Jumat, 22 September 2017

Tuhan yang Hilang dari Dada Sang Garuda


                Melihat Indonesia kini dari berbagai aspek, tak dapat dikatakan bahwa Indonesia telah dalam keadaan damai, berbagai masalah yang terus-menerus muncul seakan tak ada hentinya menggeruskan dinding pertahanan ideologi bangsa yang hari demi hari kian menipis. Memang benar perkataan Soekarno bahwa musuh terberat adalah negeri sendiri, musuh tak nampak tertutupi selimut jabatan bagai rayap putih mungil yang menggerogoti fondasi bangsa. Pancasila yang kini tidak lagi berpanca karena ternodai praktik-praktik tak berketuhanan.
                Ketuhanan Yang Maha Esa, mungkin hanya sila yang dibaca tanpa pemahaman filosofi, kita sendiri mungkin mengiranya hanya sebatas perihal keagamaan semata, pada kenyataannya, agama sering kali dibawa-bawa ke ranah politik sebagai alat menarik pendukung. Tuhan yang biasanya terpenjara di tempat ibadah atau mimbar penceramah kini dipaksa ikut berkampanye. Istilah-istilah agama digunakan bukan lagi untuk mengajak umat mendekat diri ke rumah-Nya untuk berserah diri, tapi umat diajak ke rumah-Nya untuk berserah suara memilih politikus berkepentingan partai.
                Dimana esensi ketuhanan sekarang?, dikala berbagai kasus penggelapan uang rakyat, tindakan pelicin yang merusak keadilan, ditambah lagi kelakuan generasi muda yang individual nan hedonis, menjadi bukti bahwa posisi tuhan sekarang bukan lagi di dada Sang Garuda (Pancasila). Bangsa ini sudah lama kehilangan tuhan, bukan tuhan yang pergi tapi rakyat ini yang tidak menganggap-Nya saja.
                Agama memang satu-satunya harapan yang mengarahkan kembali bangsa ini kepada kodisi semula, kondisi pasca kemerdekaan. Dimana semua kalangan masyarakat kala itu bahu membahu menguatkan fondasi negara dengan tujuan sama. Istilah islam populer yang digunakan pada saat itu adalah baldatu tayyibatun warabbun ghofur. Sebuah negara yang damai dengan prospek keridlaan Tuhan.
                Kembali lagi kepada kenyataan bahwa bangsa ini jatuh dalam lubang materialisme, meraih kekayaan dan kemakmuran semata tanpa berupaya menjadikan masyarakat berketuhanan. Tugas ketuhanan hanya diemban oleh segelintir orang saja, penceramah, ulama’, guru ngaji dan pemuka agama lainnya. Sedangkan penjabat hanya berpikir tentang undang-undang –yang menguntungkan kalangan mereka-, sekalipun ada yang benar-benar berhati mulia mensejahterakan rakyat, tetap tidak menjadikan mereka sendiri bertuhan.
Tugas kemanusiaan memang salah satu tugas yang diamanahkan tuhan, dan tidak semua orang benar-benar mendalami disiplin ilmu ketuhanan. Hanya tujuan utama kemanusiaan adalah menjadikan manusia hidup damai dalam keberserahan diri kepada tuhan. Baik penjabat ataupun penceramah, keduanya bergerak di medan mereka masing-masing, tapi tetaplah selayaknya sebagai pemimpin dan wakil rakyat, integrasi negara dan agama adalah penting, karena agama dan Indonesia sebuah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
Kebijakan negara yang terpisah dari agama, bukan berarti menjadikan  negara ini sebagai negara tidak bertuhan. Hanya istilah-istilah agama yang dihindari ataupun hukum agama sekalipun.  Tuhan tetaplah pada posisinya, yaitu sebagai tujuan utama bangsa ini bersatu bersejahtera. Jangan lagi memenjara tuhan di tempat ibadah atau mimbar penceramah, juga tidak menjadikan tuhan sebagai kedok kampanye politik. Sudah seharusnya kita menempatkan-Nya di segala aspek kehidupan, sebagai kesaksian bahwa bangsa ini adalah bangsa yang bertuhan dan mengesakan-Nya.

Fadhiil Achmad Agus Bahari
Mahasiswa Fakultas Syariah
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

2 komentar:

  1. Terkait masalah pejabat memang panjang ceritanya. Mengubah kebudayaan masyarakat yg sedikit peka akan masalah negara membuat segalanya menjadi terlihat biasa. Berbagai macam peraturan di buat berbagai macam pula pelanggaran yg dibuat oleh si pembuat praturan itu sendiri. Menanamkan kpribadian insan pada masyrakat banyak memang cukup sulit.

    BalasHapus