Salah
satu tokoh besar yang hingga kini sosoknya menjadi teladan banyak umat adalah
Sultan Mahmud Al-Fatih. Atas keyakinan beliau terhadap sabda Nabi Muhammad Saw
tentang penaklukkan Konstantinopel –yang sekarang adalah Turki-, mendorong
beliau untuk ikut serta menjadi orang yang disabdakan Nabi Muhammad Saw.
Sebagai pemimpin terbaik yang memimpin pasukan terbaik pula.
Sultan
Mahmud Al-Fatih bukan hanya menorehkan prestasi –karena telah menaklukkan
Konstantinopel- akan tetapi juga karena beliau melakukan hal itu di usia yang
sangat muda, 21 tahun. Menggantikan posisi ayahnya pada usia 18 tahun, selama
tiga tahun kemudian mempersiapkan segala suatunya untuk mewujudkan sabda Nabi
Muhammad Saw dan menjadi bagian dari pelaku sejarah.
Dikisahkan
bahwa Sultan Mahmud Al-Fatih menjalani pendidikannya sedari kecil. Karena
beliau adalah anak yang bandel lagi nakal, banyak sekali guru-guru yang tidak
mampu mendidik beliau. Sampai suatu ketika ada seorang guru yang mampu membuat
Mahmud kecil tertunduk karena ketegasan beliau. Dan dari didikan beliaulah
Mahmud kecil menjelma menjadi Sultan Agung penakluk Konstantinopel.
Terekam
dalam sejarah ketika hendak melaksanakan shalat jumat pertama di tanah
Konstantinopel setelah penaklukkan. Ketika semua orang berdiri dan kebingungan
untuk menunjuk orang menjadi imam, sang sultan bertanya kepada semua jamaah
waktu itu. “Siapa di antara kita yang pernah terlawat shalat lima waktu?, maka
hendaknya ia duduk!”, tidak ada seorang pun waktu itu yang duduk, artinya tidak
ada di antara mereka yang pernah meninggalkan shalat fardlu. Kemudian beliau
bertanya kembali, “Siapa di antara kita yang pernah terlawat shalat sunnah
rawatib?, maka hendaknya ia duduk!” maka setengah jamaah kala itu duduk duduk.
Beliau melanjutkan pertanyaan, “Siapa di antara kita yang pernah terlawat
shalat tahajjud?, maka hendaknya ia duduk!”, seluruh jamaah waktu itu duduk dan
hanya tersisa sang sultan yang berdiri. Dari itulah tanda bahwa beliau tidak
pernah terlewat shalat tahajjud, terlihat pula pasukan beliau ada pasukan yang
tidak pernah melewatkan shalat fardlu. Inilah cerminan pasukan dan pemimpin
yang sesuai dengan sabda Nabi Muhammad Saw, “sebaik-baiknya pemimpin waktu
itu adalah pemimpinnya, dan sebaik-baiknya pasukan waktu itu adalah
pasukannya”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar