Sabtu, 07 Desember 2019

Sultan Mahmud Al-Fatih

               Salah satu tokoh besar yang hingga kini sosoknya menjadi teladan banyak umat adalah Sultan Mahmud Al-Fatih. Atas keyakinan beliau terhadap sabda Nabi Muhammad Saw tentang penaklukkan Konstantinopel –yang sekarang adalah Turki-, mendorong beliau untuk ikut serta menjadi orang yang disabdakan Nabi Muhammad Saw. Sebagai pemimpin terbaik yang memimpin pasukan terbaik pula.
            Sultan Mahmud Al-Fatih bukan hanya menorehkan prestasi –karena telah menaklukkan Konstantinopel- akan tetapi juga karena beliau melakukan hal itu di usia yang sangat muda, 21 tahun. Menggantikan posisi ayahnya pada usia 18 tahun, selama tiga tahun kemudian mempersiapkan segala suatunya untuk mewujudkan sabda Nabi Muhammad Saw dan menjadi bagian dari pelaku sejarah.
            Dikisahkan bahwa Sultan Mahmud Al-Fatih menjalani pendidikannya sedari kecil. Karena beliau adalah anak yang bandel lagi nakal, banyak sekali guru-guru yang tidak mampu mendidik beliau. Sampai suatu ketika ada seorang guru yang mampu membuat Mahmud kecil tertunduk karena ketegasan beliau. Dan dari didikan beliaulah Mahmud kecil menjelma menjadi Sultan Agung penakluk Konstantinopel.
            Terekam dalam sejarah ketika hendak melaksanakan shalat jumat pertama di tanah Konstantinopel setelah penaklukkan. Ketika semua orang berdiri dan kebingungan untuk menunjuk orang menjadi imam, sang sultan bertanya kepada semua jamaah waktu itu. “Siapa di antara kita yang pernah terlawat shalat lima waktu?, maka hendaknya ia duduk!”, tidak ada seorang pun waktu itu yang duduk, artinya tidak ada di antara mereka yang pernah meninggalkan shalat fardlu. Kemudian beliau bertanya kembali, “Siapa di antara kita yang pernah terlawat shalat sunnah rawatib?, maka hendaknya ia duduk!” maka setengah jamaah kala itu duduk duduk. Beliau melanjutkan pertanyaan, “Siapa di antara kita yang pernah terlawat shalat tahajjud?, maka hendaknya ia duduk!”, seluruh jamaah waktu itu duduk dan hanya tersisa sang sultan yang berdiri. Dari itulah tanda bahwa beliau tidak pernah terlewat shalat tahajjud, terlihat pula pasukan beliau ada pasukan yang tidak pernah melewatkan shalat fardlu. Inilah cerminan pasukan dan pemimpin yang sesuai dengan sabda Nabi Muhammad Saw, “sebaik-baiknya pemimpin waktu itu adalah pemimpinnya, dan sebaik-baiknya pasukan waktu itu adalah pasukannya”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar