Minggu, 15 Desember 2019

I'jaz Surat Al-Fajr #3

'Ad, Inisiator Bangunan Tinggi Pertama


اَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعَادٍۖ ٦ اِرَمَ ذَاتِ الْعِمَادِۖ ٧ الَّتِيْ لَمْ يُخْلَقْ مِثْلُهَا فِى الْبِلَادِۖ ٨
6) Tidakkah engkau (Muhammad) memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap (kaum) ‘Ad?. 7) (yaitu) penduduk Iram (ibukota kaum ‘Ad) yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi. 8) yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu di negeri-negeri lain.
           

Tafsir Al-Qur’an Al-‘Adhim bisa menjadi kitab tafsir yang recomended untuk melacak kisah kaum terdahulu, di dalamnya banyak perbandingan pendapat untuk dijadikan pertimbangan, lebih lagi pendapat tersebut selalu lengkap dengan riwayat yang dapat dilacak sumbernya.
            Kaum ‘Ad adalah anak keturunan dari Sam bin Nuh As, kaum ini menempati sebuah kota masalalu yang disebut juga dalam al-Qur’an, Iram, kota ini sekarang terletak secara geografis di Yaman bagian selatan. Pada tahun 1932, para arkeolog sudah memulai usahanya untuk mencari kebenaran legenda Arab tentang kaum masalalu, salah satunya adalah ‘Ad.
Pada awal 1990, muncul siaran pers di koran-koran terkenal di dunia yang menyatakan “Fabled Lost Arabian city found”, “Arabian city of Legend found”, “The Atlantis of the Sands, Ubar. ("Kota Arab yang Hilang Telah Ditemukan", "Kota Legenda Arab telah ditemukan", "Atlantis Padang Pasir, Ubar"). Sesuatu yang membuat temuan arkeologis ini lebih menarik adalah fakta bahwa kota ini juga disebut dalam Al-Qur'an. Banyak orang yang, sejak itu, berpikir bahwa Kaum ‘Ad yang diceritakan dalam Al-Qur'an adalah legenda atau bahwa lokasi mereka tidak pernah dapat ditemukan. Penemuan kota ini, yang hanya disebutkan dalam cerita lisan orang Badui, membangkitkan minat dan keingintahuan yang besar.
Adalah Nicholas Clapp, seorang arkeolog, yang menemukan kota legendaris ini yang disebutkan dalam Al-Qur'an. Menjadi seorang Arabofil (Ing: Arabophile, Orang yang cenderung mempelajari orang Arab atau tradisi Arab) dan menjadi pemenang dalam ajang pembuatan film dokumenter, Clapp telah membuat sebuah buku yang sangat menarik selama penelitiannya tentang sejarah Arab. Buku ini adalah Arabia Felix yang ditulis oleh peneliti Inggris Bertram Thomas pada tahun 1932. Arabia Felix adalah sebutan Romawi untuk bagian selatan Semenanjung Arab yang sekarang termasuk Yaman dan sebagian besar Oman. Orang Yunani menyebut daerah ini "Eudaimon Arabia" dan para sarjana Arab abad pertengahan menyebutnya "Al-Yaman as-Saida".


Al-Qur’an sendiri menyebutkan bahwa Kota Iram memiliki banyak bangunan-bangunan tinggi, firman-Nya:
 اِرَمَ ذَاتِ الْعِمَادِۖ ٧
“7) (yaitu) penduduk Iram (ibukota kaum ‘Ad) yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi.”
karakteristik kaum ‘Ad ini juga dijelaskan dalam surat lain, seperti firman-Nya dalam surat Asy-Syu’ara:

كَذَّبَتْ عَادُ ِۨالْمُرْسَلِيْنَ ۖ ٢٣ اِذْ قَالَ لَهُمْ اَخُوْهُمْ هُوْدٌ اَلَا تَتَّقُوْنَ ۚ ٢٤ اِنِّيْ لَكُمْ رَسُوْلٌ اَمِيْنٌ ۙ ٢٥ فَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوْنِ ۚ ٢٦ وَمَآ اَسْـَٔلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ اَجْرٍۚ اِنْ اَجْرِيَ اِلَّا عَلٰى رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ ۗ ٢٧ اَتَبْنُوْنَ بِكُلِّ رِيْعٍ اٰيَةً تَعْبَثُوْنَ ۙ ٢٨ وَتَتَّخِذُوْنَ مَصَانِعَ لَعَلَّكُمْ تَخْلُدُوْنَۚ ٢٩

(123) (Kaum) ‘Ad telah mendustakan para rasul. (124) Ketika saudara mereka Hud berkata kepada mereka, “Mengapa kamu tidak bertakwa? (125) Sungguh, aku ini seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, (126)  karena itu bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. (127) Dan aku tidak meminta imbalan kepadamu atas ajakan itu; imbalanku hanyalah dari Tuhan seluruh alam. (128) Apakah kamu mendirikan istana-istana pada setiap tanah yang tinggi untuk kemegahan tanpa ditempati, (129) dan kamu membuat benteng-benteng dengan harapan kamu hidup kekal?
dua surat pembahasan di atas secara singkat menjelaskan bahwa Kaum ‘Ad adalah kaum yang memiliki ciri khas membangun bangunan tinggi di tempat-tempat yang tinggi, seperti benteng dan menara, akan tetapi bangunan ini tidak ditempati. Dengan kemegahan bangunan yang mereka miliki tentu mempunyai nilai arsitektur yang tinggi, hingga tidak heran al-Qur’an memuji mereka, firman-Nya:

الَّتِيْ لَمْ يُخْلَقْ مِثْلُهَا فِى الْبِلَادِۖ ٨

8) yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu di negeri-negeri lain.
apakah dengan adanya ayat tersebut menunjukkan bahwa model bangunan yang diinisiasi oleh orang ‘Ad adalah arsitektur bangunan tinggi pertama pertama kali di dunia?.

Pembahasan tentang Kaum 'Ad dan Nabi Hud As akan dibahas pada bagian #4

Sabtu, 14 Desember 2019

I'jaz Surat Al-Fajr #2


3 Kaum Masa Lalu Al-Fajr

Sudah barang tentu bahwa setiap surat, ayat bahkan kalimat dan huruf dalam al-Qur’an memiliki porsi tertentu untuk memberikan makna dan pesan kepada manusia, tidak berhenti sampai situ, al-Qur’an pun terbuka dan sangat fleksibel ketika dimaknai oleh dua orang yang berbeda dan memungkinkan terjadi perbedaan penafsiran. Itulah sisi kelebihan dari al-Qur’an yang sering kali disebut dengan I’jaz Al-Qur’an.
 Pembicaraan tentang tiga kaum masa lalu dalam ayat 6 sampai 14 yaitu ‘Ad, Tsamud dan Fir’aun, seharusnya dapat memunculkan beragam pertanyaan di benak kita, mengapa terbatas hanya tiga kaum ini saja?, adakah pesan yang ingin Allah sampaikan kepada hambanya melalui surat ini?.
Mari merenungi sejenak dan berpikir mendalam, yuk bertadabbur...
Dalam surat-surat lain penyebutan kaum-kaum masa lalu sering kali tidak terbatas hanya dengan tiga kaum sebagaimana surat al-Fajr, seperti surat al-A’raf yang menceritakan di dalamnya kaum Nabi Nuh As, kaum Nabi Hud As yaitu ‘Ad, kaum Nabi Shalih As yaitu Tsamud, disusul kaum Nabi Luth As, Kaum Nabi Syu’aib As yaitu Madyan, kemudian Nabi Musa As yang diutus untuk Fir’aun dan membina Bani Israil. Melalui perbandingan surat ini sebaiknya kita memancing diri untuk merenungi, apakah rahasia I’jaz yang ada dibaliknya?.
            Pertama adalah kaum ‘Ad yang dalam surat ini dikabarkan memiliki ciri khas bangunan-bangunan tinggi, perhatikan ayat berikut,

اَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعَادٍۖ ٦ اِرَمَ ذَاتِ الْعِمَادِۖ ٧ الَّتِيْ لَمْ يُخْلَقْ مِثْلُهَا فِى الْبِلَادِۖ ٨

6) Tidakkah engkau (Muhammad) memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap (kaum) ‘Ad?. 7) (yaitu) penduduk Iram (ibukota kaum ‘Ad) yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi. 8) yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu di negeri-negeri lain.
Kedua adalah kaum Tsamud yang dikenal dengan pengerajin batu, perhatikan ayat berikut ini,

وَثَمُوْدَ الَّذِيْنَ جَابُوا الصَّخْرَ بِالْوَادِۖ ٩

9) dan (terhadap) kaum samud yang memotong batu-batu besar di lembah.
Ketiga adalah Fir’aun yang membawahi etnis Qibthi di Mesir juga terkenal dengan piramidanya, perhatikan ayat di bawah ini,

وَفِرْعَوْنَ ذِى الْاَوْتَادِۖ ١٠

10) dan (terhadap) Fir‘aun yang mempunyai pasak-pasak (bangunan yang besar).
Setelah memperhatikan ketiga kaum di atas, apakah teman-teman sudah menyadari sesuatu?, dengan pertanyaan kita kali ini, apakah pesan dari penyampaikan kaum masa lalu yang terbatas hanya ‘Ad, Tsamud dan Fir’aun?. Jawabannya jalas, penyebutan ketiga kaum tersebut dalam surat ini karena ada pengkhususan terhadap mereka, yaitu sebagai kaum yang memiliki kelebihan dalam bidang arsitektur dan pembangunan, peradaban mereka yang megah direpresentasikan dengan membangun bangunan yang megah.
            Pembahasan lebih lanjut tentang tiga kaum ini akan dibahas pada bagian ke #3......

Kamis, 12 Desember 2019

I'jaz Surat Al-Fajr #1

Antara Tema dan Sajak


وَالْفَجْرِۙ ١ وَلَيَالٍ عَشْرٍۙ ٢ وَّالشَّفْعِ وَالْوَتْرِۙ ٣ وَالَّيْلِ اِذَا يَسْرِۚ ٤ هَلْ فِيْ ذٰلِكَ قَسَمٌ لِّذِيْ حِجْرٍۗ ٥

1) Demi fajar. 2) demi malam yang sepuluh. 3) demi yang genap dan yang ganjil. 4) demi malam apabila berlalu. 5) Adakah pada yang demikian itu terdapat sumpah (yang dapat diterima) bagi orang-orang yang berakal?.
Perhatikan lima ayat di atas, jika menyadari, kita akan menemukan keserasian bunyi ra’ di akhir lima ayat. Lima ayat di atas selain sama dalam bahr atau bunyi akhir sajak, juga memiliki konteks pembahasan khusus, yaitu membahas tentang qasam atau sumpah. Hal seperti sebetulnya sudah umum dalam al-Qur’an khususnya surat-surat pendek, akan tetapi jika diperhatikan lebih dalam dengan melanjutkan tema ayat selanjutnya, kita akan menemukan sesuatu yang menarik,

اَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعَادٍۖ ٦ اِرَمَ ذَاتِ الْعِمَادِۖ ٧ الَّتِيْ لَمْ يُخْلَقْ مِثْلُهَا فِى الْبِلَادِۖ ٨ وَثَمُوْدَ الَّذِيْنَ جَابُوا الصَّخْرَ بِالْوَادِۖ ٩ وَفِرْعَوْنَ ذِى الْاَوْتَادِۖ ١٠ الَّذِيْنَ طَغَوْا فِى الْبِلَادِۖ ١١ فَاَكْثَرُوْا فِيْهَا الْفَسَادَۖ ١٢ فَصَبَّ عَلَيْهِمْ رَبُّكَ سَوْطَ عَذَابٍۖ ١٣ اِنَّ رَبَّكَ لَبِالْمِرْصَادِۗ ١٤

6) Tidakkah engkau (Muhammad) memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap (kaum) ‘Ad?. 7) (yaitu) penduduk Iram (ibukota kaum ‘Ad) yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi. 8) yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu di negeri-negeri lain. 9) dan (terhadap) kaum samud yang memotong batu-batu besar di lembah. 10) dan (terhadap) Fir‘aun yang mempunyai pasak-pasak (bangunan yang besar). 11) yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri. 12) lalu mereka banyak berbuat kerusakan dalam negeri itu. 13)  karena itu Tuhanmu menimpakan cemeti azab kepada mereka. 14) sungguh, Tuhanmu benar-benar mengawasi.
Jika kita melihat memalui tema pembahasan ayat, tentu sudah berbeda dengan 5 ayat sebelumnya. Yang menarik adalah bahr pada pembahasan kedua kali ini berbeda, jika ayat 1 sampai 5 membahas tentang qasam dengan sajak huruf ra’, maka ayat 6 sampai 14 membahas tentang tiga kaum masa lalu (‘Ad, Tsamud dan Kaum Fir’aun) dengan sajak huruf dal.
 Perbedaan sajak ini berkesan seakan ketika seseorang membaca al-Qur’an, dia akan menyadari adanya perubahan tema tatkala ia membaca sajak yang mulai berbeda, sehingga perhatiannya bisa beralih dari tema suatu pembahasan ke pembahasan lainnya, dari qasam ke tiga kaum masa lalu (‘Ad, Tsamud dan Kaum Fir’aun), bahkan pendengar pun –bila ia memahami ilmu bahr atau juga tajwid- akan memberi atensi khusus ketika menyadari perubahan suara akhir ayat, yang awal mulanya ra’ yang memiliki sifat takrir menjadi dal yang menyimpan sifat qalqalah.

Rabu, 11 Desember 2019

Shalahuddin Al-Ayyubi



            Setiap teladan yang tercermin dari sosok Nabi Muhammad Saw selalu menjadi inspirasi setiap generasi setelahnya, menjadi motivasi penyemangat manusia untuk melakukan perubahan. Bukan hanya terkenang dibenak umat islam sendiri, akan tetapi terekam dalam hati umat non-muslim. Hal itulah yang menginspirasi pemimpin pasukan islam ketika berhasil menaklukkan Yerussalem.
            Perang Salib menjadi satu bab besar yang menentukan arah dunia saat ini, perang yang tiada henti itu –berabad-abad lamanya- mengisahkan kisah pilu ketika kota suci Yerusslem berhasil diinvasi oleh pasukan salib. Menyisakan coretan tinta di atas kertas sejarah tentang bagaimana kejamnya pasukan salib, setiap manusia yang masih berkepala mereka penggal, setiap bayi yang menangis mereka bungkam dengan tajamnya pedang, setiap wanita yang berlari mereka jegal dengan tusukan tombak, hingga manusia yang bersembunyi ataupun memanjat tingginya atap kuil sulaiman jatuh lantaran tertancap lontaran anak panah. Di balik tembok itu tersisa kisah memilukan saat darah manusia membanjiri kota suci.
            100 tahun setelah pembantaian di kota suci, sejarah tak hilang begitu saja, kisah yang membuat bulu kuduk merinding tersebut tentunya terbekas di hati umat islam. Bagaimana tidak, ratusan ribu nyawa terkorbankan lantaran keganasan pasukan salib kala itu. Namun ada seorang pemimpin yang tak hanya diam berpangku tangan, dia adalah Shalahuddin Al-Ayyubi. Kala itu beliau mencoba menyatukan umat islam yang sedang berpecah belah, mengajak umat untuk menjadikan visi pembebasan Yerussalem sebagai visi utama mereka dan mengabaikan kepentingan duniawi.
            Tibalah hari di mana penaklukkan kota suci dari tangan penjajah, ketika dua pasukan telah berhadapan dan pemimpin masing-masing pasukan, Shalahuddin Al-Ayyubi dan King Baldwin memulai negoisasi terakhirnya. Tidak mendapat hasil selain mengangkat senjata dan saling menodongkan ujung tombak ke muka, maka perang pun dimulai.
            Sejarah tidak bisa dipungkiri kebenarannya, Yerussalem berhasil dibebaskan dari tangan pasukan salib dan mengusir mereka dari tanah suci itu. Namun tinta yang tergores di atas kertas sejarah mengisahkan sikap heroik penuh nilai kemanusiaan. Tidak ada darah penduduk –kristen- tertetas dari hunusan pedang pasukan muslim, mereka aman di bawah perisai besi dan tentram di balik tembok kota suci. Kisah itulah yang menginspirasi banyak penduduk kristen masuk agama Islam.
            Richard The Lion Heart sebagai raja Inggris kala itu pun berkata bahwa kota suci Yerussalem dirasanya akan lebih baik ketika di bawah kekuasaan orang islam, karena ketika Yerussalem berada di bawah kekuasaan Kristen, kota suci akan cenderung menjadi komoditas ekonomi. Berbeda dengan umat islam yang murni menjadikan kota ini sebagai kota yang memiliki nilai historis yang perlu dilindungi dan nilai keagamaan yang tinggi.
Alih-alih ingin menatuhkan kota suci kembali, pasukan salib tak kuasa melawan presepsi kaumnya sendiri yang telah jatuh hati dengan perlakuan umat muslim. Maka sejarah tetap mencatat kota suci Yerussalem senantiasa dalam kedamaian hingga abad 20. Meskipun Yerussalem berpindah-pindah kekuasaannya, dari dinasti ke dinasti, kota ini tetap eksis membawahi tiga penduduk agama yang berbeda. Islam, Kristen, maupun Yahudi saling berkomunikasi tanpa ada ancaman.
Abad 20 menjadi saksi ketika orang-orang yahudi yang terusir diterima oleh umat islam kembali di kota suci. Dianggap sebagai saudara, orang-orang yahudi disambut dengan tangan terbuka oleh umat islam. Atas nama kemanusiaan dan persaudaraan, umat islam rela membantu saudara mereka. Akan tetapi sejalannya waktu, umat islam harus menerima sikap semena-mena lagi dari orang non-muslim. Sampai saat ini pun umat islam masih dalam jajahan tamu mereka sendiri.
Masih teringat kisah Khalifah Umar ra ketika berkunjung ke kota suci Yerussalem. Sebagai pemimpin umat islam, para rahib dan pembesar Yerussalem berpikir tentang besarnya kekuatan islam pada saat itu, terbayang dalam benak mereka semua seorang raja berbaju mewah berhiaskan sutra. Namun apa yang mereka saksikan malah sebaliknya, baju yang penuh dengan tambalan itu dipakai seorang pemimpin besar umat islam. Apa hal ini tidak mempermalukan islam?, tanya pengawalnya, namun bagi Khalifah Umar ra kemuliaan itu bukan dipakaian, akan tetapi di hati.
Khalifah Umar versi lawas adalah seorang parlente dengan segenggam prestasi jahiliyahnya. Terkenal sebagai pegulat tak terkalahkan dan ditakuti oleh semua orang pada masa itu, namun ia harus tersungkur nan tertunduk di bawah indahnya kalam ilahi. Bagaimana pun hal itu tak lepas dari betapa Nabi Muhammad Saw berdoa kepada Allah meminta agar salah satu dari dua orang yang paling memusuhinya mendapat hidayah.
            Nilai-nilai yang tercemin dari sejarah tersebut telah memberikan satu bukti konkret bahwa peletak batu pertama agama ini adalah manusia yang luar biasa. Nabi Muhammad Saw bukanlah sosok yang berang-angan tinggi, tapi beliau adalah sosok yang berbuat dengan langkah pasti. Memberi contoh teladan yang baik, dan juga mencetak generasi emas yang kelak akan menyebarkan nilai kedamaian yang dimiliki agama Islam.

Sabtu, 07 Desember 2019

Sultan Mahmud Al-Fatih

               Salah satu tokoh besar yang hingga kini sosoknya menjadi teladan banyak umat adalah Sultan Mahmud Al-Fatih. Atas keyakinan beliau terhadap sabda Nabi Muhammad Saw tentang penaklukkan Konstantinopel –yang sekarang adalah Turki-, mendorong beliau untuk ikut serta menjadi orang yang disabdakan Nabi Muhammad Saw. Sebagai pemimpin terbaik yang memimpin pasukan terbaik pula.
            Sultan Mahmud Al-Fatih bukan hanya menorehkan prestasi –karena telah menaklukkan Konstantinopel- akan tetapi juga karena beliau melakukan hal itu di usia yang sangat muda, 21 tahun. Menggantikan posisi ayahnya pada usia 18 tahun, selama tiga tahun kemudian mempersiapkan segala suatunya untuk mewujudkan sabda Nabi Muhammad Saw dan menjadi bagian dari pelaku sejarah.
            Dikisahkan bahwa Sultan Mahmud Al-Fatih menjalani pendidikannya sedari kecil. Karena beliau adalah anak yang bandel lagi nakal, banyak sekali guru-guru yang tidak mampu mendidik beliau. Sampai suatu ketika ada seorang guru yang mampu membuat Mahmud kecil tertunduk karena ketegasan beliau. Dan dari didikan beliaulah Mahmud kecil menjelma menjadi Sultan Agung penakluk Konstantinopel.
            Terekam dalam sejarah ketika hendak melaksanakan shalat jumat pertama di tanah Konstantinopel setelah penaklukkan. Ketika semua orang berdiri dan kebingungan untuk menunjuk orang menjadi imam, sang sultan bertanya kepada semua jamaah waktu itu. “Siapa di antara kita yang pernah terlawat shalat lima waktu?, maka hendaknya ia duduk!”, tidak ada seorang pun waktu itu yang duduk, artinya tidak ada di antara mereka yang pernah meninggalkan shalat fardlu. Kemudian beliau bertanya kembali, “Siapa di antara kita yang pernah terlawat shalat sunnah rawatib?, maka hendaknya ia duduk!” maka setengah jamaah kala itu duduk duduk. Beliau melanjutkan pertanyaan, “Siapa di antara kita yang pernah terlawat shalat tahajjud?, maka hendaknya ia duduk!”, seluruh jamaah waktu itu duduk dan hanya tersisa sang sultan yang berdiri. Dari itulah tanda bahwa beliau tidak pernah terlewat shalat tahajjud, terlihat pula pasukan beliau ada pasukan yang tidak pernah melewatkan shalat fardlu. Inilah cerminan pasukan dan pemimpin yang sesuai dengan sabda Nabi Muhammad Saw, “sebaik-baiknya pemimpin waktu itu adalah pemimpinnya, dan sebaik-baiknya pasukan waktu itu adalah pasukannya”.

Jumat, 06 Desember 2019

Awal Perjuangan Ustadz Jamal

Pada saat sujud air mata saya menetes karena mengingat uang pondok yang belum saya bayar selama 6 bulan, hingga akhirnya sujud saya berakhir dengan tendangan muallim lantaran jamaah sudah salam sedangkan saya masih sujud karena tertidur”, sepenggal kata yang Ust. Jamal sampaikan kepada santri baru dalam rangka untuk memberi motivasi semangat menghafal.
            Ust. Jamal adalah alumni Mahad tahfidz Al-Quran Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, selama tujuh tahun beliau menempuh studinya di ranah para penghafal Al-Quran, sedari SMP sampai SMA. Karena dinilai belum mampu membaca Al-Quran dengan baik, beliau harus duduk di kursi Tamhidi (kelas persiapan) selama setahun, oleh karena itu mengapa Ust. Jamal menjalani pendidikannya selama tujuh tahun. Walau demikian beliau menjadi lulusan yang diberi nikmat bisa melanjutkan studinya di Brunei Darussalam hingga Qatar.
            Banyak bercerita tentang kenikmatan selepas dari pondok pesantren, bukan berarti beliau ingin memberi tahu bahwa menghafal al-Quran akan mendapat banyak kenikmatan di dunia, akan tetapi dari cerita kenikmatan itu beliau ingin mengekspresikan bahwa Allah masih menyimpan banyak kenikmatan di Akhirat bagi mereka yang menjadi bagian dari keluarga-Nya.
Langkah pertama selalu menjadi langkah berat untuk ditempuh, sebagaimana awal mula mendorong mobil yang mogok, awal mula mendorong mobil itu amat sangat menyusahkan, namun ketika mobil telah bergerak maka mendorongnya pun tak seberat sebagaimana awalnya. Masa-masa awal Ustadz Jamal dalam menghafal al-Quran tidaklah semudah seperti terlihat beliau membacakan ayat-ayat al-Quran atau pun tidak selancar sebagaimana saat beliau berpidato bahasa arab. Di masa awal tersebut beliau hanya mampu menghafal tiga ayat awal surat an-Naba’, namun sejalannya waktu di akhir masa-masa beliau menghafal, beliau mampu menghafal 1 juz dalam sehari.
Kilas balik kehidupan dan perjuangan Ustadz Jamal hampir mirip dengan kisah awal Nabi Muhammad Saw ketika menerima wahyu pertama. Dalam Sirah Nabawiyah Nabi Muhammad mengalami demam hebat, rasa ketakutan yang kuat, dan gemetar yang dahsyat, hingga beliau pulang ke rumah dan meminta istri tercintanya Khadijah untuk menyelimutinya. Ini lah tanda bahwa al-Quran adalah kitab yang menyimpan kekuatan besar bagi siapa saja yang menerimanya. Hal tersebut sama seperti ketika Allah membebani amanat kekhalifahan kepada makhluknya, bahwa amanat tersebut amat sangat berat hingga tidak ada yang menerima amanat tersebut melainkan manusia. Sebagaimana firman Allah Saw dalam surat al-Ahzab ayat 72,

إِنَّا عَرَضْنَا الأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَالجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا ؤَحَمَلَهَا الإِنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُوْمًا جَهُوْلاً


Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, akan tetapi semuanya enggan untuk memikil amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya, lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zhalim dan sangat bodoh” (Q.S. al-Ahzab:72)
            Menjaga al-Quran berarti  menjadi bagian dari keluarga Allah di bumi, pula menjadi  agen-Nya untuk menyebarluaskan nilai-nilai yang dikandung al-Quran dalam bentuk perbuatan, perkataan, dan juga energi positif yang terpancar dari kejernihan hatinya. Hal tersebut telah tercerminkan dari sosok Nabi Muhammad Saw, yang mana hanya dengan duduk bersamanya hati memunculkan rasa cinta.
             Jejak-jejak perjuangan Nabi Muhammad Saw telah ditiru oleh sekian banyak umatnya, bahkan beberapa tokoh yang notabenenya adalah non-muslim pun sangat mengagumi sosok beliau. Bukan hanya akhlaq, akan tetapi semua tutur katanya memberi keyakinan kuat kepada umat pasca sepeninggalannya.

Rabu, 04 Desember 2019

The Series #2 How To Be a Good Parent

Antara Warisan dan Kekuatan


            Aku termasuk diantara anak yang tidak suka ditinggali oleh orang tuaku dengan sekian banyak harta, sebut saja warisan. Bagiku, warisan adalah beban yang harus disampaikan oleh orang tua dan harus diterima oleh anaknya, lebih lagi ketika warisan sudah di tangan anak, maka secara otomatis anak harus bertanggungjawab untuk mengelola. Hal ini sama saja dengan memberi beban tambahan kepada anak, karena pada esensinya harta adalah beban tatkala melebihi dari kebutuhan.
            Mari membahas tentang esensi dari harta, agar lebih mudah untuk menganalogikannya, samakan harta dengan baju, semakin banyak baju yang kita miliki maka semakin banyak pula ruang untuk menampungnya, tambahan ruang itu secara otomatis juga menuntut kita untuk menambah biaya, beda lagi ceritanya ketika kita harus secara rutin mencuci baju-baju kotor, tentu ada biaya tambahan lagi. Pada intinya semakin banyak baju yang kita miliki, maka semakin bertambah pula beban yang akan kita hadapi. Apakah esensi atau fungsi dari baju?, bukankah sekedar untuk keperluan sandang saja, jikalau memang butuh baju untuk bergaya, maka apakah harus bertumpuk-tumpuk banyaknya?, dan apakah semua baju yang kita miliki itu akan terpakai, atau malah hanya menunggu antri dipakai?. Sama lah halnya dengan harta, semakin banyak maka semakin menyusahkan.
            Mari kita kembali pada motivasi orang tua memberikan warisan, mungkin akan terbagi-bagi menjadi 3 hal, 1) Warisan diberikan dalam rangka melanjutkan kepemilikan, seperti tanah atau perusahaan dan lain-lain, kasus ini ketika harta orang tua terlalu melimpah ruah sampai tak tau mau dikemanakan, 2) Warisan diberikan kepada anak karena kebutuhan anak, biasanya karena anaknya sedang membutuhkan dan kekurangan, 3) Warisan diberikan karena orang tua khawatir atau sekedar berjaga-jaga agar anak tidak kesulitan. Aku sangat yakin untuk kasus yang pertama, tidak begitu banyak ada karena memang orang yang kaya raya juga gak banyak atau malah sangat jarang, yang sering ada dan banyak itu seperti kasus kedua dan ketiga.
            Pada dasarnya tujuan dari orang tua mengapa begitu memikirkan kelanjutan hidup anaknya adalah karena sifat alami orang tua itu sendiri. Masa depan anak adalah sebagian dari tanggungjawab orang tua, kebahagiaan anak juga menjadi beban orang tua. Maka jika kita kembali kepada tujuan sebelumnya dan melihat sifat alami orang tua, setidaknya kita sudah punya benang merah, yaitu karena ingin anaknya baik-baik saja dan kalau bisa sukses ke depannya, maka caranya adalah ditinggalkannya warisan. Tapi bagiku, meninggalkan warisan masih salah satu cara dan itu bukan yang terbaik.
            Aku percaya bahwa teman-teman sering mendengar kasus pertikaian antar saudara karena masalah warisan, rebutan gono-gini peninggalan orang tua, dan tak jarang berujung pertumpahan darah. Aku tak perlu memberi contoh real, tapi cukup mengingatkan saja, bahwa harta warisan itu beban, jangan terlalu berharap apalagi senang. Tapi, bagaimana kalau dia anak tunggal?....
Bayangkan saja, ketika harta yang diwariskan melimpah ruah sedangkan anak yang menerima tidak memiliki kemampuan mengatur uang, atau malah anak tidak memiliki tanggungjawab, walaupun dia anak tunggal, kira-kira apa yang akan terjadi?. Sama halnya dengan menyuruh orang menjadi sopir bus padahal dia belum bisa menyetir, sama halnya menyuruh orang menjadi nahkoda tapi naik perahu saja tidak pernah.
Harta pada dasarnya dihadirkan untuk memenuhi kebutuhan, jikalau lebih maka itu sifatnya bisa berjaga-jaga, bolehlah untuk investasi dan dikembangkan. Tapi jika hadirnya harta tidak diimbangi dengan kemampuan dan tanggung jawab, maka akan timbang dan menjadi beban. Aku rasa orang tua tidak perlu repot-repot berpikir harta apa yang diwariskan, hendaknya orang tua berpikir bagaimana mendidik anaknya berkemampuan dan bertanggung jawab.
Jadi sekarang bagi kalian kawan-kawanku calon orang tua, lebih memilih meninggalkan harta menjadi warisan atau mendidik anak hingga menjadi kekuatan (kemampuan dan tanggung jawab)?. Jikalau berpikir memilih kekuatan maka persiapkanlah mulai sekarang, jangan menunggu sudah menikah baru belajar, karena ilmu hanya akan menjadi hiasan jika sekedar diketahui dan tidak menjadi bagian diri, dan cara menjadikannya bagian diri adalah dengan diaplikasikan. Let’s start from now!!
           

Selasa, 03 Desember 2019

The Series #1 How To Be a Good Parent


Mendengar bukan untuk menjawab, tapi untuk memahami!
check this picture on @fadhilachmadfaab

             Judul ini aku ambil sebatas ingin mengingatkan kepada semua calon orang tua, kalian semua kawan, belajarlah menjadi kawan pendengar yang baik, menemani setiap langkah kehidupan putra-putrinya, sehingga kita dapat mendampingi setiap detik kehidupan mereka.
            Tentu tidak semudah digaungkan, ajakan untuk belajar menjadi pendengar yang baik tidak semudah isapan jempol, berbeda dengan mendengar lagu atau menyimak film, mendengarkan orang bercerita, kadang membuat kita merasa gemes untuk menanggapinya, betulkan!?. Untuk beberapa orang yang sudah punya kemampuan ini, berbahagialah, kalian tinggal mengembangkannya dan melengkapinya dengan kemampuan memberi solusi.
            Sejauh yang pernah aku rasakan, faktor terbesar yang buat kita gak bisa menahan untuk menanggapi itu adalah saat kita merasa tau kondisi seeorang, merasa tau solusi terbaik untuk dia dan parahnya merasa bahwa dia dalam kondisi yang salah, padahal merasa-merasa itu sejatinya adalah subjektif kita dalam menilai, tentu tidak selamanya memiliki kepastian dan tidak selamanya benar.
            Mari kita merenungi masa pertumbuhan manusia, mulai dari perut hingga besar seperti sekarang. Pernahkah teman-teman memahami mengapa di awal masa kecil kita bibir tak bisa berbicara, mata bahkan tak melihat, hanya gelapnya dunia rahim dan suara dari luar yang kita rekam. Saat kita beranjak menjadi bayi, dalam bopongan orang tua, yang banyak aktif adalah pendengaran kita, bibir masih bersuara tapi tak dapat dipahami, bisanya hanya menangis dan meronta-ronta.
            Kedua masa tadi setidaknya memberikan kita satu pelajaran bahwa, manusia pun ketika hendak memulai kehidupan sebenarnya, harus melewati masa-masa mendengar, harus banyak menyimak, harus menggunakan pendengarannya untuk memulai memahami, bukan sekedar mendengar lantas berbicara. Bayi mendengar dalam rangka untuk memahami apa yang orang lain katakan, lantas kemudian bisa berbicara.
            Sama halnya dengan bayi, kita sebagai calon orang tua, harus bisa memahami apa yang disampaikan atau ceritakan sama anak kita, tidak sekedar kita menilai dan memberi nasehat, akan tetapi memahami kondisi dan apa yang tengah dirasakannya. Intinya adalah mendengar itu bukan untuk menanggapi, tetapi mendengar untuk memahami.