Aku termasuk diantara anak yang
tidak suka ditinggali oleh orang tuaku dengan sekian banyak harta, sebut saja
warisan. Bagiku, warisan adalah beban yang harus disampaikan oleh orang tua dan
harus diterima oleh anaknya, lebih lagi ketika warisan sudah di tangan anak,
maka secara otomatis anak harus bertanggungjawab untuk mengelola. Hal ini sama
saja dengan memberi beban tambahan kepada anak, karena pada esensinya harta
adalah beban tatkala melebihi dari kebutuhan.
Mari membahas tentang esensi dari
harta, agar lebih mudah untuk menganalogikannya, samakan harta dengan baju,
semakin banyak baju yang kita miliki maka semakin banyak pula ruang untuk
menampungnya, tambahan ruang itu secara otomatis juga menuntut kita untuk
menambah biaya, beda lagi ceritanya ketika kita harus secara rutin mencuci
baju-baju kotor, tentu ada biaya tambahan lagi. Pada intinya semakin banyak
baju yang kita miliki, maka semakin bertambah pula beban yang akan kita hadapi.
Apakah esensi atau fungsi dari baju?, bukankah sekedar untuk keperluan sandang
saja, jikalau memang butuh baju untuk bergaya, maka apakah harus
bertumpuk-tumpuk banyaknya?, dan apakah semua baju yang kita miliki itu akan
terpakai, atau malah hanya menunggu antri dipakai?. Sama lah halnya dengan
harta, semakin banyak maka semakin menyusahkan.
Mari kita kembali pada motivasi
orang tua memberikan warisan, mungkin akan terbagi-bagi menjadi 3 hal, 1)
Warisan diberikan dalam rangka melanjutkan kepemilikan, seperti tanah atau
perusahaan dan lain-lain, kasus ini ketika harta orang tua terlalu melimpah
ruah sampai tak tau mau dikemanakan, 2) Warisan diberikan kepada anak karena
kebutuhan anak, biasanya karena anaknya sedang membutuhkan dan kekurangan, 3)
Warisan diberikan karena orang tua khawatir atau sekedar berjaga-jaga agar anak
tidak kesulitan. Aku sangat yakin untuk kasus yang pertama, tidak begitu banyak
ada karena memang orang yang kaya raya juga gak banyak atau malah sangat
jarang, yang sering ada dan banyak itu seperti kasus kedua dan ketiga.
Pada dasarnya tujuan dari orang tua
mengapa begitu memikirkan kelanjutan hidup anaknya adalah karena sifat alami
orang tua itu sendiri. Masa depan anak adalah sebagian dari tanggungjawab orang
tua, kebahagiaan anak juga menjadi beban orang tua. Maka jika kita kembali
kepada tujuan sebelumnya dan melihat sifat alami orang tua, setidaknya kita
sudah punya benang merah, yaitu karena ingin anaknya baik-baik saja dan kalau
bisa sukses ke depannya, maka caranya adalah ditinggalkannya warisan. Tapi
bagiku, meninggalkan warisan masih salah satu cara dan itu bukan yang terbaik.
Aku percaya bahwa teman-teman sering
mendengar kasus pertikaian antar saudara karena masalah warisan, rebutan
gono-gini peninggalan orang tua, dan tak jarang berujung pertumpahan darah. Aku
tak perlu memberi contoh real, tapi cukup mengingatkan saja, bahwa harta
warisan itu beban, jangan terlalu berharap apalagi senang. Tapi, bagaimana
kalau dia anak tunggal?....
Bayangkan
saja, ketika harta yang diwariskan melimpah ruah sedangkan anak yang menerima
tidak memiliki kemampuan mengatur uang, atau malah anak tidak memiliki
tanggungjawab, walaupun dia anak tunggal, kira-kira apa yang akan terjadi?. Sama
halnya dengan menyuruh orang menjadi sopir bus padahal
dia belum bisa menyetir, sama halnya menyuruh orang menjadi nahkoda tapi naik
perahu saja tidak pernah.
Harta
pada dasarnya dihadirkan untuk memenuhi kebutuhan, jikalau lebih maka itu
sifatnya bisa berjaga-jaga, bolehlah untuk investasi dan dikembangkan. Tapi
jika hadirnya harta tidak diimbangi dengan kemampuan dan tanggung jawab, maka
akan timbang dan menjadi beban. Aku rasa orang tua tidak perlu repot-repot
berpikir harta apa yang diwariskan, hendaknya orang tua berpikir bagaimana
mendidik anaknya berkemampuan dan bertanggung jawab.
Jadi
sekarang bagi kalian kawan-kawanku calon orang tua, lebih memilih meninggalkan
harta menjadi warisan atau mendidik anak hingga menjadi kekuatan (kemampuan dan
tanggung jawab)?. Jikalau berpikir memilih kekuatan maka persiapkanlah mulai
sekarang, jangan menunggu sudah menikah baru belajar, karena ilmu hanya akan
menjadi hiasan jika sekedar diketahui dan tidak menjadi bagian diri, dan cara
menjadikannya bagian diri adalah dengan diaplikasikan. Let’s start from now!!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar