Kamis, 07 September 2017

Filsafat Cinta (Arti dan Fungsi Cinta dalam Kehidupan)


Kini aku di atas lautan
Gamang tak karuan
Terhantam gelombang terpaan
Romansa di kala kasmaran
Izinkan aku mengungkapkan rasa
Yang juga menjadi arah manusia
Hidup dalam gelimang gempita
Yang kalanya pujangga menyebutnya……
------------ CINTA--------------
(Hamba Sang Pencinta)
Trisno jalaran saka kulino mungkin cukup menggambarkan bagaimana perasaan itu tumbuh, muncul dari hati tiap-tiap manusia, keluar menjadi sebuah realita, kasih sayang juga ikatan batin. Begitulah kiranya seseorang memulai kisahnya, bermula dari sebuah pertemuan yang berlanjut ke kebiasaan, dan bermetamorfosis menjadi perasaan kuat di hati, itulah cinta.
Memiliki sekian kebiasaan favorit yang kalanya akrab disebut sebagai hobi, termasuk pula dalam konteks bagaimana seseorang mencintai suatu perbuatan. Tentu perbuatan yang membuatnya senang, bahagia, nan gembira kala melakukan kecintaannya. Setidaknya ia telah memahami dengan pasti akan kecocokan dirinya dan apa yang ia tengah lakukan.
Area pembicaraan cinta memang sangat luas dan universal, relativitasnya tergantung dari segi apa seseorang itu mengalami. Cinta tidak sempit hanya antara sesama manusia, pasangan kekasih, persahabatan dua insan, hobi, atau pula kepada sekian eksistensi alam.Cinta dengan luar biasanya dapat pula tumbuh dari insan yang tengah gila dalam percintaan kepada Sang Maha Cinta.
Dari masa ke masa, tak henti-hentinya manusia menggali lebih dalam akan eksistensi kehidupan, dan lebih dalam lagi mereka menemukan sebuah manifestasi keindahannya, cinta yang terus dan selalu dialami tiap-tiap insan, dicari makna serta mengapa. Walau banyak teori hormonal dari nalar para pemuja sains mengenai cinta, tak cukup memuaskan manusia -para muda mudi khususnya- yang tengah mengalami masa penggalian jati diri, ombang ambing asmara, dan gemuruh suara cinta.
Dalam  perihal sesama, mengenai cinta, bagaimana pula keadaan cinta yang timbul hanya dengan adanya perjumpaan singkat?, tentu hal ini sangat berbeda, bukan tentang masa yang diperlukan agar cinta itu tumbuh, namun bagaimana bisa cinta -manifestasi keindahan hidup- dapat muncul begitu saja hanya dengan sekali bertemu!!??.
Aku mencintaimu sejak pandangan pertama, secepat itukah perasaan cinta keluar?, muda mudi yang penuh dengan kisah kasih asmara, deru ombak romansa, ataupun badai rindu dan puja. Bisakah mereka menjawab, apa cinta?, untuk apa cinta?, mengapa engkau mencinta?, ADA APA DENGAN CINTA?
Seorang insan yang tengah bimbang dengan perasaan, memberanikan bertanya pada diri sendiri, mengenai perasaan yang selalu menghantui, “Wahai diriku, engkau kini mengalami apa yang dahulu Adam dan Hawa rasakan, setidaknya engkau pasti tau apa rasa ini, maka izinkan aku bertanya…….

Apa Arti Cinta?
          Melihat sebab, efek, dan reaksinya, cinta adalah rasa yang muncul dari sebuah kelebihan atas sesuatu, menenangkan dan mencandui hati, sehingga seakan-akan tiada henti untuk ingin dekat dan merealisasikan dengan berbagai hal.Oleh karena itu, sangat tidak mungkin cinta bisa muncul dari sesuatu yang tidak menenangkan, menjemukan, meresahkan, dan mengganggu suasana senang hati.Berdasarkan pengertian tersebut, ciri khas cinta yang paling konkret adalah menjadikan suasana ketenangan dalam hati.
          Bermula, berproses, mengerti, dan mencintai, itulah asal muasal cinta timbul dan terwujud.Bila mana konteks percintaan ini dipersempit, hanya terfokus antar sesama manusia, yang dalam hal ini adalah antara laki-laki dan perempuan.Tentu tak mungkin ada cinta tanpa adanya perjumpaan, saling kenal, bercengkrama dalam kala waktu yang kadang tak terkira, dan telah menjumpai pemahaman serta saling pengertian antara keduanya, hingga berujung pada cinta.
            Sungguh cinta yang hakiki itu adalah cinta yang timbul, bukan ditimbulkan. Tumbuh dan berkembang dengan proses serta melewati berbagai macam suasana. Anugrah yang diberikan dengan pengorbanan rasa, sakit jiwa, panas dingin raga, dan pening kepala.Keindahan pelangi tak muncul begitu saja tanpa ada sambaran halilintar sebelumnya, guyur hujan atau angin ribut serta topannya.Indah pesona gunung di pagi hari tak seindah dataran terselimuti kabut awan diantara pepohonan yang dilihat diatas puncak, karena butuh perjuangan agar sampai di puncak keindahan, melalui dakian bebatuan terjal, dalam tajam tikungan jurang, dan lebatnya pepohonan dalam hutan.
            Tak acuh rasanya mendengar kata “Cinta pandangan pertama”.Sebatas mencuri dengar dari bibir-bibir mereka yang tertipu. Kadang rasa itu menipu, kadang pandang juga menipu, karena sebisa apapun seorang ilmuan menjabarkan rasa, pada ujungnya akan berkata, “semua itu relatif”. Maka lihat bagaimana rasa itu bermula dan berproses.Manis gula tak bisa muncul dari peccahan kaca, manisnya harus melalui tunas pohon tebu, butirnya harus diproses melalui perasan dan campuran mesin canggih parik tebu, dan bisa dibeli setelah teruji dari banyak ujian dan percobaan. Begitupun cinta, jangan tertipu hanya dari elok rupa atau manis suara, tak heran rasa –tipuan- itu  bisa sirna setelah engkau terluka karena keras dan tajamnya.
Kini diapun mengerti mengapa anugrah itu diberikan, melalui jawaban historis pengalaman dari kenangannya. Dia telah mengerti, dia  telah tahu, namun ia tetap masih dalam kebingungan, sehingga kembali lagi ia bertanya, “Bolehkah aku tau …….

Untuk Apa Cinta?dan Mengapa Aku Membutuhkannya?
Cinta yang hadir atas kebiasaan, pelan-pelan menghadirkan sebuah arti dari eksistensi suatu hal, mengapa hal itu ada, untuk apa serta akan bagaimana hal itu pada akhirnya. Realitas cinta sangat dibutuhkan, agarnya sesuatu hal dapat dengan langgeng hidup dan eksis.Sekali lagi, karena cinta itu adalah candu. Sekali seseorang telah kecanduan terhadap sesuatu maka dia tak akan merasa nyaman tanpa adanya sesuatu itu.
Hadirnya cinta membawa kedaimaian, nilai dan energi positif, muncul mencerahkan pikiran dan memberikan kekuatan. Pandangan visi misi kehidupan jelas, terpapar rapi setelah mengambil pelajaran dari proses kehidupan, sambil menikmati apa yang ia jalani bersama perasaan cinta. Ibarat pencinta ilmu, tak mungkin ia bisa terus menerus menebarkan ilmu tanpa pernah bersentuhan dengan ilmu, tak bisa diakal bila ia tak pernah menikmati dan jatuh cinta dengan ilmu bila hanya terpaku dengan aliran air dari hili ke hulu.
Sungguh tidak memungkinkan sesuatu dapat terus langgeng berjalan bila tidak ada kenikmatan, suasana hati yang tenang.Rasa jemu hanya mewarnai sesuatu yang memang pada dasarnya tidak dimengeti.Muncul dan memaksa diri untuk cepat-cepat terlepas dari ikatannya. Segala hal yang bermula tanpa adanya proses pengertian (biasa untuk memahami), tidak akan lama hidup, malah cenderung merusak dan merugikan.
Boleh dikatan bahwa Hidup untuk mencintai, dan cinta untuk menghidupi.Sekalipun seorang telah hidup di antara tumpuk ruah emas permata, tanah hijau penghasil tenaga, dan tinggi tembok istana menjulang menjaganya. Tetapi dikelilingi jerit suara amarah, istri cantik berkeliaran lupa akan adanya dia, putra putri berkeliaran seperti kura-kura berenang ria meninggalkan cangkangnya, juga perhatian yang kurang dari saudara sesama tetangga karena terhijabi tinggi tembok penjaga. Bisa saja ia akan berakhir tragis berlumuran darah setelah terjun bebas dari jendela lumbung penghasil harta bendanya.
Umat manusia adalah makhluq yang tercipta dari hasil cinta Adam Hawa, mereka tercipta dari asas saling melengkapi, kebutuhan yang kalanya tidak mampu dipenuhi beberapa, bisa ditutupi oleh lainnya.Maka sebagai makhluq sosial, manusia tentu tidak ingin hidup terkucilkan, ingin mereka mendapat perhatian sesama. Perhatian itu menjadi salah satu proses dan hasil percintaan, kasih dan sayang tindakan, lembut dan halus perkataan, menjadikan sesama manusia hidup  dalam keharmonisan. Kedamaian diraih dengan pengorbanan, karena memang telah dikatakan bahwa cinta butuh pengorbanan.
Emosi dalam percintaan bukan sebuah konotasi negatif yang perlu diperdebatkan, galau yang timbul dari permasalahan bukan dari percintaan.Kadang masalah dan musibah itu timbul karena seseorang salah mengekspresikan percintaannya dalam kehidupan. Ingat kembali kisah Adam Hawa yang terpisah sekian jauh nan lamanya, bukan karena cinta mereka yang salah, akan tetapi dalam proses percintaan itu, mereka kompak melakukan kesalahan.
Selain terpengaruhi unsur hormonal, manusia pada hakikatnya memiliki potensi kehidupan, kekuatan yang kadang terlampaui dari batasan, bahkan hasrat tanpa batas untuk memiliki kekuasaan.Hal-hal yang cenderung berlebihan ini sebenarnya bermula dari ketidakbiasaan terhadap unsur material, yang parahnya membawa unsur non-material (perasaan) ke dalamnya.Maka  tak heran berkali-kali diperingati untuk tidak berlebih-lebihan dalam mencintai unsur material. Setidaknya berhasil atau gagalnya seseorang menjalani kehidupan adalah ujian dan cobaan.Cinta kepada Sang Maha Cinta dan alam semesta juga tak lepas dari ujian dan cobaan.
Indah emas permata tidak akan tercipta begitu saja tanpa melewati panas bumi yang menggelora, beribu-ribu derajat dipanasi dalam inti api, berlama-lama hingga meleleh kotoran yang mengotori zat muasal emas permata. Beditulah cinta, hidup dalam percintaan tak bisa lepas dari panas dinginnya musibah, emosi  yang terus menerus dan bergantian keluar mewarnai perjalanan hidup manusia. Polemik sosial kadang ikut serta dalam panggung asmara, bisik dan usik pun sering ada dari lainnya. Kembali lagi bahwa itu semua hanya ujian tuk menjadikan cinta indah bagai  emas permata.
Hidup memang tidak hanya dengan cinta, karena hidup perlu tenaga, harta, dan juga sesama.Silakan memiliki sekian fasilitas hidup, bergelimang dengan ruah limpah pesona fana. Namun sekali meniggalkan cinta kepada sesama, cinta kepada alam semesta, dan terutama cinta kepada Sang Pemberi Cinta, mungkin hidup ini akan sengsara, merana di atas derita, sepi di antara ramai ibu kota, dan mati meniggalkan nama yang hanya dikenal harta benda. Sungguh itulah hidup yang tak seorang pun inginkan.

Akhirnya dia mengetahui apa arti cinta, untuk apa dan mengapa ia  harus mencintai. Hingga ujungnya ia berkata “Terima kasih Tuhan atas cintanya”


Fadhil Achmad Agus Bahari
Mahasiswa Fakultas Syariah
UIN MALIKI Malang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar