Kini aku di atas lautan
Gamang tak karuan
Terhantam gelombang terpaan
Romansa di kala kasmaran
Izinkan aku mengungkapkan rasa
Yang juga menjadi arah manusia
Hidup dalam gelimang gempita
Yang kalanya pujangga menyebutnya……
------------ CINTA--------------
(Hamba Sang Pencinta)
Trisno jalaran saka kulino mungkin cukup menggambarkan
bagaimana perasaan itu tumbuh, muncul dari hati tiap-tiap manusia, keluar
menjadi sebuah realita, kasih sayang juga ikatan batin. Begitulah kiranya
seseorang memulai kisahnya, bermula dari sebuah pertemuan yang berlanjut ke
kebiasaan, dan bermetamorfosis menjadi perasaan kuat di hati, itulah cinta.
Memiliki sekian kebiasaan favorit
yang kalanya akrab disebut sebagai hobi, termasuk pula dalam konteks bagaimana
seseorang mencintai suatu perbuatan. Tentu perbuatan yang membuatnya senang,
bahagia, nan gembira kala melakukan kecintaannya. Setidaknya ia telah memahami
dengan pasti akan kecocokan dirinya dan apa yang ia tengah lakukan.
Area pembicaraan cinta memang sangat
luas dan universal, relativitasnya tergantung dari segi apa seseorang itu
mengalami. Cinta tidak sempit hanya antara sesama manusia, pasangan kekasih,
persahabatan dua insan, hobi, atau pula kepada sekian eksistensi alam.Cinta
dengan luar biasanya dapat pula tumbuh dari insan yang tengah gila dalam
percintaan kepada Sang Maha Cinta.
Dari masa ke masa, tak
henti-hentinya manusia menggali lebih dalam akan eksistensi kehidupan, dan
lebih dalam lagi mereka menemukan sebuah manifestasi keindahannya, cinta yang
terus dan selalu dialami tiap-tiap insan, dicari makna serta mengapa. Walau
banyak teori hormonal dari nalar para pemuja sains mengenai cinta, tak cukup
memuaskan manusia -para muda mudi khususnya- yang tengah mengalami masa penggalian
jati diri, ombang ambing asmara, dan gemuruh suara cinta.
Dalam perihal sesama, mengenai cinta, bagaimana
pula keadaan cinta yang timbul hanya dengan adanya perjumpaan singkat?, tentu
hal ini sangat berbeda, bukan tentang masa yang diperlukan agar cinta itu
tumbuh, namun bagaimana bisa cinta -manifestasi keindahan hidup- dapat muncul
begitu saja hanya dengan sekali bertemu!!??.
Aku mencintaimu sejak pandangan
pertama, secepat
itukah perasaan cinta keluar?, muda mudi yang penuh dengan kisah kasih asmara,
deru ombak romansa, ataupun badai rindu dan puja. Bisakah mereka menjawab, apa
cinta?, untuk apa cinta?, mengapa engkau mencinta?, ADA APA DENGAN CINTA?
Seorang insan yang tengah bimbang
dengan perasaan, memberanikan bertanya pada diri sendiri, mengenai perasaan
yang selalu menghantui, “Wahai diriku, engkau kini mengalami apa yang dahulu
Adam dan Hawa rasakan, setidaknya engkau pasti tau apa rasa ini, maka izinkan
aku bertanya…….
Apa Arti Cinta?
Melihat sebab, efek, dan reaksinya,
cinta adalah rasa yang muncul dari sebuah kelebihan atas sesuatu, menenangkan
dan mencandui hati, sehingga seakan-akan tiada henti untuk ingin dekat dan
merealisasikan dengan berbagai hal.Oleh karena itu, sangat tidak mungkin cinta
bisa muncul dari sesuatu yang tidak menenangkan, menjemukan, meresahkan, dan
mengganggu suasana senang hati.Berdasarkan pengertian tersebut, ciri khas cinta
yang paling konkret adalah menjadikan suasana ketenangan dalam hati.
Bermula,
berproses, mengerti, dan mencintai, itulah asal muasal cinta timbul dan
terwujud.Bila mana konteks percintaan ini dipersempit, hanya terfokus antar
sesama manusia, yang dalam hal ini adalah antara laki-laki dan perempuan.Tentu
tak mungkin ada cinta tanpa adanya perjumpaan, saling kenal, bercengkrama dalam
kala waktu yang kadang tak terkira, dan telah menjumpai pemahaman serta saling
pengertian antara keduanya, hingga berujung pada cinta.
Sungguh
cinta yang hakiki itu adalah cinta yang timbul, bukan ditimbulkan. Tumbuh dan
berkembang dengan proses serta melewati berbagai macam suasana. Anugrah yang
diberikan dengan pengorbanan rasa, sakit jiwa, panas dingin raga, dan pening
kepala.Keindahan pelangi tak muncul begitu saja tanpa ada sambaran halilintar
sebelumnya, guyur hujan atau angin ribut serta topannya.Indah pesona gunung di
pagi hari tak seindah dataran terselimuti kabut awan diantara pepohonan yang
dilihat diatas puncak, karena butuh perjuangan agar sampai di puncak keindahan,
melalui dakian bebatuan terjal, dalam tajam tikungan jurang, dan lebatnya
pepohonan dalam hutan.
Tak
acuh rasanya mendengar kata “Cinta pandangan pertama”.Sebatas mencuri
dengar dari bibir-bibir mereka yang tertipu. Kadang rasa itu menipu, kadang pandang
juga menipu, karena sebisa apapun seorang ilmuan menjabarkan rasa, pada
ujungnya akan berkata, “semua itu relatif”. Maka lihat bagaimana rasa
itu bermula dan berproses.Manis gula tak bisa muncul dari peccahan kaca,
manisnya harus melalui tunas pohon tebu, butirnya harus diproses melalui
perasan dan campuran mesin canggih parik tebu, dan bisa dibeli setelah teruji
dari banyak ujian dan percobaan. Begitupun cinta, jangan tertipu hanya dari
elok rupa atau manis suara, tak heran rasa –tipuan- itu bisa sirna setelah engkau terluka karena
keras dan tajamnya.
Kini
diapun mengerti mengapa anugrah itu diberikan, melalui jawaban historis
pengalaman dari kenangannya. Dia telah mengerti, dia telah tahu, namun ia tetap masih dalam
kebingungan, sehingga kembali lagi ia bertanya, “Bolehkah aku tau …….
Untuk Apa Cinta?dan Mengapa Aku
Membutuhkannya?
Cinta yang hadir atas kebiasaan,
pelan-pelan menghadirkan sebuah arti dari eksistensi suatu hal, mengapa hal itu
ada, untuk apa serta akan bagaimana hal itu pada akhirnya. Realitas cinta
sangat dibutuhkan, agarnya sesuatu hal dapat dengan langgeng hidup dan
eksis.Sekali lagi, karena cinta itu adalah candu. Sekali seseorang telah
kecanduan terhadap sesuatu maka dia tak akan merasa nyaman tanpa adanya sesuatu
itu.
Hadirnya cinta membawa kedaimaian,
nilai dan energi positif, muncul mencerahkan pikiran dan memberikan kekuatan.
Pandangan visi misi kehidupan jelas, terpapar rapi setelah mengambil pelajaran
dari proses kehidupan, sambil menikmati apa yang ia jalani bersama perasaan
cinta. Ibarat pencinta ilmu, tak mungkin ia bisa terus menerus menebarkan ilmu
tanpa pernah bersentuhan dengan ilmu, tak bisa diakal bila ia tak pernah
menikmati dan jatuh cinta dengan ilmu bila hanya terpaku dengan aliran air dari
hili ke hulu.
Sungguh tidak memungkinkan sesuatu
dapat terus langgeng berjalan bila tidak ada kenikmatan, suasana hati yang tenang.Rasa
jemu hanya mewarnai sesuatu yang memang pada dasarnya tidak dimengeti.Muncul
dan memaksa diri untuk cepat-cepat terlepas dari ikatannya. Segala hal yang
bermula tanpa adanya proses pengertian (biasa untuk memahami), tidak akan lama
hidup, malah cenderung merusak dan merugikan.
Boleh dikatan bahwa Hidup untuk
mencintai, dan cinta untuk menghidupi.Sekalipun seorang telah hidup di
antara tumpuk ruah emas permata, tanah hijau penghasil tenaga, dan tinggi
tembok istana menjulang menjaganya. Tetapi dikelilingi jerit suara amarah,
istri cantik berkeliaran lupa akan adanya dia, putra putri berkeliaran seperti
kura-kura berenang ria meninggalkan cangkangnya, juga perhatian yang kurang
dari saudara sesama tetangga karena terhijabi tinggi tembok penjaga. Bisa saja
ia akan berakhir tragis berlumuran darah setelah terjun bebas dari jendela
lumbung penghasil harta bendanya.
Umat manusia adalah makhluq yang
tercipta dari hasil cinta Adam Hawa, mereka tercipta dari asas saling
melengkapi, kebutuhan yang kalanya tidak mampu dipenuhi beberapa, bisa ditutupi
oleh lainnya.Maka sebagai makhluq sosial, manusia tentu tidak ingin hidup
terkucilkan, ingin mereka mendapat perhatian sesama. Perhatian itu menjadi
salah satu proses dan hasil percintaan, kasih dan sayang tindakan, lembut dan
halus perkataan, menjadikan sesama manusia hidup dalam keharmonisan. Kedamaian diraih dengan
pengorbanan, karena memang telah dikatakan bahwa cinta butuh pengorbanan.
Emosi dalam percintaan bukan sebuah
konotasi negatif yang perlu diperdebatkan, galau yang timbul dari permasalahan
bukan dari percintaan.Kadang masalah dan musibah itu timbul karena seseorang
salah mengekspresikan percintaannya dalam kehidupan. Ingat kembali kisah Adam
Hawa yang terpisah sekian jauh nan lamanya, bukan karena cinta mereka yang
salah, akan tetapi dalam proses percintaan itu, mereka kompak melakukan
kesalahan.
Selain terpengaruhi unsur hormonal,
manusia pada hakikatnya memiliki potensi kehidupan, kekuatan yang kadang
terlampaui dari batasan, bahkan hasrat tanpa batas untuk memiliki
kekuasaan.Hal-hal yang cenderung berlebihan ini sebenarnya bermula dari
ketidakbiasaan terhadap unsur material, yang parahnya membawa unsur
non-material (perasaan) ke dalamnya.Maka
tak heran berkali-kali diperingati untuk tidak berlebih-lebihan dalam
mencintai unsur material. Setidaknya berhasil atau gagalnya seseorang menjalani
kehidupan adalah ujian dan cobaan.Cinta kepada Sang Maha Cinta dan alam semesta
juga tak lepas dari ujian dan cobaan.
Indah emas permata tidak akan
tercipta begitu saja tanpa melewati panas bumi yang menggelora, beribu-ribu
derajat dipanasi dalam inti api, berlama-lama hingga meleleh kotoran yang
mengotori zat muasal emas permata. Beditulah cinta, hidup dalam percintaan tak
bisa lepas dari panas dinginnya musibah, emosi
yang terus menerus dan bergantian keluar mewarnai perjalanan hidup
manusia. Polemik sosial kadang ikut serta dalam panggung asmara, bisik dan usik
pun sering ada dari lainnya. Kembali lagi bahwa itu semua hanya ujian tuk
menjadikan cinta indah bagai emas
permata.
Hidup memang tidak hanya dengan
cinta, karena hidup perlu tenaga, harta, dan juga sesama.Silakan memiliki
sekian fasilitas hidup, bergelimang dengan ruah limpah pesona fana. Namun
sekali meniggalkan cinta kepada sesama, cinta kepada alam semesta, dan terutama
cinta kepada Sang Pemberi Cinta, mungkin hidup ini akan sengsara, merana di
atas derita, sepi di antara ramai ibu kota, dan mati meniggalkan nama yang
hanya dikenal harta benda. Sungguh itulah hidup yang tak seorang pun inginkan.
Akhirnya
dia mengetahui apa arti cinta, untuk apa dan mengapa ia harus mencintai. Hingga ujungnya ia berkata “Terima
kasih Tuhan atas cintanya”
Fadhil Achmad Agus Bahari
Mahasiswa Fakultas Syariah
UIN MALIKI Malang