“Pada saat sujud air mata saya menetes karena
mengingat uang pondok yang belum saya bayar selama 6 bulan, hingga akhirnya
sujud saya berakhir dengan tendangan muallim lantaran jamaah sudah salam
sedangkan saya masih sujud karena tertidur”, sepenggal kata yang Ust. Jamal
sampaikan kepada santri baru dalam rangka untuk memberi motivasi semangat
menghafal.
Ust. Jamal adalah alumni
Mahad tahfidz Al-Quran Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, selama tujuh tahun
beliau menempuh studinya di ranah para penghafal Al-Quran, sedari SMP sampai
SMA. Karena dinilai belum mampu membaca Al-Quran dengan baik, beliau harus
duduk di kursi Tamhidi (kelas persiapan) selama setahun, oleh karena itu
mengapa Ust. Jamal menjalani pendidikannya selama tujuh tahun. Walau demikian
beliau menjadi lulusan yang diberi nikmat bisa melanjutkan studinya di Brunei
Darussalam hingga Qatar.
Banyak bercerita tentang
kenikmatan selepas dari pondok pesantren, bukan berarti beliau ingin memberi
tahu bahwa menghafal al-Quran akan mendapat banyak kenikmatan di dunia, akan
tetapi dari cerita kenikmatan itu beliau ingin mengekspresikan bahwa Allah
masih menyimpan banyak kenikmatan di Akhirat bagi mereka yang menjadi bagian
dari keluarga-Nya.
Langkah pertama selalu menjadi langkah berat untuk
ditempuh, sebagaimana awal mula mendorong mobil yang mogok, awal mula mendorong
mobil itu amat sangat menyusahkan, namun ketika mobil telah bergerak maka
mendorongnya pun tak seberat sebagaimana awalnya. Masa-masa awal Ustadz Jamal
dalam menghafal al-Quran tidaklah semudah seperti terlihat beliau membacakan
ayat-ayat al-Quran atau pun tidak selancar sebagaimana saat beliau berpidato
bahasa arab. Di masa awal tersebut beliau hanya mampu menghafal tiga ayat awal
surat an-Naba’, namun sejalannya waktu di akhir masa-masa beliau menghafal,
beliau mampu menghafal 1 juz dalam sehari.
Kilas balik kehidupan dan perjuangan Ustadz Jamal hampir
mirip dengan kisah awal Nabi Muhammad Saw ketika menerima wahyu pertama. Dalam Sirah
Nabawiyah Nabi Muhammad mengalami demam hebat, rasa ketakutan yang kuat,
dan gemetar yang dahsyat, hingga beliau pulang ke rumah dan meminta istri
tercintanya Khadijah untuk menyelimutinya. Ini lah tanda bahwa al-Quran adalah
kitab yang menyimpan kekuatan besar bagi siapa saja yang menerimanya. Hal
tersebut sama seperti ketika Allah membebani amanat kekhalifahan kepada
makhluknya, bahwa amanat tersebut amat sangat berat hingga tidak ada yang
menerima amanat tersebut melainkan manusia. Sebagaimana firman Allah Saw dalam
surat al-Ahzab ayat 72,
إِنَّا عَرَضْنَا
الأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَالجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ
يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا ؤَحَمَلَهَا الإِنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ
ظَلُوْمًا جَهُوْلاً
Artinya: “Sesungguhnya Kami telah
menawarkan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, akan tetapi semuanya
enggan untuk memikil amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya,
lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zhalim dan
sangat bodoh” (Q.S. al-Ahzab:72)
Menjaga
al-Quran berarti menjadi bagian dari
keluarga Allah di bumi, pula menjadi
agen-Nya untuk menyebarluaskan nilai-nilai yang dikandung al-Quran dalam
bentuk perbuatan, perkataan, dan juga energi positif yang terpancar dari
kejernihan hatinya. Hal tersebut telah tercerminkan dari sosok Nabi Muhammad
Saw, yang mana hanya dengan duduk bersamanya hati memunculkan rasa cinta.
Jejak-jejak perjuangan Nabi Muhammad Saw telah
ditiru oleh sekian banyak umatnya, bahkan beberapa tokoh yang notabenenya
adalah non-muslim pun sangat mengagumi sosok beliau. Bukan hanya akhlaq, akan
tetapi semua tutur katanya memberi keyakinan kuat kepada umat pasca
sepeninggalannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar