Senin, 27 November 2017

Pacaran Dalam Al-Qur'an

Pacaran Menurut Al qur’an
Soal pacaran di zaman sekarang tampaknya menjadi gejala umum di kalangan remaja. Barangkali fenomena ini sebagai akibat dari pengaruh kisah-kisah percintaan dalam roman, novel, film dan syair lagu. Sehingga terkesan bahwa hidup di masa remaja memang harus ditaburi dengan bunga-bunga percintaan, kisah-kisah asmara, harus ada pasangan tetap sebagai tempat untuk bertukar cerita dan berbagi rasa.
Selama ini tempaknya belum ada pengertian baku tentang pacaran. Namun setidaknya di dalamnya akan ada suatu bentuk pergaulan antara laki-laki dan wanita tanpa nikah.
Kalau ditinjau lebih jauh sebenarnya pacaran menjadi bagian dari kultur Barat. Sebab  biasanya masyarakat Barat mensahkan adanya fase-fase hubungan hetero seksual dalam kehidupan manusia sebelum menikah seperti puppy love (cinta monyet), dating (kencan), going  steady (pacaran), dan engagement (tunangan).
           
Kemudian ada lagi pengrtian pacaran menurut pemuda-pemudi aktivis organisasi Islam yang katanya punya semangat terhadap Islam disebabkan dangkalnya ilmu syar’i yang mereka miliki dan terpengaruh dengan budaya Barat yang sudah berkembang, mereka memunculkan istilah “pacaran islami” atau “pacaran syar’i” dalam pergaulan mereka. Mereka hendak tampil beda dengan pacaran-pacaran orang awam. Tidak ada saling sentuhan, tidak ada pegang-memegang. Masing-masing menjaga diri, kalaupun saling berbincang dan bertemu, yang menjadi pembicaraan hanyalah tentang Islam, tentang dakwah, saling mengingatkan untuk beramal, dan berdzikir kepada Alloh serta mengingatkan tentang akhirat, surga, dan neraka.
Semua pengertian pacaran yang telah dijelaskan sebagaimana di atas tetaplah di dalam islam pacaran itu tidak dipebolehkan karena praktik pacaran dilakukan oleh para remaja antara mudhorot (keburukan) dengan mashlahatnya (kebaikan), lebih besar nilai mudharatnya, karena kendatinya seorang laki-laki dan perempuan itu haruslah saling menjaga. Seperti dalam Al Qur’an surat an-Nur ayat 24, yang artinya
“Katakanlah (wahai Muhammad) kepada laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan sebagian pandangan mata mereka dan memelihara kemaluan mereka, yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan sebagian pandangan mata mereka dan memelihara kemaluan mereka”.
Untuk mencegah terjadinya praktik pacaran oleh remaja, Islam menyarankan apabila sudah mampu secara lahir dan batin hendaknya ia menyegerakan untuk menikah, karena dengan menikah itu dapat menjaga jiwa dan agamanya. Dan dengan menikah segala kebaikan akan datang. Itulah pernyataan dari Nabi Muhammad Saw:
“Wahai para pemuda, barangsiapa yang telah mampu (menafkahi keluarga), hendaklah dia menikah, karena menikah itu lebih bisa menundukkan pandangan dan lebih bisa menjaga kemaluan...”[1]
Islam menjadikan pernikahan sebagai satu-satunya tempat pelepasan hajat birahi manusia terhadap lawan jenisnya. Lebih dari itu, pernikahan sanggup memberikan jaminan dari ancaman kehancuran moral dan sosial. Itulah sebabnya Islam selalu mendorong dan memberikan berbagai kemudahan bagi manusia untuk segera melaksanakan kewajiban suci itu.

Perbedaan Kisah Pacaran Dalam al-Qur’an dan Zaman Sekarang
Saat itu Adam sedang tidur di bawah pohon, lalu Allah menciptakan Hawa dari tulang rusuk Adam yang paling pendek, tak lama kemudian, Adam bangun lalu menatap Hawa di hadapannya, Adam tidak kaget dan terkagum-kagum melihatnya[2].
Hawa diciptakan dengan dihiasi oleh kecantikan, keangunan dan keindahan serta sifat-sifat terpuji lainnya, tak heran kalau Adam terpikat olehnya. Hati Adam berbisik kepadanya, bahwasannya ia penasaran siapakah gerangan yang ada di hadapannya.
Lambat laun, Allah SWT. menyempurnakan lahir dan batin keduanya yang saling ada rasa diantaranya, dalam riwayat, Allah SWT berfirman “Segala puji adalah kepunyaan-Ku, segala kebesaran adalah pakaian-Ku, segala kemegahan adalah hiasan-Ku dan segala makhluk adalah hamba-Ku dan di bawah kekuasaan-Ku. Menjadi saksilah kamu hai para malaikat dan para penghuni langit dan syurga bahwa Aku menikahkan Hawa dengan Adam, kedua ciptaan-Ku dengan mahar, dan hendaklah keduanya bertahlil dan bertahmid kepada-Ku!”.
Hawa menuntut haknya sebagaimana yang disyariatkan Tuhan sejak semula. “Mana mahar?” tanyanya. Ia menolak bersentuhan sebelum mahar pemberian dibayar dulu. Adam bingung seketika. Lalu sadar bahwa untuk menerima haruslah bersedia memberi. Dia insaf bahwa yang demikian itu haruslah menjadi kaidah pertama dalam pergaulan hidup.
Sekarang dia sudah mempunyai kawan. Antara sesama kawan harus ada saling memberi dan saling menerima. Pemberian pertama pada pernikahan untuk menerima kehalalan ialah mahar. Oleh karenanya Adam menyadari bahwa tuntutan Hawa untuk menerima mahar adalah benar. Hawa mendengarkannya dan menerimanya sebagai mahar. “Hai Adam, kini Aku halalkan Hawa bagimu”, perintah Allah, “dan dapatlah ia sebagai isterimu!”. Adam bersyukur lalu masuk kamar isterinya dengan ucapan salam. Hawa menyambutnya dengan segala keterbukaan dan cinta kasih yang tulus Allah SWT. berfirman kepada mereka: “Hai Adam, diamlah engkau bersama isterimu di dalam syurga dan makanlah (serta nikmatilah) apa saja yang kamu berdua ingini, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini(Pohon Khuldi) karena (apabila mendekatinya) kamu berdua akan menjadi zalim”. (Al-A’raaf: 19).
Dengan pernikahan ini Adam tidak lagi merasa kesepian di dalam syurga. Inilah percintaan dan pernikahan yang pertama dalam sejarah ummat manusia, dan berlangsung di dalam syurga yang penuh kenikmatan, yaitu sebuah pernikahan agung yang dihadiri oleh para bidadari, jin dan disaksikan oleh para malaikat.
Sedangkan, jika dibandingkan pada zaman sekarang kata pemuda pada umumnya disandangkan dengan kata pacaran. Seolah masa muda adalah masa pacaran dan terkesan bahwa masa muda harus memiliki pasangan. Sehingga jika ada seseorang yang tidak memiliki pasangan merasa bahwa dirinya sudah ketinggalan zaman. Itulah realita saat ini. Hal semacam ini tidak lain bersumber dari kisah-kisah percintaan dalam film-film, novel-novel dan sejenisnya. Jika ditelaah lebih jauh sebenarnya pacaran juga berasal dari budaya barat yang memang di sana melegalkan hubungan bebas tanpa batas antara pria dan wanita.
Pada dasarnya pacaran lebih banyak mudhorotnya dari pada manfaatnya. Misalnya, seseorang akan lebih sering membayangkan orang yang dia cinta di waktu luangnya, karena rasa itu dikuatkan dengan adanya hubungan khusus yang biasa di sebut pacaran. Hal tersebut mengakibatkan terbengkalainya kewajiban dan terkurangnya konsentrasi dalam belajar. Sebagai pelajar, terutama bagi mahasiswa yang seharusnya masih dalam proses pematangan pengetahuan malah terlena dengan cinta yang sudah ia bungkus dengan status pacaran.
Sedikit demi sedikit moral akan terkikis akibat pacaran atau pergaulan bebas. Karena jika ada hubungan antara pria wanita yang saling suka cendenrung ingin lebih sering berdua, berpegangan, berpelukan hingga melakukan hubungan selayaknya suami istri. Hal seperti ini sudah jelas bertentangan syariat islam. Sebagaimana sabda nabi : "hendaklah kita benar-benar memejamkan mata dan memelihara kemaluan, atau Allah akan benar-bemar menutup matamu. (HR. Thabrany).

Solusi Masalah Pacaran Berdasarkan al-Qur’an
       Telah disebutkan di atas, bahwa segala bentuk pacaran –baik pacaran pada umumnya atau pacaran syar’i- adalah dilarang oleh islam, dengan isyarat dalam al-Qur’an surat al-Isra’ ayat 32, yang artinya:
            “Dan janganlah kalian mendekati zina, (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk”
Ayat di atas sebagai konsep dasar dilarangnya pacaran, melalui redaksi ayat yang menggunakan kata “mendekati”, artinya segala hal yang dapat menjerumuskan atau menjuruskan ke perbuatan zina adalah dilarang.
            Perbuatan yang dinilai mendekati, secara kilas pandang memiliki makna yang beragam atau multi-tafsir, dengan tidak dicantumkannya apa saja bentuk pendekatan yang menjurus ke zina. Redaksi tersebut telah mendapatkan penjelasan di dalam surat lain, sebagaimana yang telah tercantum dalam surat an-Nur ayat 24:
“Katakanlah (wahai Muhammad) kepada laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan sebagian pandangan mata mereka dan memelihara kemaluan mereka, yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan sebagian pandangan mata mereka dan memelihara kemaluan mereka”.
            Kembali lagi didapatkan redaksi dasar dalam perihal setema ini, yaitu “menundukkan pandangan”. Sebagai dasar menjauhi zina, “menundukkan pandangan” menjadi poin terpenting dalam proses permulaan sebuah komunikasi. Sedang kita berhadpan dengan kenyataan, bahwa manusia tidak akan terlepas dari komunikasi, baik sesama jenis maupun lain jenis.
            Tidak ada letak kesalahan dalam komunikasi, karena komunikasi memang dibutuhkan untuk menyambung silaturahmi. Akan tetapi yang memicu terjadinya komunikasi inilah yang akhirnya menjadi sorotan Islam Selain yang telah disebutkan dalam al-Qura’an, Nabi Muhammad Saw bersabda, “Janganlah kamu ikuti pandangan pertama dengan pandangan berikutnya, karena bagimu yang pertama dan yang berikutnya tidak boleh bagimu”[3].
            Melakukan kontak mata atau terjadinya pandangan adalah keniscayaan, tidak bisa dihindari. Akan tetapi untuk kali pertama terjadinya pandangan adalah diperbolehkan, dengan catatatan adalah pandangan yang terjadi tanpa ada niatan atau kesengajaan. Dan segala bentuk pandanga yang dilempar setelahya, baik yang sengaja maupun tidak adalah tidak diperkenankan, karena kecenderungan yang terjadi dipandangan kedua ini adalah rasa penasaran.
            Dalam rangka menjaga batasan berkomunikasi, sebagaimana larangan pandangan, al-Qur’an lebih tegas dalam membatasi perihal suara. Sesuatu yang vital dalam lingkungan komunikasi, telah mendapat perhatian khusus al-Qur’an melalui ayat ke 32 surat al-Ahzab yang artinya:
            “Wahai istri-istri Nabi! Kalian tidak seperti perempuan-perempuan yang lain, jika kamu bertaqwa. Maka janganlah kalian tunduk (melemah lembutkan suara) dalam berbicara sehingga bangkit nafsu orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik”.
            Perihal suara yang dilarang di ayat tersebut adalah suara yang dilemah lembutkan, berkenaan dengan tinggi rendahnya nada suara. Secara gamblang ayat di atas diperuntukkan perempuan, namun secara tidak langsung juga memiliki isyarat yang serupa kepada laki-laki.
Berbeda dengan sebab dilarangnya perempuan melembutka suara, karena laki-laki –dalam redaksinya lelaki berpenyakit hati- cenderung akan bangkit terhadap kelembutan suara perempuan. Sedangkan perempuan sendiri –dalam salah satu penyampaian seorang motivator bernama Mario Teguh- cenderung suka dengan suara laki-laki yang besar dan dalam walau tidak sebagaimana laki-laki yang langsung berhasrat.
Redaksi ayat yang umum tersebut juga memiliki peluang tafsir yang beragam, sesuai dengan konteks pembicaraannya. Seperti halnya dengan nada suara tertentu yang dilarang, ayat tersebut juga mengangkat sebab yang kembali lagi menjadi acuan pelarangan suara sebagai alat komunikasi, yaitu reaksi (hasrat) yang keluar setelah mendegarkan hal tersebut. Secara tidak langsung, yang diinginkan ayat ini bukan hanya perihl nada suara, akan tetapi adalah perkataan yang dapat menimbulkan sebuah rasa tersendiri. Atau secara garis besarnya adalah perkataan-perkataan yang dengan sengaja diucapkan untuk membuat lawan bicaranya terlena –dalam konteks hasrat-. Bersamaan dengan diketahuinya bahwa mayoritas perempuan lemah terhadap perkataan manis dari laki-laki.
Dua hal dasar di atas –menundukkan pandangan dan menjaga suara atau perkataan- menjadi poin terpenting yang disampaikan al-Qur’an dalam rangka agar manusia bisa menjauhi perkara zina. Walau konteks zina adalah kontak kelamin, tentu bermula dari kontak fisik. Sehingga secara otomatis larangan melakukan kontak fisik diberlakukan sama seperti larangan melemparkan pandangan dan melembutkan suara atau perkataan.
Poin terakhir tentang lingkungan komunikasi ada bersua atau bertemu, mengandung berbagai hal yang sama dengan sebelumnya. Pertemuan dalam pandangan al-Qur’an diatur dalam surat al-Ahzab ayat 53 yang artinya:
“......Apabila kalian meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir....”
Pertemuan langsung sangat harus dihindari, dikarenakan akan sangat sulit untuk menghindari pula kontak mata juga suara. Akan tetapi bila melihat realita bahwa kebutuhan yang mutlak terhadap pertemuan sudah tidak dapat dihindari lagi, maka melalui sabda Nabi Muhammad Saw: “Janganlah sekali-kali seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita keuali wanita itu disertai dengan muhrimnya. Dan seorang wanit juga tidak boleh bepergian sendirian, kecuali ditemani mahramnya”[4]. Sesungguhnya kedua larangan di atas, berdasarkan sebab yang sama, yaitu pandangan dan suara. Sehingga apabila wanita dan laki-laki telah berduaan tanpa ditemani dengan mahrab dari perempuan, maka kemungkinan terjadi hal yang dilarang akan semakin besar.
           
Mengenai komunikasi yang dilarang karena melampaui batasan-batasan di atas, dalam hal ini Islam memberikan satu istilah yang kembali lagi harus diketahui seluruh kaum muslimin khususnya pemuda, yaitu mukhalathah. Istilah ini digunakan untuk mengekspresikan sebuah komunikasi yang menghadirkan pandangan-pandangan tanpa batas, perkataan maupun nada, kontak fisik, maupun posisi yang hanya berdua.
Dalam hal pacaran, baik syar’i maupun pada umumnya, akan terjadi mukhalathah dengan konsentrasi komunikasi yang intens. Oleh karenanya, yang diinginkan al-Qur’an mengenai komunikasi adalah pemenuhan keperluan atau kebutuhan manusia yang bersifat materi bukan hati. Sedangankan pacaran berkeinginan agar terjadinya kepuasan hati.

Minggu, 19 November 2017

Being a Helper


The only creature which is able to manage every kind of matters in the world is Human, being called as a smartest creature, Human has rights and responsibilities of keeping life, as well as curing a diseases, solving problems, or damage fixing.

Things that another creatures couldn't deal and only human who is able to be a helper. I say helper because I saw that several humans do something bad, mischief, criminal, damage, or anything else. On the other  hand, several of us, just keep calm and watch these phenomenon on TV.

Our tendency of facing this reality is consider that there are many people do wrongdoers, mock them, insult what are they doing, and judge them as a criminal. But, we do nothing to against it, or we just think how to hostile them.

The best way I thought to solve this problem is unite and together do solving steps, like establishing  care organization, team rescue or foundation of alms.

This is a video that will show to you what is the meaning of being a helper, being a manager of the world. I hope, by this video, you can take a lesson and do something real to save the world.
                

Kamis, 16 November 2017

Generasi Millennial Generasi Multi-Talenta





Abad 21 adalah masa pancaroba kebudayaan dunia, silih bergantinya budaya satu ke budaya lain. Macam-macam budaya yang saling berganti inilah nantinya akan saling mengasimilasi nan memberi warna baru terhadap perjalanan sebuah generasi. Metamorfosis budaya dunia ini tidak bisa terlepas dari pelbagai macam inovasi penemuan teknologi. Hingga mana teknologi juga akan memfasilitasi budaya untuk berkelana ke belahan dunia lain.
            Secara massal, kemajuan teknologi –informasi khususnya- telah merambat ke penjuru dunia -walau pada hakikatnya ada beberapa peradaban dengan sengaja menghindar dari inovasi ini-, sehingga manusia dimudahkan dengan berbagai kemudahan yang ditawarkannya. Jarak jauh yang memisahkan benua, samudra yang luas penghalang komunikasi, atau bentangan gurun pasir bukan lagi masalah manusia abad 21 untuk saling bercengkrama.
            Generasi Millennial akrabnya, sebutan techno-generation juga disematkan oleh pemikir abad ini untuk mengekspresikan karakternya. Kedekatan mereka dengan teknologi menjadi corak khusus sekaligus pembeda dengan generasi sebelumnya. Baby boomerssebegai kakekpara Millennial juga Generasi Xtelah berjasa mewariskan kekayaan inovasi teknologi informasi kepada generasi setelahnya, yaitu Generasi Y atau Generasi Millennial. Hanya ternyata dalam perjalanan generasi ini, banyak sekali memberikan nuansa buruk yang kembali lagi dinilai nan dikritisi oleh Generasi X maupun baby boomers. Apa kemudian ini menjadi kesalahan baby boomers dan Generasi X karena telah mewarisi inovasi, atau kesalahan ini dikembalikan kepada sang pewaris?.
            Dalam menengarahi masalah ini, tak bisa kemudian melepas diri dari apakah makna Generasi Y atau Generasi Millennial, juga tidak layak kemudian hanya melihat perbuatan generasi ini dan menghujatnya tanpa memahami karakter atau sifat mereka. Mengingat perkataan seorang bijak “Bilamana seorang bisa mengetahui apa yang orang lain pikirkan, niscaya tidak akan ada kebencian di dunia ini”. Maka mari memunculkan pertanyaan tentang hal ini, apakah Generasi Millennial?, bagaimana karakter yang dimilikinya beserta sebab-sebab yang melatarbelakangi munculnya karakter tersebut?, dan apakah baik buruknya karakter mereka terhadap kehidupan mereka sendiri serta generasi lainnya?.
            Dalam kamus Oxford edisi keempat, Millennial diambil dari kata Millennium yang berarti periode 1000 tahun atau masa ketika satu periode 1000 tahun berakhir dan masa lainnya bermulai. Sedangkan Millennial itu sendiri lebih kepada orang-orang yang hidup pada masa tersebut, oleh karena itu arti dari Generasi Millennial adalah manusia yang lahir pada akhir periode 1000 tahun. Bila disandingkan dengan masa periode abad 20, Generasi Millennial lahir pada tahun-tahun antara 1980-an sampai 2000-an. Maka didapatkan bahwa generasi ini kini hidup pada umur 17-37 tahun, dan pada umur iniliah masa-masa kejayaan manusia dimulai.
            Secara singkat generasi ini terlahir dari baby boomers(terlahir antara 1940-1960-an, pasca perang dunia ke-2) dan Generasi X(terlahir antara 1960-1980-anpada masa ledakan industri musik dan film “MTV Gen”), pendahuluX tersebut menjalani masa-masa ketika dunia terlahir dari periode panjang perang dunia, lebih tepatnya, baby boomers  -sebagaimana disebut adalah generasi yang hidup pada saat terjadi ledakan populasi pasca perang dunia kedua-  menjalani hari-hari di saat dunia tengah memperbaiki diri dari kerusakan yang ditimbulkan akibat perang dunia ke 2. Tentu saja adalah masa-masa sulit yang membuat mereka terlatih dan menjadi manusia yang merasa harus memiliki kredibilitas keaktifan dalam pembenahan dunia. Mewarisi sisa-sisa masa kemunduran ekonomi akibat biaya peperangan, baby boomers terpaksa mendorong diri mereka untuk menciptakan unsur baru dalam bidang perekonomian, dan tentu saja sebagai bentuk hiburan bagi mereka. Dari baby boomers-lah kemunculan industri musik dimulai, dan diwariskan ke generasi X.
MTV sebagai salah satu industri hiburan populer pada tahun 1960-an, yaitu pada masa kelahiran Generasi X. Pengaruh ke dalam generasi ini menjadikan mereka kenal dengan budaya buruk dunia, hedonisme. Bukan tiba-tiba mereka kenal budaya ini, selain diwarisi generasi sebelumnya, Generasi X adalah generasi yang hidup pada saat tingkat perceraian meninggi. Hal ini adalah salah satu akibat dari tendensi manusia yang terlalu berpandangan materialistik dan menjadikan IQ (Intellegence Quotient) dan EQ (Emotional Quotient) sebagai tolak ukur kesuksesan mereka, sehingga akibatnya adalah timbulnya kebobrokan rohani. Mewarisi masa-masa buruk ini, Generasi X lari dari zona broken home ke zona nyaman baru di dunia irama dan drama. Walaupun pada masa ini, dunia dalam kondisi stabil, mereka para Generasi X, mulai menunjukkan tanda-tanda kemerosotan moral, ditandai budaya hedonisme yang kelak diwariskan ke generasi setelahnya, Generasi Millennial.
            Telah kita ketahui bersama, bahwa pada masa akhir abad 20, yaitu pada tahun 90-an. Terjadi suatu bencana besar yang menerpa hampir seluruh negara-negara di dunia, salah satunya Indonesia. Krisis moneter pada masa akhir orde baru, setidaknya adalah bukti bagaimana klimaksnya akibat yang timbul karena kebobrokan karakter generasi pada saat itu. Setelah bangkit dari masa kelam perang dunia ke-2, juga masa bermunculan teknologi-teknlogi baru, bukan jaminan begusnya generasi penerus, bilamana hedonisme terlahir dari segala kemudahan itu. Maka pada masa ini, terlahir pulalah generasi yang kelak diharapkan andilnya dalam memimpin dunia sebagaimana pendahulu mereka telah mewarisi dunia dengan segala penemuan mereka.
            Generasi Millennial, telah dipahami lahir pada saat teknologi informasi tengah menyebar ke penjuru dunia. Mereka merasakan mudahnya berkomunikasi jarak jauh, juga informasi luar negara bahkan benua sudah mereka rasakan. Kemudahan tersebut kembali lagi diusik dengan krisis moneter akibat terjadinya berbagai inflasi dan ketidakstabilan ekonomi barat –sebagai kiblat ekonomi- pada saat itu.  Hidup di antara kesenangan dan kesusahan, terombang-ambing antara lari dari kesulitan atau kenikmatan. Memang periode krisis moneter tidak lama, dengan hitungan tahun saja perekonomian dunia stabil kembali dengan menyisihkan negara-negara berkembang seperti Indonesia.
            TV berwarna mengenalkan budaya dari berbagai penjuru dunia, termasuk pada saat itu adalah budaya hedonisme barat masuk ke negara-negara Timur, salah satunya Indonesia. Industri musik yang telah lama lahir, perfilman serta fashion telah membludak meramaikan seisi kota, hingar bingar dunia pada saat itu mewarnai porak poranda krisis moneter.Setidaknya dari hal itulah kemudian melahirkan dua jenis manusia, yang condong kepada kesenangan dan yang cenderung untuk berjuang.
            Menjadi bahan diskusi para pemikir seluruh generasi, Generasi Millennial telah menarik perhatian mereka dengan tingkah laku yang kian mengkhawatirkan. Tahun-tahun ini pun, tingkat perhatian Millennial terhadap fenomena di dunia teralihkan, mereka saat ini lebih asik dengan dunia maya yang menawarkan berbagai kemudahan. Benar adanya mereka disebut sebagai techno-generation yang menguasai medsos, komunikasi, hiburan dan informasi, namun ketidaknyataan dunia mereka adalah sebuah kekhawatiran akan kemerosotan sosial. Di sinilah akan dibahas tentang positif dan negatif karakter Generaasi Millennial.
            Tentu berbeda dengan generasi sebelumnya, pada generasi awal –yang telah disebutkan- adalah masa kebangkitan manusia dan idealisme materialistik muncul, memengaruhi Generasi X yang kelak juga menemukan inovasi teknologi berbasis kemudahan dan kesenangan, sedangakan Generasi Y mendapat semua fasilitas kemudahan dan budaya hedonisme. Apa andil Generasi Y pun masih dipertanyakan, ataukah kita akan berpangku tangan menunggu performa mereka nanti atau mendiskusikannya dengan membaca karakter mereka?.
            Berbicara karakter, tentu tidak akan lepas dari istilah batin. BerdasarkanKamusBesarBahasa Indonesia kondisi batin akan memengaruhi segenap pikiran, perilaku budi pekerti, dan tabiat yang dimiliki manusia. Kondisi batin ini mudah dipengaruhi oleh apa yang secara konsisten dilihat atau didengar manusia. Lingkungan masyarakat, informasi, atau juga kondisi keluarga adalah pengaru-pengaruh yang pasti berdampak terhadap kereaktifan batin terhadap output yang berwujud pikiran, perilaku dan lain sebagainya.
            Kehidupan yang dicerminkan mereka melalui media sosial, adalah sebuah tanda bahwa kekuasaan mereka terhadap teknologi informasi tidak perlu dipertanyakan. Sayangnya penggunaan teknologi informasi yang melampaui batas membuat para Millennial buta terhadap realita dunia. Karakter mereka menjadi taruhannya, batin yang seharusnya menjadi nahkoda dalam menjelajahi samudra kehidupan telah terkontaminasi dengan kenikmatan sementara teknologi informasi. Kemudahan dalam berkomunikasi secara tidak langsung telah menyingkirkan mereka dari tanah sosial, tersingkir nan tenggelam ke dalamnya samudra medsos.
Akibat buruknya batin Millennial, berpengaruh kepada karakter kepedulian mereka. Kepekaan terhadap sosial kian menurut, perhatian kepada fenomena masyarakat bukan lagi menjadi prioritas. Bagi mereka kemudahan dan kesenangan yang ditawarkan teknologi adalah jaminan kebahagiaan hidup mereka kelak,  walau sebenarnya mereka hampir tidak pernah memikirkan masa depan mereka sendiri. Toh, siapa yang saat ini membahas masa depan mereka?. Ini adalah bukti bahwa Generasi Millennial tidak biasa dengan kehidupan realita sosial.
Realitanya, saat ini makanan mudah sekali didatangkan tanpa beranjak dari kediaman, karena sistem pesanan sudah merambat ke seluruh aplikasi dalam handphone pintar mereka. Tidak perlu lagi jauh-jauh menulurusi jalan atau menuggu lama kendaraan umum menjemut mereka. Tidak ada lagi perpustakaan yang ramai dikunjungi karena internet selalu terhubung ke perangkat keras, akan tetapi apakah mereka menggunakan jaringan internetuntuk mencari ilmu atau malah menggunakannya ke arah yang keliru?. Sehingga malaslah yang akhirnya tibul dan menjadi karakter mereka, laziness generation (generasi pemalas).
Berbagai aplikasi yang menterengkan berbagai fasilitas kemudahan atau juga permainan yang menawarkan tombol-tombol kesenangan setidaknya membuat Generasi Millennal mudah tergiur untuk gonta-ganti fitur di smartphone mereka, hal itu tentu saja akibat dari meledaknya iklan-iklan menggiurkan –kadang menjadikan perempuan sebagai ikon penarik pelanggan-. Walau menjadi salah satu lapangan bisnis dan lowongan pekerjaan, persebaran iklan membuat anak-anak kecil khususnya terbiasa untuk tidak konsisten terhadap apa yang seharusnya ia dalamai. Lalu apalagi yang tidak akan timbul sebagai karakter kurang baik mereka kecuali tidak konsisten, saya sebut saja karakter mereka dengan jumper generation (generasi tukang loncat).
Pada awal kemumculan medsos, fitur yang ditawarkan hanya jasa pengiriman pesan singkat nan kilat. Namun dalam perjalanannya, muncullah generasi terbaru media sosial yang menawarkan fitur terbaru, yaitu foto. Maka Millennial berbondong-bondong membuat foto yang bagus, kece, juga keren. Berkembang dan berkembanglah media sosial bersamaan dengan semakin besarnya gairah Millennial untuk memamerkan foto-foto mereka. Rasa ingin dilihat dan diperhatikan menjadi karakter baru yang generasi sebelumnya tidak separah ini, mereka terjangkit penyakit narsisme, maka sebut saja dengan narciss generation (generasi narsis).
Terlalu lama dalam dunia maya, para Millennial larut dalam kesenangan mereka dengan ketidaknyataan. Saking mudahnya berkomunikasi dengan dia yang jauh di sana, hingga menjauhkan yang dekat di sini. Apa adanya bibir untuk bicara bila ada jari yang terus-menerus menekan tombol qwerty di handphone mereka. Sayang sekali, kemudahan itu malah menyulitkan mereka terhadap realita sosial yang sebenarnya membutuhkan kehadiran generasi baru. Terjadilah degradasi sosial yang akhirnya membuat saya menyebut mereka dengan dissensitive generation (generasi tidak peka).
Egosentris mungkin pas disematkan kepada generasi ini sebagai bentuk ekspresi keegoisan mereka terhadap dunia. Ketidakpekaan, keinginan untuk selalu diperhatikan, ketidakkonsistenan terhadap suatu bidang, dan rasa malas mereka secara berangsur-angsur menjadikan mereka terlalu idealis dengan hanya berpatokan kepada kebenaran menurut mereka sendiri, itulah egois. Subjektivitas ini tentu menyulitkan dunia bila terus menerus orang-orang merasa benar dengan apa yang ia perspektifkan. Hanya dirikulah yang benar dan kamulah yang salah.
Sifat-sifat tersebut, sekali lagi, timbul karena ketidakdekatan mereka engan nilai-nilai spiritual. Kekeringan batin yang melanda Generasi Millenniummenghasilkan kekosongan peran diri mereka dengan ketidakpekaan diri terhadap fenomena di dunia. Tentu ini mengkhawatirkan para pemikir dengan kenyataan bahwa hanya merekalah, Generasi Millennial, yang bisa membawa dunia menjadi dunia penuh kebaikan dan dekat dengan tuhan, pada kalanya orang muslim menyebutnya baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.
Bukti bahwa buruknya karakter mereka bisa dilihat dari aktifnya mereka dalam meramaikan program atau acara di ranah pendidikan. Di beberapa perguruan tinggi, acara-acara yang digalakkan oleh organisasi tertentu, hanya dihadiri segelintir mahasiswa yang tentu saja memiliki kepentingan individu terhadap diadakannya acara tersebut. Harapan kehadiran mereka adalah berbentuk material, entah  pengakuan eksistensi mereka atau juga kursi-kusri mewah berkejabatan tinggi. Jelas ini sangat jauh dari nilai hakiki akan dilahirkannya Generasi Millennial, yaitu, sebagai pemimpin di masa mereka. Penebar kebaikan dan kasih sayang.
Bukti lain yang menunjukkan kebobrokan karakter mereka, adalah kisah percintaan antara laki-laki dan perempuan. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2010, menunjukkan bahwasanya jumlah kelahiran di Indonesia adalah sebesar 5 juta jiwa pertahun dengan dibarengai angka aborsi, 2,5 juta pertahun.  Jumlah 2,5 juta tersebut diambil dari hasil penelitian independen oleh pribadi atau LSM berdasarkan hitungan rata-rata aborsi yang dilakukan di klinik-klinik kota besar seluruh Indonesia. Apakah jeritan 2,5 juta janin itu adalah hasil hubungan yang sah?, tentu anda dan saya setuju bahwa jeritan-jeritan tak berdosa itu adalah hasil hubungan di luar nikah. Apa yang menyebabkan hal ini terjadi kecuali sebab sarapan siang malam para Millennial dari koneksi bebas internet mereka. Telah disebutkan di atas bahwa pertukaran budaya terfasilitasi dengan adanya teknologi informasi, dan diketahui bersama bahwa beberapa negara telah melegalkan pornografi sebagai salah satu pekerjaan disana.
Itulah serentetan karakter-karakter negatif Generasi Millennial yang dinilai mengkhawatirkan sekaligus menjadi bahan diskusi para pemikir abad ini. Apa kemudian Generasi Millennial hanya memiliki karaker buruk?, tentu tidak!. Saya dan anda adalah Generasi Millennium, dengan memerhatikan Generasi ini adalah salah satu bukti bahwa tidak semua manusia kelarihan 1980-2000-an adalah berkarakter buruk. Memang hedonisme telah menjamur dan membudaya pada saat itu hingga kini, akan tetapi realitanya, akibat dari kesulitan hidup pada masa krisis moneter melahirkan bibit unggul mau berjuang dan berubah. Tidak selalu kehidupan penuh kemudahan menjadikan manusianya hidup dalam kesulitan. Hal ini sangat relatif, tergantung bagaimana manusia tersebut mau memfasilitasi diri mereka dalam menjelajahi kehidupan.
Fitrah dari eksistensi hitam adalah putih, sesuatu yang terang pasti juga menimbulkan kegelapan. Cahaya mentari tidak akan bisa menerangi tempat yang tertutup. Tidak bisa disebut terang bila tidak ada yang diterangi (gelap). Begitulah fasilitas, dibalik kemudahan pasti ada kesulitan dibelakangnya. Seperti halnya cahaya yang menerangi tempat terbuka, manusia yang mau menggunakan fasilitas dengan baik akan diterangi dengan kemudahan-kemudahan, sebaliknya pengunaan fasilitas dengan sembrono akan mengarahkan pelakunya kepada kesulitan-kesulitan.
Generasi Millennial yang memiliki karakter-karakter baik adalah mereka yang mampu menggunakan teknologi dengan baik dan bertujuan nyata. Berbeda dengan para penyalahguna yang malas, bagi mereka yang mampu menggunakan teknologi dengan baik, akan merasakan nikmatnya mengeksplorasi berbagai macam informasi. Mereka menjadikan teknologi tersebut secara efisien, yang baik diambil dan yang buruk dihindari. Kebiasaan seperti ini akan melatih Generasi Millennial menjadi manusia berkarakter rajin, bekerja keras, dan cerdas. Mereka pandai memilih dan memilah informasi mana yang perlu diketahui. Sebuah hikmah yang memiliki korelasi dengan realita teknologi informasi, dikatakan “Dahulu ilmu sulit dicari karena manusia semangat mencari, kini ilmu mudah didapat karena manusia kurang semangat”. Maka beruntunglah Generasi Millennial bila bersemangat mencari ilmu di kala mudahnya ilmu itu didapat.
Generasi Millennial disebutkan di atas sebagai generasi tidak konsisten karena terbiasa gonta-ganti fasilitas. Ada kalanya karakter ini beresiko akan ketidakdalaman seseorang menguasai suatu bidang, akan tetapi dari gonta-gantinya mereka terhadap sebuah bidang, akan membuat mereka kreatif dalam menghubungkan bidang-bidang yang berbeda tersebut. Contohnya, Agung Hapsah, ia adalah seorang englishdebater, video maker, dan juga seorang  public speaker. Di umurnya yang tergolong muda, ia telah bisa menghasilkan pundi-pundi uangnya sendiri. Kemampuan yang bermacam-macam itu menjadikan dia seorang youtuber dengan ratusan ribu subscriber. Dari sinilah dapat diambil poin bahwa, semakin banyak seseorang menguasai berbagai bidang maka semakin terbuka bagi mereka untuk menghasilkan lowongan pekerjaan. Walau hakikatnya seseorang tidak akan bisa mengusai dua atau lebih kemampuan secara mendalam, pasti akan ada tendensi kepada salah satu kemampuan. Setidaknya bisa disebut mereka sebagai multi-talents generation (generasi multi-talenta).
Bisa dibilang seorang Agung Hapsah adalah seorang yang narsis, boleh dikatakan dia adalah orang yang suka mencari perhatian. Dia seperti sebagian besar youtubers yang ingin diperhatikan dan menjadi perhatian publik. Tidak selamanya karakter seperti itu dikatakan buruk, relatif bagaimana seseorang mengarahkan narsisme mereka. Banyak pula dari sikap seperti itu menjadi langkah syi’ar dakwah beberapa medsoser muslim mendakwahkan islam, khususnya ke kalangan muda-mudi. Narsisme tidak melulu bertujuan mencari perhatian orang kepada pelakunya, malah narsisme ini diarahkan untuk menunjukkan kepada publik sesuatu yang dipromosikan, seperti promosi wisata, produk, atau lain sebagainya.
Dissensitive atau ketidakpekaan menjadi salah satu masalah karakter Generasi Millennial, disebabkan ketidaknyataan dunia yang dijalani mereka. Mengurangi kepekaan mereka terhadap realita sosial, dan kecanggungan terhadap kehidupan sosial.  Hal itu adalah karakter pengguna teknologi yang berlebihan, tidak bisa meletakkan sesuatu pada tempatnya, tidak bisa mengerti kadar sesuatu yang harus diberikan. Namun hal ini tentu tidak berlaku bagi para pengguna teknologi yang bisa menempatkan dan mengetahui kadar teknologi tersebut. Dengan teknologi informasi khususnya, mereka gunakan sebagai fasilitas untuk menjalin hubungan dengan seorang yang jauh dari tempatnya, memudahkan koordinasi sebuah organisasi tanpa harus melangsungkan pertemuan. Dan pada saat bersua dengan seseorang, dicampakanlah device mereka dan fokus dengan apa yang mereka tangah hadapi. Hal yang sesederhana itu yang nantinya menjadikan Generasi Millennial sebagai effective and efficient generation (generasi yang efisien).
Di era saat ini, pribadi-pribadi yang aktif di jejaring sosial umumnya adalah mereka yang memiliki karakter sosial tinggi. Hal ini dibuktikan dengan logika bahwa orang yang memiliki jiwa sosial tinggi juga memiliki kepekaan terhadap realita zaman.  Keikutsertaan mereka untuk aktif di jejaring sosial adalah bentuk kepekaan mereka, dan pada saat berkumpul dengan sesama pun mereka mampu memilih mana yang pada saat itu menjadi prioritas. Malah bagi pribadi-pribasi yang sulit untuk aktif di jejaring sosial dengan alasan apapun, mereka akan menjadi sosok yang asing di mata sosial, hal ini karena jarangnya mereka muncul di media sosial. Walau nantinya dia cakap bercengkrama pada saat bersua, akan terasa asing ketika dia menyadari bahwa dirinya telah tertinggal berbagai informasi yang talah disampaikan melalui media sosial.
Maka bagi para Generasi Millennial, teknologi informasi bisa menjadi musuh juga partner. Relatifitas penggunaannya tergantung pribadi masing-masing, ketergantungan adalah sebuah konsekuensi dari kenikmatan. Namun jangan sampai ketergantungan tersebut menjadi kronis karena tidak ada langkah preventif maupun solutif guna menghadapi realita zaman techno.Gunakan teknologi tersebut sesuai pada kadarnya dan tempatnya, menjadi pribadi yang berkaraker kreatif adalah buah dari penggunaan teknologi ini secara baik.
Fadhil Achmad Agus Bahari
Mahasiswa UIN MALIKI Malang
Fakultas Syariah