation (generasi
pemalas).
Berbagai aplikasi yang menterengkan berbagai fasilitas kemudahan
atau juga permainan yang menawarkan tombol-tombol kesenangan setidaknya membuat
Generasi Millennal mudah tergiur untuk gonta-ganti fitur di smartphone
mereka, hal itu tentu saja akibat dari meledaknya iklan-iklan menggiurkan
–kadang menjadikan perempuan sebagai ikon penarik pelanggan-. Walau menjadi
salah satu lapangan bisnis dan lowongan pekerjaan, persebaran iklan membuat
anak-anak kecil khususnya terbiasa untuk tidak konsisten terhadap apa yang
seharusnya ia dalamai. Lalu apalagi yang tidak akan timbul sebagai karakter
kurang baik mereka kecuali tidak konsisten, saya sebut saja karakter mereka
dengan jumper generation (generasi tukang loncat).
Pada awal kemumculan medsos, fitur yang ditawarkan hanya jasa
pengiriman pesan singkat nan kilat. Namun dalam perjalanannya, muncullah
generasi terbaru media sosial yang menawarkan fitur terbaru, yaitu foto. Maka
Millennial berbondong-bondong membuat foto yang bagus, kece, juga keren.
Berkembang dan berkembanglah media sosial bersamaan dengan semakin besarnya
gairah Millennial untuk memamerkan foto-foto mereka. Rasa ingin dilihat dan
diperhatikan menjadi karakter baru yang generasi sebelumnya tidak separah ini,
mereka terjangkit penyakit narsisme, maka sebut saja dengan narciss generation
(generasi narsis).
Terlalu lama dalam dunia maya, para Millennial larut dalam
kesenangan mereka dengan ketidaknyataan. Saking mudahnya berkomunikasi dengan
dia yang jauh di sana, hingga menjauhkan yang dekat di sini. Apa adanya bibir
untuk bicara bila ada jari yang terus-menerus menekan tombol qwerty di
handphone mereka. Sayang sekali, kemudahan itu malah menyulitkan mereka
terhadap realita sosial yang sebenarnya membutuhkan kehadiran generasi baru.
Terjadilah degradasi sosial yang akhirnya membuat saya menyebut mereka dengan dissensitive
generation (generasi tidak peka).
Egosentris mungkin pas disematkan kepada generasi ini sebagai
bentuk ekspresi keegoisan mereka terhadap dunia. Ketidakpekaan, keinginan untuk
selalu diperhatikan, ketidakkonsistenan terhadap suatu bidang, dan rasa malas
mereka secara berangsur-angsur menjadikan mereka terlalu idealis dengan hanya
berpatokan kepada kebenaran menurut mereka sendiri, itulah egois. Subjektivitas
ini tentu menyulitkan dunia bila terus menerus orang-orang merasa benar dengan
apa yang ia perspektifkan. Hanya dirikulah yang benar dan kamulah yang salah.
Sifat-sifat tersebut, sekali lagi, timbul karena ketidakdekatan
mereka engan nilai-nilai spiritual. Kekeringan batin yang melanda Generasi
Millenniummenghasilkan kekosongan peran diri mereka dengan ketidakpekaan diri
terhadap fenomena di dunia. Tentu ini mengkhawatirkan para pemikir dengan
kenyataan bahwa hanya merekalah, Generasi Millennial, yang bisa membawa dunia
menjadi dunia penuh kebaikan dan dekat dengan tuhan, pada kalanya orang muslim
menyebutnya baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.
Bukti bahwa buruknya karakter mereka bisa dilihat dari aktifnya
mereka dalam meramaikan program atau acara di ranah pendidikan. Di beberapa
perguruan tinggi, acara-acara yang digalakkan oleh organisasi tertentu, hanya
dihadiri segelintir mahasiswa yang tentu saja memiliki kepentingan individu
terhadap diadakannya acara tersebut. Harapan kehadiran mereka adalah berbentuk
material, entah pengakuan eksistensi
mereka atau juga kursi-kusri mewah berkejabatan tinggi. Jelas ini sangat jauh
dari nilai hakiki akan dilahirkannya Generasi Millennial, yaitu, sebagai pemimpin
di masa mereka. Penebar kebaikan dan kasih sayang.
Bukti lain yang menunjukkan kebobrokan karakter mereka, adalah
kisah percintaan antara laki-laki dan perempuan. Berdasarkan survei yang
dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2010, menunjukkan
bahwasanya jumlah kelahiran di Indonesia adalah sebesar 5 juta jiwa pertahun
dengan dibarengai angka aborsi, 2,5 juta pertahun. Jumlah 2,5 juta tersebut diambil dari hasil
penelitian independen oleh pribadi atau LSM berdasarkan hitungan rata-rata aborsi
yang dilakukan di klinik-klinik kota besar seluruh Indonesia. Apakah jeritan
2,5 juta janin itu adalah hasil hubungan yang sah?, tentu anda dan saya setuju
bahwa jeritan-jeritan tak berdosa itu adalah hasil hubungan di luar nikah. Apa
yang menyebabkan hal ini terjadi kecuali sebab sarapan siang malam para
Millennial dari koneksi bebas internet mereka. Telah disebutkan di atas bahwa
pertukaran budaya terfasilitasi dengan adanya teknologi informasi, dan
diketahui bersama bahwa beberapa negara telah melegalkan pornografi sebagai salah
satu pekerjaan disana.
Itulah serentetan karakter-karakter negatif Generasi Millennial
yang dinilai mengkhawatirkan sekaligus menjadi bahan diskusi para pemikir abad
ini. Apa kemudian Generasi Millennial hanya memiliki karaker buruk?, tentu
tidak!. Saya dan anda adalah Generasi Millennium, dengan memerhatikan Generasi
ini adalah salah satu bukti bahwa tidak semua manusia kelarihan 1980-2000-an
adalah berkarakter buruk. Memang hedonisme telah menjamur dan membudaya pada
saat itu hingga kini, akan tetapi realitanya, akibat dari kesulitan hidup pada
masa krisis moneter melahirkan bibit unggul mau berjuang dan berubah. Tidak
selalu kehidupan penuh kemudahan menjadikan manusianya hidup dalam kesulitan.
Hal ini sangat relatif, tergantung bagaimana manusia tersebut mau memfasilitasi
diri mereka dalam menjelajahi kehidupan.
Fitrah dari eksistensi hitam adalah putih, sesuatu yang terang
pasti juga menimbulkan kegelapan. Cahaya mentari tidak akan bisa menerangi
tempat yang tertutup. Tidak bisa disebut terang bila tidak ada yang diterangi
(gelap). Begitulah fasilitas, dibalik kemudahan pasti ada kesulitan
dibelakangnya. Seperti halnya cahaya yang menerangi tempat terbuka, manusia
yang mau menggunakan fasilitas dengan baik akan diterangi dengan
kemudahan-kemudahan, sebaliknya pengunaan fasilitas dengan sembrono akan
mengarahkan pelakunya kepada kesulitan-kesulitan.
Generasi Millennial yang memiliki karakter-karakter baik adalah
mereka yang mampu menggunakan teknologi dengan baik dan bertujuan nyata.
Berbeda dengan para penyalahguna yang malas, bagi mereka yang mampu menggunakan
teknologi dengan baik, akan merasakan nikmatnya mengeksplorasi berbagai macam
informasi. Mereka menjadikan teknologi tersebut secara efisien, yang baik
diambil dan yang buruk dihindari. Kebiasaan seperti ini akan melatih Generasi
Millennial menjadi manusia berkarakter rajin, bekerja keras, dan cerdas. Mereka
pandai memilih dan memilah informasi mana yang perlu diketahui. Sebuah hikmah
yang memiliki korelasi dengan realita teknologi informasi, dikatakan “Dahulu
ilmu sulit dicari karena manusia semangat mencari, kini ilmu mudah didapat
karena manusia kurang semangat”. Maka beruntunglah Generasi Millennial bila
bersemangat mencari ilmu di kala mudahnya ilmu itu didapat.
Generasi Millennial disebutkan di atas sebagai generasi tidak
konsisten karena terbiasa gonta-ganti fasilitas. Ada kalanya karakter ini
beresiko akan ketidakdalaman seseorang menguasai suatu bidang, akan tetapi dari
gonta-gantinya mereka terhadap sebuah bidang, akan membuat mereka kreatif dalam
menghubungkan bidang-bidang yang berbeda tersebut. Contohnya, Agung Hapsah, ia
adalah seorang englishdebater, video maker, dan juga seorang public speaker. Di umurnya yang
tergolong muda, ia telah bisa menghasilkan pundi-pundi uangnya sendiri.
Kemampuan yang bermacam-macam itu menjadikan dia seorang youtuber dengan
ratusan ribu subscriber. Dari sinilah dapat diambil poin bahwa, semakin
banyak seseorang menguasai berbagai bidang maka semakin terbuka bagi mereka
untuk menghasilkan lowongan pekerjaan. Walau hakikatnya seseorang tidak akan
bisa mengusai dua atau lebih kemampuan secara mendalam, pasti akan ada tendensi
kepada salah satu kemampuan. Setidaknya bisa disebut mereka sebagai multi-talents
generation (generasi multi-talenta).
Bisa dibilang seorang Agung Hapsah adalah seorang yang narsis,
boleh dikatakan dia adalah orang yang suka mencari perhatian. Dia seperti
sebagian besar youtubers yang ingin diperhatikan dan menjadi perhatian
publik. Tidak selamanya karakter seperti itu dikatakan buruk, relatif bagaimana
seseorang mengarahkan narsisme mereka. Banyak pula dari sikap seperti itu
menjadi langkah syi’ar dakwah beberapa medsoser muslim mendakwahkan
islam, khususnya ke kalangan muda-mudi. Narsisme tidak melulu bertujuan mencari
perhatian orang kepada pelakunya, malah narsisme ini diarahkan untuk
menunjukkan kepada publik sesuatu yang dipromosikan, seperti promosi wisata,
produk, atau lain sebagainya.
Dissensitive atau
ketidakpekaan menjadi salah satu masalah karakter Generasi Millennial,
disebabkan ketidaknyataan dunia yang dijalani mereka. Mengurangi kepekaan
mereka terhadap realita sosial, dan kecanggungan terhadap kehidupan
sosial. Hal itu adalah karakter pengguna
teknologi yang berlebihan, tidak bisa meletakkan sesuatu pada tempatnya, tidak
bisa mengerti kadar sesuatu yang harus diberikan. Namun hal ini tentu tidak
berlaku bagi para pengguna teknologi yang bisa menempatkan dan mengetahui kadar
teknologi tersebut. Dengan teknologi informasi khususnya, mereka gunakan
sebagai fasilitas untuk menjalin hubungan dengan seorang yang jauh dari
tempatnya, memudahkan koordinasi sebuah organisasi tanpa harus melangsungkan
pertemuan. Dan pada saat bersua dengan seseorang, dicampakanlah device mereka
dan fokus dengan apa yang mereka tangah hadapi. Hal yang sesederhana itu yang
nantinya menjadikan Generasi Millennial sebagai effective and efficient
generation (generasi yang efisien).
Di era saat ini, pribadi-pribadi yang aktif di jejaring sosial umumnya
adalah mereka yang memiliki karakter sosial tinggi. Hal ini dibuktikan dengan
logika bahwa orang yang memiliki jiwa sosial tinggi juga memiliki kepekaan
terhadap realita zaman. Keikutsertaan
mereka untuk aktif di jejaring sosial adalah bentuk kepekaan mereka, dan pada
saat berkumpul dengan sesama pun mereka mampu memilih mana yang pada saat itu
menjadi prioritas. Malah bagi pribadi-pribasi yang sulit untuk aktif di
jejaring sosial dengan alasan apapun, mereka akan menjadi sosok yang asing di
mata sosial, hal ini karena jarangnya mereka muncul di media sosial. Walau
nantinya dia cakap bercengkrama pada saat bersua, akan terasa asing ketika dia
menyadari bahwa dirinya telah tertinggal berbagai informasi yang talah
disampaikan melalui media sosial.
Maka bagi para Generasi Millennial, teknologi informasi bisa
menjadi musuh juga partner. Relatifitas penggunaannya tergantung pribadi
masing-masing, ketergantungan adalah sebuah konsekuensi dari kenikmatan. Namun
jangan sampai ketergantungan tersebut menjadi kronis karena tidak ada langkah
preventif maupun solutif guna menghadapi realita zaman techno.Gunakan
teknologi tersebut sesuai pada kadarnya dan tempatnya, menjadi pribadi yang
berkaraker kreatif adalah buah dari penggunaan teknologi ini secara baik.
Fadhil Achmad Agus Bahari
Mahasiswa UIN MALIKI Malang
Fakultas Syariah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar