Senin, 25 September 2017

Sejarah Pacaran (Pembuktian Cinta Yang Sehat)

                Dunia remaja adalah dunia penuh warna, dimana dunia seakan dalam genggaman. Semangat, hasrat, cita dan cinta mewarnai kehidupan mereka. Usia remaja juga masa menemukan jati diri, hakikat dan filosofi mengapa mereka hidup di Dunia. Merencanakan segala hal yang berkenaan dengan masa depan mereka. Demikianlah kondisi dunia remaja, dunia baru yang menjadi harapan masa depan.
                Pada usia inilah puncak asmara terjadi, gejolak perasaan dengan naik turunnya romantisme dalam jiwa mereka. Apalagi dalam proses menemukan jati diri, tak pelak terjadi kerancuan antara menemukan titik tolak masa depan mereka dengan masalah jodoh. Kembali lagi bahwa inilah masa puncak romansa, hasrat dan keinginan.
                Adalah sebuah fitrah ketika seorang remaja merasakan getaran cinta dalam dirinya, sewajarnya manusia normal yang pada dasarnya membutuhkan pasangan dan ketergantungan atasnya. Hanya kemudian pada usia ini, kecenderungan kearah itu berada pada puncaknya, namun puncak ini terbatas hanya hasrat. Berbeda ketika usia remaja telah terlewati, yaitu ketika telah mencapai usia kedewasaan.
                Perbandingan antara kedua usia tersebut terletak pada kesiapan dalam menjalani hubungan yang serius. Hubungan yang dibangun atas saling membutuhkan dan dibangun atas dasar tanggung jawab. Pada usia remaja, kecenderungan memiliki pasangan kadang tidak terkontrol, yaitu bila dirinya hanya ingin memiliki pasagan tanpa ada kesiapan untuk bertanggung jawab melanjutkan ke jenjang pernikahan. Tentu pada usia remaja kesiapan yang dimiliki amat sangat kurang, terutama perihal kesiapan material. Dengan belum dimilkinya pekerjaan, hal ini dapat berpengaruh terhadap mental. Tekanan demi tekanan yang kelak akan terjadi dikarenakan ketidaksiapan mencukupi kebutuhan material ini.
                Kembali pada konteks remaja, dimana istilah populer remaja yang seringnya disebut dengan pacaran, tidak lagi sepopuler jaman dahulu. Istilah pacaran telah berangsur-angsur luntur dengan munculnya istilah-istilah islam. Kebanyakan remaja islam yang terlanjur jatuh dalam perasaan cinta, melampiaskan perasaannya dengan cara yang mereka yakini benar, yaitu dengan pacaran syar’i –hubungan pacaran yang tidak menimbulkan dosa-.
                Pacaran syar’i yang sempat populer kala itu banyak diminati oleh mayoritas awam remaja islam. Dengan angapan bahwa agama mereka tidak melarang segala hal kecuali memang telah ada dalam hukum agama mereka. Lucunya, cara mereka menjalani hubungan itu tidak terlihat seperti pacaran pada umumnya, mereka menghindari kontak fisik, juga menghindari untuk bertemu berduaan. Sangat unik dan tentu saja berakhir dengan fatwa haram.
                Pacaran syar’i juga tidak berumur lama, kehadiran ustadz-ustadz muda yang baru-baru ini mematahkan istilah itu. Bagai hilang ditelan bumi, pacaran syar’i telah difatwakan haram oleh ustadz-ustadz islam. Dengan bahasa bijak dan penuh motivasi, mereka menyampaikan bahwa tidak ada bedanya antara pacaran syar’i pacaran tidak syar’i. Bagi mereka, kedua hal itu sama-sama pacaran, jalinan yang terbentuk di atas ketidakjelasan. Dan bagi mereka apapun bentuk pacaran hanya akan mendekatkan pelakunya kepada perbuatan tindak asusila sama-sama suka. Perjalanan pacaran syar’i kini telah berakhir dengan fatwa haram.
                Sejarah pacaran kembali terukir, yang pada kalanya pacaran pra-nikah kini dianjurkan pacaran pasca-nikah. Bagi ustadz-ustadz islam itu, pacaran yang boleh adalah pacaran setelah nikah. Terdengar seperti pukulan bedug yang menggemakan hati. Hati-hati penuh asmara muda bergetar sedikit kecewa, sebab mereka berpikir bahwa fatwa itu sama saja menyuruh mereka untuk cepat menikah. Jawab mereka “sama saja”. Menurut para ustadz, cinta itu hanya bisa dibuktikan bukan hanya dengan ucapan “aku mencintaimu”, tapi cinta itu juga harus dengan ucapan “saya terima nikahnya fulanah binti fulan dengan maskawin bla bla bla dibayar tunai”, bila ucapan itu mendapat balasan “sah” berarti cintanya diterima dan halal.
                Cinta itu suci dan perlu pengorbanan, usaha  yang sungguh-sungguh agar cinta itu berbuah manis, bukan hanya bagi kedua pasangan, akan tetapi orang lain pun bisa ikut merasakan manis buahnya. Oleh karena itu, mengapa cinta harus dibuktikan dengan menikah?, karena dengan menikahlah cinta dapat direalisasikan buahnya. Cinta yang kelak akan menumbuhkan kerjasama di atas visi kekeluargaan, berlandaskan kedewasaan dan saling pengertian satu sama lain.
                Penulis pun masih berada pada usia remaja, menginjak umur 20 tahun. Juga merasakan hal serupa, ingin sekali membuktikan cinta. Hanya kesadaran penulis bahwa penulis kini masih dalam jenjang kuliah dan belum memiliki pekerjaan, sehingga penulis memutuskan untuk fokus dalam study dan sedikit-sedikit berusaha mendapatkan pundi-pundi rezeki sendiri. Semoga apa yang tengah dilakukan penulis berbuah manis dan direstui Tuhan.

Fadhil Achmad Agus Bahari
Mahasiswa Fakultas Syariah

UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Jumat, 22 September 2017

Tuhan yang Hilang dari Dada Sang Garuda


                Melihat Indonesia kini dari berbagai aspek, tak dapat dikatakan bahwa Indonesia telah dalam keadaan damai, berbagai masalah yang terus-menerus muncul seakan tak ada hentinya menggeruskan dinding pertahanan ideologi bangsa yang hari demi hari kian menipis. Memang benar perkataan Soekarno bahwa musuh terberat adalah negeri sendiri, musuh tak nampak tertutupi selimut jabatan bagai rayap putih mungil yang menggerogoti fondasi bangsa. Pancasila yang kini tidak lagi berpanca karena ternodai praktik-praktik tak berketuhanan.
                Ketuhanan Yang Maha Esa, mungkin hanya sila yang dibaca tanpa pemahaman filosofi, kita sendiri mungkin mengiranya hanya sebatas perihal keagamaan semata, pada kenyataannya, agama sering kali dibawa-bawa ke ranah politik sebagai alat menarik pendukung. Tuhan yang biasanya terpenjara di tempat ibadah atau mimbar penceramah kini dipaksa ikut berkampanye. Istilah-istilah agama digunakan bukan lagi untuk mengajak umat mendekat diri ke rumah-Nya untuk berserah diri, tapi umat diajak ke rumah-Nya untuk berserah suara memilih politikus berkepentingan partai.
                Dimana esensi ketuhanan sekarang?, dikala berbagai kasus penggelapan uang rakyat, tindakan pelicin yang merusak keadilan, ditambah lagi kelakuan generasi muda yang individual nan hedonis, menjadi bukti bahwa posisi tuhan sekarang bukan lagi di dada Sang Garuda (Pancasila). Bangsa ini sudah lama kehilangan tuhan, bukan tuhan yang pergi tapi rakyat ini yang tidak menganggap-Nya saja.
                Agama memang satu-satunya harapan yang mengarahkan kembali bangsa ini kepada kodisi semula, kondisi pasca kemerdekaan. Dimana semua kalangan masyarakat kala itu bahu membahu menguatkan fondasi negara dengan tujuan sama. Istilah islam populer yang digunakan pada saat itu adalah baldatu tayyibatun warabbun ghofur. Sebuah negara yang damai dengan prospek keridlaan Tuhan.
                Kembali lagi kepada kenyataan bahwa bangsa ini jatuh dalam lubang materialisme, meraih kekayaan dan kemakmuran semata tanpa berupaya menjadikan masyarakat berketuhanan. Tugas ketuhanan hanya diemban oleh segelintir orang saja, penceramah, ulama’, guru ngaji dan pemuka agama lainnya. Sedangkan penjabat hanya berpikir tentang undang-undang –yang menguntungkan kalangan mereka-, sekalipun ada yang benar-benar berhati mulia mensejahterakan rakyat, tetap tidak menjadikan mereka sendiri bertuhan.
Tugas kemanusiaan memang salah satu tugas yang diamanahkan tuhan, dan tidak semua orang benar-benar mendalami disiplin ilmu ketuhanan. Hanya tujuan utama kemanusiaan adalah menjadikan manusia hidup damai dalam keberserahan diri kepada tuhan. Baik penjabat ataupun penceramah, keduanya bergerak di medan mereka masing-masing, tapi tetaplah selayaknya sebagai pemimpin dan wakil rakyat, integrasi negara dan agama adalah penting, karena agama dan Indonesia sebuah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
Kebijakan negara yang terpisah dari agama, bukan berarti menjadikan  negara ini sebagai negara tidak bertuhan. Hanya istilah-istilah agama yang dihindari ataupun hukum agama sekalipun.  Tuhan tetaplah pada posisinya, yaitu sebagai tujuan utama bangsa ini bersatu bersejahtera. Jangan lagi memenjara tuhan di tempat ibadah atau mimbar penceramah, juga tidak menjadikan tuhan sebagai kedok kampanye politik. Sudah seharusnya kita menempatkan-Nya di segala aspek kehidupan, sebagai kesaksian bahwa bangsa ini adalah bangsa yang bertuhan dan mengesakan-Nya.

Fadhiil Achmad Agus Bahari
Mahasiswa Fakultas Syariah
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Kamis, 21 September 2017

ESIQ Pancasila


                Pendekatan Pancasila melalui tiga kecerdasan manusia –Emosional, Spiritual, dan Intlektual- dapat menemukan titik temu permasalahan yang tengah terjadi di NKRI. Kasus korupsi yang kini semakin gencar diberitakan, aksi tidak bermoral pelajar tingkat tinggi yang tidak mencerminkan sikap seorang berpendidikan, dan juga pengusaha yang hanya mementingkan isi tebal dompet. Carut marut tiada henti dari era sosialis hingga neo-liberalis, berbagai tragedi kemanusiaan yang terus terjadi karena lunturnya ke-Pancasilaan di hati rakyat Indonesia.
                ESIQ Pancasila mengajarkan bagaimana hidup berbhineka, hidup berdampingan dalam perbedaan, hidup harmonis dengan latar belakang berbeda. Dengan memahami makna butir per butir kelima sila, aplikasi dan pendalaman filosofi kebangsaan yang sejatinya telah tertuang dalam kelima butir sila. ESIQ Pancasila tidak hanya berkenaan dengan pengetahuan semata, lebih dari pada itu, ESIQ Pancasila memberikan solusi dasar mengenai seluruh permasalahan sosial di tengah rakyat.
Ketuhanan Yang Maha Esa, adalah penopang terpenting eksistensi Indonesia sebagai negara beragama –bukan negara agama, keberagaman beragama di negeri ini disatukan dengan kalimat pada sila pertama. Nilai-nilai religius nan spiritual dituangankan melalui kegiatan-kegiatan keruhanian masing-masing agama. Penopang ruhani ini menjamin bangsa melangkah mulus menuju sila-sila selanjutnya.
                Kemanusiaan yang adil dan beradab, adalah identitas rakyat Indonesia sebagai masyarakat timur yang beradab. Hal ini bisa dijumpai di kehidupan bermasyarakat Indonesia. Adab sopan santun yang dijunjung tinggi dan menjadi nilai utama seseorang dinilai baik secara sosial oleh masyarakat. Adapun keadilan sendiri adalah tercermin dalam aplikasi keberadaban masyarakat Indonesia, dimana antara satu sama lain saling menghormati. Nilai-nilai kemanusiaan tidak dipandang melalui status sosial belaka, akan tetapi juga dinilai dari adab sopan santun.
                Persatuan Indonesia, berbhineka berarti berpancasila, berbeda-beda tapi tetap satu tujuan, yaitu persatuan. Latar belakang budaya yang berbeda, bahasa, etnis, dan agama, dapat bersatu padu. Dengan satu Ideologi –yang relevan dengan masing-masing latar belakang- rakyat Indonesia bersatu di atas nama ibu pertiwi, Nusantara. Tentu kesuksesan persatuan ini tidak akan terwujud bila tidak melalui kedua butir Pancasila sebelumnya.
                Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan, tak akan terwujud bila aplikasinya tidak melalui permusyawaratan perwakilan. Segala bentuk kepentingan bangsa yang muaranya adalah kesejahteraan rakyat harus melalui musyawarah. Kesepakatan bersama yang nantinya disetujui seluruh ataupun sebagian besar masyarakat, adalah salah satu bentuk keadilan. Tentu nilai kebijaksanaan muncul berdasarkan pemahaman akan kepentingan bersama –dalam berbangsa-.
                Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, menjadi nyata setelah mengaplikasikan empat butir Pancasila. Sekte atau dikotomi sosial luntur sebab segenap masyarakat NKRI meraih kepentingan pribadi berdasarkan cita-cita bangsa, yaitu persatuan. Bagaimana nantinya bangsa dapat bersatu bila tiap orang hanya mementingkan diri tanpa peduli dengan nilai kemanusiaan. Rasa sosial bukan lagi hal penting jika pandangan masyarakat sempit dengan kepentingan pribadi.
                Tantangan demi tantangan yang kini dihadapi bangsa Indonesia, menghadirkan spekulasi akan keretakan rakyat dalam berideologi, khususnya para pemuda. Hidup dalam budaya hedon dan individual membutakan mata kesadaran mereka akan pentingnya hidup ber-Pancasila. Hal ini tentu menjadi salah satu bentuk kekhawatiran pemerhati bangsa. Para pakar bangsa bersatu padu memikirkan degradasi moral, yang ternyata tidak hanya dialami pemuda, aparatur sipir negara pun tak kalah gencarnya menggerogoti kekayaan rakyat.
                Tentu semua masalah tersebut banyak menimbulkan kecacatan sosial, anarkisme, premanisme, kriminalisme, dan masih setumpuk cucian kotor masyarakat. Kondisi ini semakin diperkeruh dengan hadirnya sekelompok masa yang mengatasnamakan dirinya dengan pembaharu. Misi mereka untuk me-reset ulang tatanan bangsa, bahkan sampai merubah Pancasila sebagai ideologi.
                Para pemerhati tak ada hentinya menggali masalah ini dari berbagai aspek, ekonomi, moral, politik, hingga agama. Bilamana membahas segala hal yang ada, dengan sekian banyak masalah yang timbul, tentu akan tiada ujungnya. Oleh karenanya, dalam menyelesaikan hal ini perlu menemukan pola masalah, menemukan hakikat Pancasila melalui pendalaman butir per butir Pancasila.
                Melihat bagaimana banyaknya tragedi kelam aparatur negara yang melumat habis kekayaan rakyat dengan praktik korupsinya, pengusaha menggunakan statusnya untuk merampas habis kekayaan alam Indonesia tanpa mau turut memberi rasa kepada orang lain, juga pendidik dan pelajar pun ikut-ikutan hanyut dalam hedonisme, menggambarkan bagaimana kurangnya nilai keruhanian dalam diri mereka. Bukankah mereka adalah orang berpendidikan, bukankah mereka juga orang sosial –dengan bukti kesuksesan mereka dalam menjalin banyak relasi-. Namun mereka tengah mengalami kekosongan batin, ruhani kering tidak ada kesegaran di dalamnya.
                Nilai keruhanian yang hilang di antara masyarakat Indonesia ini bukan semerta-merta karena kerakusan terhadap kesenangan hidup, kecerdasan spiritual yang seharusnya tertuang melalui aplikasi sila pertama sudah tidak tenar lagi. Nilai spiritual kerohanian memang tidak nampak, tidak seperti nominal uang yang membutakan penjabat bahwa itu adalah hak rakyat, pula tidak seperti emas freeport yang bertonton menyilaukan mata pengusaha kapitalis. Nilai spiritual ini sebenarnya adalah bahan bakar jiwa yang dengannya dapat mengarahkan intelektual dan emosi ke arah yang tepat, yaitu kemaslahatan.
                Agama pada kenyataannya memiliki tempat penting dalam mereleksikan filosofi kehidupan bernegara, hanya mirisnya sekuralisasi sudah terlanjur masuk ke dalam tubuh pemerintah. Terpisahnya agama dengan negara menimbulkan potensi over free will antar sesama pelaku politik, agama yang mengajarkan pentingnya berbagi dan hidup dalam kecukupan tidak lagi dipopulerkan aparatur negara. Dan pada akhirnya korupse mereja-lela, suap menyuap bukan lagi sebuah aib, sebab suap adalah bentuk terima kasih di mata masyarakat. Pengusahapun demikian, kapitalisme yang dianut mereka menjauhkan mereka dari rasa peduli kepada sesama, terlanjur terperosok ke dalam kebutaan.
                Menyikapi hal ini, pendekatan pancasila melalui pemahamam tiga kecerdasan, dapat mewujudkan hasil nyata. Pemahaman (IQ) terhadap materi kenegaraan dan implementasi (EQ) dari pemahaman tidak lagi bisa menampung hasrat membabi buta manusia. Ruhani (SQ) sebagai wadah dan kompas dua kecerdasan lainnya (IQ & EQ) terlanjur dipisahkan dalam kehidupan bernegara. Dan inilah letak permasalahan sosial di Indonesia, hilangnya sila pertama dalam aplikasi kehidupan masyarakat berpancasila.
                Tidak usah kembali menyatukan agama dengan negara, kini hanya tinggal bagaimana rakyat kembali lagi ke titik pemahaman, dimana bangsa ini tidak akan pernah ada tanpa campur tangan agama di dalamnya. Selayaknya rakyat kini kembali lagi menundukkan kepala setelah lama melihat kibaran bendara terhembus angin, tolah-toleh memandangi mewah kehidupan. Baik penjabat, pengusaha, politikus, pengajar juga pelajar hendaknya kembali memahami nilai-nilai filosofi bernegara, bahwa Indonesia tanpa agama akan hancur dengan sendirinya.

Fadhil Achmad Agus Bahari
Mahasiswa Fakultas Syariah

UIN MALIKI Malang

Senin, 11 September 2017

Non Zero Sum Game Esensi Sebuah Kompetisi (Kecacatan Fastabiqul Khairat di Mata Umum)



           
     Non zero sum Game merupakan istilah akademik dalam bahasa inggris yang digunakan untuk mengekspresikan sebuah kompetisi yang saling menguntungkan. Identiknya dalam sebuah kompetisi tentu memiliki lawan saing atau dalam istilah politik disebut dengan oposisi. Lawan dari sebuah nilai kadang kali disikapi negatif oleh beberapa orang, dan hal itu adalah sebuah kewajaran. Oposisi adalah fitrah kehidupan, eksistensinya mempunyai peran penting dalam kehidupan. Pada dasarnya manusia memang memilki kecenderungan untuk melawan sesuatu yang dianggap tidak sesuai dengan pola pikirnya.
                Presepsi umum yang dianut mayoritas orang tentang kompetisi, bahwa kompetisi adalah hanya antara menang dan kalah, lebih dan kurang, juga cepat ataupun lambat. Dengan presepsi yang demikian ini hanya ada dalam perlombaan saja, istilah Siapa cepat dia dapat, dia lambat kalah tempat. Menunjukkan kompetisi ini ibarat seleksi alam, dimana hewan predator menempati posisi konsumen tertinggi, dengan kelebihan kekuatan yang dimilikinya, singa akan mengakhiri siklus perputaran kehidupan sebelum dekomposer.
                Anutan seperti demikian niscaya hanya akan menyisakan para pecundang, mereka yang kalah dalam kompetisi berkumpul dalam tempat sampah. Mereka akan menjadi beban masyarakat karena tidak bisa bertahan dalam kehidupan. Alhasil mereka akan menempuh jalan berbeda dengan para kompetitor, lebih memilih untuk menjadi pengganggu dan ancaman masyarakat. Istilah yang paling mudah untuk menggambarkan perilaku mereka adalah penjahat.
                Para pemenang yang duduk di atas singgasana cenderung untuk menyingkirkan sampah masyarakat, menyisakan koin mereka dan mengumpulkannya menjadi satu ke dalam dompet tipis mereka. Haus akan kemenangan membutakan realita bahwa dirinya seharusnya telah harus membantu orang, membagi isi dompet tebal kepada mereka yang terbelakang.
                Kompetisi yang berkiblat antara kalah dan menang hanya akan membuat para pelakunya buta, tidak dapat melihat esensi kehidupan, bahwa antara manusia itu seharusnya saling membantu, bahu-membahu meringankan beban dan mengilangkan ketegangan. Istilah agama fastabiqul khairat yang ditelan mentah-mentah sekelompok idealis, menciptakan arah kompetisi semakin rumit dan membuat setiap orang merasa bahwa kewajiban berkompetisi adalah mutlak, tentu dengan pemahaman fastabiqul khairat yang keliru.
                Memahami istilah fastabiqul khairat perlu melalui kaca mata sosial, kita harus beranggapan bahwa kompetisi bukanlah ajang pertunjukan menang kalah, anggapan seperti itu harus dibuang jauh-jauh. Dari kaca mata sosial, sebatas pemenang tidak memiliki peran penting di masyarakat, mereka yang bermanfaatlah yang dibutuhkan. Oleh karenanya fastabiqul khairat hendaknya diartikan dan dimaknai sosial, yaitu berlomba-lomba untuk memberikan sumbangsih kepada masyarakat dengan segala kelebihan yang dimiliki. Lebih jauh lagi, implementasi dari fastabiqul khairat dinilai melalui seberapa banyak manfaat yang diberikan kepada sesama, sehingga pemenang kini bukan lagi siapa yang unggul karena kemampuannya, akan tetapi pemenang adalah mereka yang unggul karena memberikan manfaat dari kemampuannya.

Fadhil Achmad Agus Bahari
Mahasiswa Fakultas Syariah
UIN MALIKI Malang

Minggu, 10 September 2017

Kontrol Diri Kunci Keberhasilan Pribadi

                Menjamah lebih dalam sanubari hati insan, kontrol diri menjadi kunci keberhasilan pribadi, dalam lini pribadi atau sosial, akademik maupun artistik. Sebagai titik tolak keberhasilan, kematangan pribadi menempati posisi terpenting dalam menahkodai arah perjalanan hidup. Tentu dalam hal ini, pencapaian kematangan diri memerlukan pendalaman terhadap proses perjalanan, pelatihan, serta kontinuitas dalam pengembangan diri.
                Setiap insan mewarisi karunia tuhan (potensi dari orang tua), kelebihan-kelebihan yang ternyata menjadi patokan bagaimana mereka menentukan tujuan hidup dalam bermasyarakat. Misalnya, Aurel memiliki suara yang bagus, sehingga tidak heran pada saat dia menginjak umur belasan, suaranya telah didengar pecinta musik se-Indonesia. Tentu saja semua orang akan berpresepsi bahwa suatu saat dia akan menjadi seperti ayahnya, Anang Hermansyah. Potensi-potensi inilah yang menjadi tonggak arah masa depan bagaimana seorang akan menjadi.
                Apapun potensinya, bilamana pemiliknya tetap mengembangkan dan melatihnya tiap waktu, tentu potensi itu akan menjadi kemampuan, mengganti istilah pemilik menjadi ahli. Jatuh bangun dalam proses pelatihan nantinya menjadi bahan pelajaran berguna bagi dirinya dan orang lain yang memiliki keinginan serupa. Dan adalah hal yang tidak mungkin ditemui insan yang enggan mengembangkan potensinya, hanya terpaku dengan hal itu, dan tidak merasa bahwa potensi masihlah potensi, dan belum menjadi kemampuan. Maka gelar ahli tidak akan dimilikinya, kecuali hanya sekedar pemilik potensi.
                Tetap dalam proses pengembangan diri, insan yang hanya fokus terhadap hasil, tanpa memerdulikan hikmah proses, akan menjadikan dia sebagai manusia arogan dengan kemampuannya, baik dari luar dan buruk dari dalam. Karena ia tidak memiliki bekal terpenting dalam bermasyarakat, yaitu hikmah kehidupan. Walau sebenarnya kemampuannya cukup memberikan sumbangsih kepada masyarakat. Akan tetapi cara  mengekspresikan kemampuan itulah yang nantinya dilihat dan dipertimbangkan. Cara berekspresi ini kadang disebut dengan sikap (attitude).
                Kini beranjak bagaimana seorang ahli –dalam bidang tertentu- dapat mengontrol diri, dapat membaca diri kapan harus menunjukkan atau menahan kemampuannya. Tanpa menafikan realita bahwa seorang ahli cenderung spontanitas –tanpa melalui pertimbangan yang matang-  mengeluarkan kemampuannya ketika menghadapi suasana tertentu.  Akan tetapi tetap bahwa kontrol –kemampuan diri- menjadi hal yang tidak bisa diacuhkan. Sebab tidak di segala situasi kita dapat menunjukkan kemampuan kita, ada kalanya kita harus mengetahui bahwa orang lain pada saat itu tidak dalam kondisi baik (dalam menerima suatu hal). Tidak hanya bagaimana kita bisa melihat kondisi orang lain, tentu saja dari dalam diri, kita harus mengerti kondisi emosional, apakah dalam keadaan baik atau buruk.
                Seorang ahli –dalam bidang tertentu- paham dengan pasti, bahwa pandangan yang baik dari masyarakat adalah salah satu pintu keberhasilan. Bilamana masyarakat terlanjur berpandangan negatif –melihat kita sebagai orang yang arogan-, boleh jadi mereka mengakui kemampuan dan keahlian kita, akan tetapi mereka sulit untuk menghargai kita sebagai manusia sosial. Lebih jauh lagi pengkuan terhadap keahlian kita hanya akan berhenti sampai pengakuan, tidak akan pernah mereka bersepakat untuk menjadikan kita sebagai duta mereka.
                Oleh karenanya, kerendahan diri adalah kunci untuk mengatasi masalah ini, merasa lemah –bukan berarti tidak mengakui kemampuan diri- akan kekurangan. Setidaknya ia memiliki sikap yang baik dalam besosial masyarakat. Dan hal ini akan menjadikan seseorang bisa menahan dirinya untuk tidak sembrono menunjukkan kemampuannya. Maka, pada intinya rasa rendah diri menetukan keberhasilan pribadi.

              Fadhil Achmad Agus Bahari
Mahasiswa Fakultas Syariah
UIN MALIKI MALANG

Jumat, 08 September 2017

Bagaimana Caramu Berbicara?


                Pertanyaan itu selalu terdengar telingaku, terlontar dari mulut-mulut penuh rasa ingin tahu juga rasa ingin bisa. Di tiap-tiap selesai berbicara di depan audience (pendengar), sebagian kawan, hadirin, ataupun lawan debat –sewaktu perlombaan debat- juga menanyakan tentang hal yang sama, “bagaimana kamu bisa berbicara seperti itu?, bagaimana caranya?”. Kadang jawabku tidak terlalu atau tidak tertuju langsung ke jawaban, sering kali jawabku lebih ke bagaimana mereka menjadi diri mereka sendiri. Lalu apa korelasi antara berbicara di depan para pendengar dan menjadi diri sendiri.
                Jawaban menjadi diri sendiri memang terdengar tidak relevan dengar konteks pertanyaan, hanya sebenarnya jawaban tidak selalu memerlukan embel-embel “cara berbicara itu.....”. Mengapa harus menjadi diri sendiri –agar bisa berbicara di depan umum-?,  sebab dari diri itulah seseorang dapat menemukan alur cara hidupnya, menemukan flow (aliran) atau ciri khas bagaimana ia mengekspresikan segala sesuatu yang ia pikirkan. Tak perlu meniru atau berusaha menjadi seperti orang lain, ketika seseorang telah menemukan jati diri, dengan mudahnya dia pasti bisa menirukan orang lain dan tentu saja memiliki ciri identik dalam menyampaikan sesuatu dengan kata-kata.
                Memulai segala hal semestinya berawal dari titik nol (zero mind prosses), memahami dan menerima diri sebagaimana apa adanya. Tidak merendahkan diri pun juga tidak menganggap diri hebat. Hanya memahami bahwa “Inilah aku dengan segala karunia pemberian Tuhan”. Pemahaman diri inilah yang disebut dengan bersyukur. Merasakan nikmat kemampuan dan kelebihan diri, memahami setiap hikmah dari kelemahan serta kekurangan.
                Pertanyaanpun mulai berkembang, dari bagaimana cara berbicara?, menjadi bagaimana cara berbicara kepada banyak orang?, sedangkan kita tidak mungkin bisa mengetahui isi otak tiap-tiap orang. Seperti halnya jawabku sebelumnya –tidak langsung menuju pertanyaan-, “berbicaralah seakan kamu melihat dirimu sebagai mereka dan melihat mereka sebagai dirimu!”. Mengetahui setiap pikiran orang memang sangat mustahil, maka setidaknya  memahami karakter dari cara berpikir orang banyak di kala itu, menemukan titik-titik kesamaan dan juga dapat melihat perbedaan terhadap cara berpikir mainstream banyak orang.
                Bagian di atas memang menjadi salah satu bagian terumit bagi seorang pembicara, selain merepotkan, seorang pembicara harus terlebih dahulu mempelajari culture (budaya) dan custom (kebiasaan) objek bicaranya. Tentu tidak bisa kemudian seseorang datang dan bicara dengan bahasa akademik di depan masyaakat biasa, juga sebaliknya sangat tidak etis berbicara dengan bahasa slank (gaul) di depan peserta seminar keilmuan.
                Di saat menemukan persamaan antara pembicara dan pedengar, sebaiknya mengangkat hal itu sebagai bahan utama untuk membuat para pendengar tertarik dan terhibur dengan materinya. Dari hal itu, setidaknya materi yang disampaikan dapat diterima dan langsung menjadi landasan berpikir pendengar kala itu. Tentu hal ini tidak terlepas dari bagaimana toleransi pembicara ketika menghadapi perbedaan pemikiran dengan objek bicaranya. Walau sebenarnya mengangkat unsur pembeda ini adalah harus dihindari, akan tetapi tetap hal tersebut menjadi unsur pendukung dalam mengekspresikan pemikiran seorang pembicara.
                Sebuah pelajaran penting juga bekal bagi mereka yang berharap untuk bisa berbicara dengan baik di depan masyarakat. Ketika berbicara, seseorang harus memahami kode etik orator, yaitu bagaimana pembicara bukan hanya mentransfer pemikirannya, akan tetapi ia juga harus bisa membuat pendengar berpikir hal yang serupa. Karena dalam proses belajar, hal yang belum diketahui dan membuat bertanya-tanya akan lebih mudah diingat, dipahami, sekaligus lebih cepat diimplementasikan. Oleh karenanya mulai setiap hal sebaiknya dengan pertanyaan.
                Bila memahami hukum kausalitas (sebab akibat), sorang pembicara yang baik tentu tidak akan pernah ada bila ia tidak memulai dirinya dengar mendengar, duduk di bangku pendengar dan menyimak dengan baik. Mereka yang bisa memahami kondisi pendengar adalah pendengar itu sendiri atau pendengar yang kini menjadi pembicara. Tentu dari situlah ia bisa mengetahui dengan baik apa-apa saja hal yang dapat mudah diterima dan sekaligus menyenangkan.
                Terakhir, apa-apa saja yang perlu dilakukan pembicara sebelum memulai transfer ilmu adalah persiapan, yang dalam hal ini para akademisi edukasi menyebutnya sebagai bahan atau materi (dalam bhs. Arab maaddah). Mempersiapkan diri dari segi mental dan bekal sangat diwajibkan kepada setiap pembicara, mental yang yakin bisa berbicara dengan baik, dan bekal pemahaman pendengar serta materi. Maka bila semua hal yang saling berkaitan itu telah dimiliki pembicara, pasti yang terjadi adalah leburan suasana antara pembicara dan pendengar.
Fadhil Achmad Agus Bahari
Mahasiswa Fakultas Syariah
UIN MALIKI Malang

Kamis, 07 September 2017

Filsafat Cinta (Arti dan Fungsi Cinta dalam Kehidupan)


Kini aku di atas lautan
Gamang tak karuan
Terhantam gelombang terpaan
Romansa di kala kasmaran
Izinkan aku mengungkapkan rasa
Yang juga menjadi arah manusia
Hidup dalam gelimang gempita
Yang kalanya pujangga menyebutnya……
------------ CINTA--------------
(Hamba Sang Pencinta)
Trisno jalaran saka kulino mungkin cukup menggambarkan bagaimana perasaan itu tumbuh, muncul dari hati tiap-tiap manusia, keluar menjadi sebuah realita, kasih sayang juga ikatan batin. Begitulah kiranya seseorang memulai kisahnya, bermula dari sebuah pertemuan yang berlanjut ke kebiasaan, dan bermetamorfosis menjadi perasaan kuat di hati, itulah cinta.
Memiliki sekian kebiasaan favorit yang kalanya akrab disebut sebagai hobi, termasuk pula dalam konteks bagaimana seseorang mencintai suatu perbuatan. Tentu perbuatan yang membuatnya senang, bahagia, nan gembira kala melakukan kecintaannya. Setidaknya ia telah memahami dengan pasti akan kecocokan dirinya dan apa yang ia tengah lakukan.
Area pembicaraan cinta memang sangat luas dan universal, relativitasnya tergantung dari segi apa seseorang itu mengalami. Cinta tidak sempit hanya antara sesama manusia, pasangan kekasih, persahabatan dua insan, hobi, atau pula kepada sekian eksistensi alam.Cinta dengan luar biasanya dapat pula tumbuh dari insan yang tengah gila dalam percintaan kepada Sang Maha Cinta.
Dari masa ke masa, tak henti-hentinya manusia menggali lebih dalam akan eksistensi kehidupan, dan lebih dalam lagi mereka menemukan sebuah manifestasi keindahannya, cinta yang terus dan selalu dialami tiap-tiap insan, dicari makna serta mengapa. Walau banyak teori hormonal dari nalar para pemuja sains mengenai cinta, tak cukup memuaskan manusia -para muda mudi khususnya- yang tengah mengalami masa penggalian jati diri, ombang ambing asmara, dan gemuruh suara cinta.
Dalam  perihal sesama, mengenai cinta, bagaimana pula keadaan cinta yang timbul hanya dengan adanya perjumpaan singkat?, tentu hal ini sangat berbeda, bukan tentang masa yang diperlukan agar cinta itu tumbuh, namun bagaimana bisa cinta -manifestasi keindahan hidup- dapat muncul begitu saja hanya dengan sekali bertemu!!??.
Aku mencintaimu sejak pandangan pertama, secepat itukah perasaan cinta keluar?, muda mudi yang penuh dengan kisah kasih asmara, deru ombak romansa, ataupun badai rindu dan puja. Bisakah mereka menjawab, apa cinta?, untuk apa cinta?, mengapa engkau mencinta?, ADA APA DENGAN CINTA?
Seorang insan yang tengah bimbang dengan perasaan, memberanikan bertanya pada diri sendiri, mengenai perasaan yang selalu menghantui, “Wahai diriku, engkau kini mengalami apa yang dahulu Adam dan Hawa rasakan, setidaknya engkau pasti tau apa rasa ini, maka izinkan aku bertanya…….

Apa Arti Cinta?
          Melihat sebab, efek, dan reaksinya, cinta adalah rasa yang muncul dari sebuah kelebihan atas sesuatu, menenangkan dan mencandui hati, sehingga seakan-akan tiada henti untuk ingin dekat dan merealisasikan dengan berbagai hal.Oleh karena itu, sangat tidak mungkin cinta bisa muncul dari sesuatu yang tidak menenangkan, menjemukan, meresahkan, dan mengganggu suasana senang hati.Berdasarkan pengertian tersebut, ciri khas cinta yang paling konkret adalah menjadikan suasana ketenangan dalam hati.
          Bermula, berproses, mengerti, dan mencintai, itulah asal muasal cinta timbul dan terwujud.Bila mana konteks percintaan ini dipersempit, hanya terfokus antar sesama manusia, yang dalam hal ini adalah antara laki-laki dan perempuan.Tentu tak mungkin ada cinta tanpa adanya perjumpaan, saling kenal, bercengkrama dalam kala waktu yang kadang tak terkira, dan telah menjumpai pemahaman serta saling pengertian antara keduanya, hingga berujung pada cinta.
            Sungguh cinta yang hakiki itu adalah cinta yang timbul, bukan ditimbulkan. Tumbuh dan berkembang dengan proses serta melewati berbagai macam suasana. Anugrah yang diberikan dengan pengorbanan rasa, sakit jiwa, panas dingin raga, dan pening kepala.Keindahan pelangi tak muncul begitu saja tanpa ada sambaran halilintar sebelumnya, guyur hujan atau angin ribut serta topannya.Indah pesona gunung di pagi hari tak seindah dataran terselimuti kabut awan diantara pepohonan yang dilihat diatas puncak, karena butuh perjuangan agar sampai di puncak keindahan, melalui dakian bebatuan terjal, dalam tajam tikungan jurang, dan lebatnya pepohonan dalam hutan.
            Tak acuh rasanya mendengar kata “Cinta pandangan pertama”.Sebatas mencuri dengar dari bibir-bibir mereka yang tertipu. Kadang rasa itu menipu, kadang pandang juga menipu, karena sebisa apapun seorang ilmuan menjabarkan rasa, pada ujungnya akan berkata, “semua itu relatif”. Maka lihat bagaimana rasa itu bermula dan berproses.Manis gula tak bisa muncul dari peccahan kaca, manisnya harus melalui tunas pohon tebu, butirnya harus diproses melalui perasan dan campuran mesin canggih parik tebu, dan bisa dibeli setelah teruji dari banyak ujian dan percobaan. Begitupun cinta, jangan tertipu hanya dari elok rupa atau manis suara, tak heran rasa –tipuan- itu  bisa sirna setelah engkau terluka karena keras dan tajamnya.
Kini diapun mengerti mengapa anugrah itu diberikan, melalui jawaban historis pengalaman dari kenangannya. Dia telah mengerti, dia  telah tahu, namun ia tetap masih dalam kebingungan, sehingga kembali lagi ia bertanya, “Bolehkah aku tau …….

Untuk Apa Cinta?dan Mengapa Aku Membutuhkannya?
Cinta yang hadir atas kebiasaan, pelan-pelan menghadirkan sebuah arti dari eksistensi suatu hal, mengapa hal itu ada, untuk apa serta akan bagaimana hal itu pada akhirnya. Realitas cinta sangat dibutuhkan, agarnya sesuatu hal dapat dengan langgeng hidup dan eksis.Sekali lagi, karena cinta itu adalah candu. Sekali seseorang telah kecanduan terhadap sesuatu maka dia tak akan merasa nyaman tanpa adanya sesuatu itu.
Hadirnya cinta membawa kedaimaian, nilai dan energi positif, muncul mencerahkan pikiran dan memberikan kekuatan. Pandangan visi misi kehidupan jelas, terpapar rapi setelah mengambil pelajaran dari proses kehidupan, sambil menikmati apa yang ia jalani bersama perasaan cinta. Ibarat pencinta ilmu, tak mungkin ia bisa terus menerus menebarkan ilmu tanpa pernah bersentuhan dengan ilmu, tak bisa diakal bila ia tak pernah menikmati dan jatuh cinta dengan ilmu bila hanya terpaku dengan aliran air dari hili ke hulu.
Sungguh tidak memungkinkan sesuatu dapat terus langgeng berjalan bila tidak ada kenikmatan, suasana hati yang tenang.Rasa jemu hanya mewarnai sesuatu yang memang pada dasarnya tidak dimengeti.Muncul dan memaksa diri untuk cepat-cepat terlepas dari ikatannya. Segala hal yang bermula tanpa adanya proses pengertian (biasa untuk memahami), tidak akan lama hidup, malah cenderung merusak dan merugikan.
Boleh dikatan bahwa Hidup untuk mencintai, dan cinta untuk menghidupi.Sekalipun seorang telah hidup di antara tumpuk ruah emas permata, tanah hijau penghasil tenaga, dan tinggi tembok istana menjulang menjaganya. Tetapi dikelilingi jerit suara amarah, istri cantik berkeliaran lupa akan adanya dia, putra putri berkeliaran seperti kura-kura berenang ria meninggalkan cangkangnya, juga perhatian yang kurang dari saudara sesama tetangga karena terhijabi tinggi tembok penjaga. Bisa saja ia akan berakhir tragis berlumuran darah setelah terjun bebas dari jendela lumbung penghasil harta bendanya.
Umat manusia adalah makhluq yang tercipta dari hasil cinta Adam Hawa, mereka tercipta dari asas saling melengkapi, kebutuhan yang kalanya tidak mampu dipenuhi beberapa, bisa ditutupi oleh lainnya.Maka sebagai makhluq sosial, manusia tentu tidak ingin hidup terkucilkan, ingin mereka mendapat perhatian sesama. Perhatian itu menjadi salah satu proses dan hasil percintaan, kasih dan sayang tindakan, lembut dan halus perkataan, menjadikan sesama manusia hidup  dalam keharmonisan. Kedamaian diraih dengan pengorbanan, karena memang telah dikatakan bahwa cinta butuh pengorbanan.
Emosi dalam percintaan bukan sebuah konotasi negatif yang perlu diperdebatkan, galau yang timbul dari permasalahan bukan dari percintaan.Kadang masalah dan musibah itu timbul karena seseorang salah mengekspresikan percintaannya dalam kehidupan. Ingat kembali kisah Adam Hawa yang terpisah sekian jauh nan lamanya, bukan karena cinta mereka yang salah, akan tetapi dalam proses percintaan itu, mereka kompak melakukan kesalahan.
Selain terpengaruhi unsur hormonal, manusia pada hakikatnya memiliki potensi kehidupan, kekuatan yang kadang terlampaui dari batasan, bahkan hasrat tanpa batas untuk memiliki kekuasaan.Hal-hal yang cenderung berlebihan ini sebenarnya bermula dari ketidakbiasaan terhadap unsur material, yang parahnya membawa unsur non-material (perasaan) ke dalamnya.Maka  tak heran berkali-kali diperingati untuk tidak berlebih-lebihan dalam mencintai unsur material. Setidaknya berhasil atau gagalnya seseorang menjalani kehidupan adalah ujian dan cobaan.Cinta kepada Sang Maha Cinta dan alam semesta juga tak lepas dari ujian dan cobaan.
Indah emas permata tidak akan tercipta begitu saja tanpa melewati panas bumi yang menggelora, beribu-ribu derajat dipanasi dalam inti api, berlama-lama hingga meleleh kotoran yang mengotori zat muasal emas permata. Beditulah cinta, hidup dalam percintaan tak bisa lepas dari panas dinginnya musibah, emosi  yang terus menerus dan bergantian keluar mewarnai perjalanan hidup manusia. Polemik sosial kadang ikut serta dalam panggung asmara, bisik dan usik pun sering ada dari lainnya. Kembali lagi bahwa itu semua hanya ujian tuk menjadikan cinta indah bagai  emas permata.
Hidup memang tidak hanya dengan cinta, karena hidup perlu tenaga, harta, dan juga sesama.Silakan memiliki sekian fasilitas hidup, bergelimang dengan ruah limpah pesona fana. Namun sekali meniggalkan cinta kepada sesama, cinta kepada alam semesta, dan terutama cinta kepada Sang Pemberi Cinta, mungkin hidup ini akan sengsara, merana di atas derita, sepi di antara ramai ibu kota, dan mati meniggalkan nama yang hanya dikenal harta benda. Sungguh itulah hidup yang tak seorang pun inginkan.

Akhirnya dia mengetahui apa arti cinta, untuk apa dan mengapa ia  harus mencintai. Hingga ujungnya ia berkata “Terima kasih Tuhan atas cintanya”


Fadhil Achmad Agus Bahari
Mahasiswa Fakultas Syariah
UIN MALIKI Malang