Jumat, 06 Desember 2019

Awal Perjuangan Ustadz Jamal

Pada saat sujud air mata saya menetes karena mengingat uang pondok yang belum saya bayar selama 6 bulan, hingga akhirnya sujud saya berakhir dengan tendangan muallim lantaran jamaah sudah salam sedangkan saya masih sujud karena tertidur”, sepenggal kata yang Ust. Jamal sampaikan kepada santri baru dalam rangka untuk memberi motivasi semangat menghafal.
            Ust. Jamal adalah alumni Mahad tahfidz Al-Quran Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, selama tujuh tahun beliau menempuh studinya di ranah para penghafal Al-Quran, sedari SMP sampai SMA. Karena dinilai belum mampu membaca Al-Quran dengan baik, beliau harus duduk di kursi Tamhidi (kelas persiapan) selama setahun, oleh karena itu mengapa Ust. Jamal menjalani pendidikannya selama tujuh tahun. Walau demikian beliau menjadi lulusan yang diberi nikmat bisa melanjutkan studinya di Brunei Darussalam hingga Qatar.
            Banyak bercerita tentang kenikmatan selepas dari pondok pesantren, bukan berarti beliau ingin memberi tahu bahwa menghafal al-Quran akan mendapat banyak kenikmatan di dunia, akan tetapi dari cerita kenikmatan itu beliau ingin mengekspresikan bahwa Allah masih menyimpan banyak kenikmatan di Akhirat bagi mereka yang menjadi bagian dari keluarga-Nya.
Langkah pertama selalu menjadi langkah berat untuk ditempuh, sebagaimana awal mula mendorong mobil yang mogok, awal mula mendorong mobil itu amat sangat menyusahkan, namun ketika mobil telah bergerak maka mendorongnya pun tak seberat sebagaimana awalnya. Masa-masa awal Ustadz Jamal dalam menghafal al-Quran tidaklah semudah seperti terlihat beliau membacakan ayat-ayat al-Quran atau pun tidak selancar sebagaimana saat beliau berpidato bahasa arab. Di masa awal tersebut beliau hanya mampu menghafal tiga ayat awal surat an-Naba’, namun sejalannya waktu di akhir masa-masa beliau menghafal, beliau mampu menghafal 1 juz dalam sehari.
Kilas balik kehidupan dan perjuangan Ustadz Jamal hampir mirip dengan kisah awal Nabi Muhammad Saw ketika menerima wahyu pertama. Dalam Sirah Nabawiyah Nabi Muhammad mengalami demam hebat, rasa ketakutan yang kuat, dan gemetar yang dahsyat, hingga beliau pulang ke rumah dan meminta istri tercintanya Khadijah untuk menyelimutinya. Ini lah tanda bahwa al-Quran adalah kitab yang menyimpan kekuatan besar bagi siapa saja yang menerimanya. Hal tersebut sama seperti ketika Allah membebani amanat kekhalifahan kepada makhluknya, bahwa amanat tersebut amat sangat berat hingga tidak ada yang menerima amanat tersebut melainkan manusia. Sebagaimana firman Allah Saw dalam surat al-Ahzab ayat 72,

إِنَّا عَرَضْنَا الأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَالجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا ؤَحَمَلَهَا الإِنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُوْمًا جَهُوْلاً


Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, akan tetapi semuanya enggan untuk memikil amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya, lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zhalim dan sangat bodoh” (Q.S. al-Ahzab:72)
            Menjaga al-Quran berarti  menjadi bagian dari keluarga Allah di bumi, pula menjadi  agen-Nya untuk menyebarluaskan nilai-nilai yang dikandung al-Quran dalam bentuk perbuatan, perkataan, dan juga energi positif yang terpancar dari kejernihan hatinya. Hal tersebut telah tercerminkan dari sosok Nabi Muhammad Saw, yang mana hanya dengan duduk bersamanya hati memunculkan rasa cinta.
             Jejak-jejak perjuangan Nabi Muhammad Saw telah ditiru oleh sekian banyak umatnya, bahkan beberapa tokoh yang notabenenya adalah non-muslim pun sangat mengagumi sosok beliau. Bukan hanya akhlaq, akan tetapi semua tutur katanya memberi keyakinan kuat kepada umat pasca sepeninggalannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar