Rabu, 04 Desember 2019

The Series #2 How To Be a Good Parent

Antara Warisan dan Kekuatan


            Aku termasuk diantara anak yang tidak suka ditinggali oleh orang tuaku dengan sekian banyak harta, sebut saja warisan. Bagiku, warisan adalah beban yang harus disampaikan oleh orang tua dan harus diterima oleh anaknya, lebih lagi ketika warisan sudah di tangan anak, maka secara otomatis anak harus bertanggungjawab untuk mengelola. Hal ini sama saja dengan memberi beban tambahan kepada anak, karena pada esensinya harta adalah beban tatkala melebihi dari kebutuhan.
            Mari membahas tentang esensi dari harta, agar lebih mudah untuk menganalogikannya, samakan harta dengan baju, semakin banyak baju yang kita miliki maka semakin banyak pula ruang untuk menampungnya, tambahan ruang itu secara otomatis juga menuntut kita untuk menambah biaya, beda lagi ceritanya ketika kita harus secara rutin mencuci baju-baju kotor, tentu ada biaya tambahan lagi. Pada intinya semakin banyak baju yang kita miliki, maka semakin bertambah pula beban yang akan kita hadapi. Apakah esensi atau fungsi dari baju?, bukankah sekedar untuk keperluan sandang saja, jikalau memang butuh baju untuk bergaya, maka apakah harus bertumpuk-tumpuk banyaknya?, dan apakah semua baju yang kita miliki itu akan terpakai, atau malah hanya menunggu antri dipakai?. Sama lah halnya dengan harta, semakin banyak maka semakin menyusahkan.
            Mari kita kembali pada motivasi orang tua memberikan warisan, mungkin akan terbagi-bagi menjadi 3 hal, 1) Warisan diberikan dalam rangka melanjutkan kepemilikan, seperti tanah atau perusahaan dan lain-lain, kasus ini ketika harta orang tua terlalu melimpah ruah sampai tak tau mau dikemanakan, 2) Warisan diberikan kepada anak karena kebutuhan anak, biasanya karena anaknya sedang membutuhkan dan kekurangan, 3) Warisan diberikan karena orang tua khawatir atau sekedar berjaga-jaga agar anak tidak kesulitan. Aku sangat yakin untuk kasus yang pertama, tidak begitu banyak ada karena memang orang yang kaya raya juga gak banyak atau malah sangat jarang, yang sering ada dan banyak itu seperti kasus kedua dan ketiga.
            Pada dasarnya tujuan dari orang tua mengapa begitu memikirkan kelanjutan hidup anaknya adalah karena sifat alami orang tua itu sendiri. Masa depan anak adalah sebagian dari tanggungjawab orang tua, kebahagiaan anak juga menjadi beban orang tua. Maka jika kita kembali kepada tujuan sebelumnya dan melihat sifat alami orang tua, setidaknya kita sudah punya benang merah, yaitu karena ingin anaknya baik-baik saja dan kalau bisa sukses ke depannya, maka caranya adalah ditinggalkannya warisan. Tapi bagiku, meninggalkan warisan masih salah satu cara dan itu bukan yang terbaik.
            Aku percaya bahwa teman-teman sering mendengar kasus pertikaian antar saudara karena masalah warisan, rebutan gono-gini peninggalan orang tua, dan tak jarang berujung pertumpahan darah. Aku tak perlu memberi contoh real, tapi cukup mengingatkan saja, bahwa harta warisan itu beban, jangan terlalu berharap apalagi senang. Tapi, bagaimana kalau dia anak tunggal?....
Bayangkan saja, ketika harta yang diwariskan melimpah ruah sedangkan anak yang menerima tidak memiliki kemampuan mengatur uang, atau malah anak tidak memiliki tanggungjawab, walaupun dia anak tunggal, kira-kira apa yang akan terjadi?. Sama halnya dengan menyuruh orang menjadi sopir bus padahal dia belum bisa menyetir, sama halnya menyuruh orang menjadi nahkoda tapi naik perahu saja tidak pernah.
Harta pada dasarnya dihadirkan untuk memenuhi kebutuhan, jikalau lebih maka itu sifatnya bisa berjaga-jaga, bolehlah untuk investasi dan dikembangkan. Tapi jika hadirnya harta tidak diimbangi dengan kemampuan dan tanggung jawab, maka akan timbang dan menjadi beban. Aku rasa orang tua tidak perlu repot-repot berpikir harta apa yang diwariskan, hendaknya orang tua berpikir bagaimana mendidik anaknya berkemampuan dan bertanggung jawab.
Jadi sekarang bagi kalian kawan-kawanku calon orang tua, lebih memilih meninggalkan harta menjadi warisan atau mendidik anak hingga menjadi kekuatan (kemampuan dan tanggung jawab)?. Jikalau berpikir memilih kekuatan maka persiapkanlah mulai sekarang, jangan menunggu sudah menikah baru belajar, karena ilmu hanya akan menjadi hiasan jika sekedar diketahui dan tidak menjadi bagian diri, dan cara menjadikannya bagian diri adalah dengan diaplikasikan. Let’s start from now!!
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar